Ekonomi

Indonesia Bangun Silicon Valley, Ekonom: Jangan Sampai Jadi Bandara Kertajati Jilid Dua!

Jangan sampai pembangunan Silicon Valley ala Indonesia menjadi proyek mangkrak seperti Bandara Kertajati


Indonesia Bangun Silicon Valley, Ekonom: Jangan Sampai Jadi Bandara Kertajati Jilid Dua!
Fakta menarik Silicon Valley (wikipedia.org)

AKURAT.CO, Kepala Center of Innovation and Digital Economy, Indef Nailul Huda menegaskan jangan sampai pembangunan Silicon Valley ala Indonesia atau yang bernama Bukit Algoritma di Sukabumi menjadi proyek mangkrak bertahun-tahun seperti Bandara Kertajati atau yang saat ini diisukan sebagai proyek bandara komersial yang hanya menjadi bengkel pesawat.

Awalnya Huda memberikan 3 catatan kehaluan bernama bukit Algoritma. "Kenapa saya sebut kehaluan? Karena ada beberapa catatan yang tidak bisa menunjang pembangunan Silicon Valley secara inklusif, malah bisa jadi eksklusif dan menjadi serangan balik bagi ekonomi nasional," ujarnya dalam sebuah diskusi virtual, Kamis (15/4/2021).

Adapun ketiga poin utama tersebut diantaranya pertama, ekosistem R&D di Indonesia masih sangat rendah dimana terdapat kondisi 1.) Proporsi dana R&D terhadap PDB masih rendah, 2.) Produk high tech Indonesia masih sangat sedikit, 3.) kebijakan insentif fiskal tidak optimal.

Kedua, sumber daya manusia (SDM) yang masih belum mencukupi untuk masuk ke dalam industri 4.0 dan ketiga yaitu ktimpangan digital masih tinggi dalam hal skill dan penggunaan produk digital.

Huda menambahkan, selain 3 poin utama ini masih ada beberapa poin yang bersifat penunjang salah satunya bahwa ekosistem R&D yang dibuat di Silicon Valley ternyata tidak mengedepankan BUMN yang bergerak di bidang LCT. Namun justru perusahaan pelat merah dibidang konstruksi.

" Disinilah pokok masalahnya, dimana kita liat Silicon Valley pertama di Amerika yang dibangun pertama kali bukan temoatnya tapi industrinya. Dimana industri yang dibangun adalah yang high tech yang berainggungan langsung dengan pemerintah. Nah di Indonesia ini kebalikannya, yang dibangun fisilnya dulu bukan teknologi dulu," tegas Huda.

Kedua, tidak adanya keterkaitan (linkage) ke Universitas padahal letak Sukabumi relatif jauh dari Jakarta dan kota-kota yang bisa menyediakan sumber daya manusia (SDM) mahasiswa yang bisa memanfaatkan Silicon Valley.

" Ketiga, letak dari Sukabumi sendiri yang terdapat di selatan Jawa yang relatif lebih rawan terhadap bencana alam sepetti gempa dan sebagainya. Dimana kebutuhan data center yang kuat bisa terkendala dengan adanya bencana tersebur. Padahal data center salah satu tulang punggung dari pembangunan teknologi," tuturnya.

Berdasarkan tiga hal itu, maka Huda menyimpulkan bahwa Bukit Algoritma ini hanya program pembamgunan secara fisik namun tidak mengangkat konteks inovasi. Hal itu lantaran BUMN yang dilibatkan dalam pembangunan Silicon Valley ala Indonesia ini juga bukan dari sektor ICT melainkan konstruksi.

Prabawati Sriningrum

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu