Ekonomi

Indikator Penegakan Kontrak Masih Rendah Padahal Syarat Mutlak Berinvestasi


Indikator Penegakan Kontrak Masih Rendah Padahal Syarat Mutlak Berinvestasi
Bus Transjakarta melintas di jalan layang dengan latar belakang gedung bertingkat Ibu Kota Jakarta di area perkantoran Jakarta, Kamis (15/3). Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPM-PTSP) DKI Jakarta akan menargetkan realisasi investasi mencapai Rp100 triliun. Sebelumnya, pada 2017 lalu, realisasi investasi di Kota Jakarta mampu menembus hingga Rp108,6 triliun atau melebihi target yang telah ditentukan, yaitu sebesar Rp55 triliun (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menyatakan, kelemahan utama Indonesia terkait kemudahan berusaha (ease of doing business/EODB) adalah dalam hal penegakan kontrak (enforcing contracts) yang menduduki peringkat 66 dunia. Peringkat tersebut masih tertinggal jauh dibandingkan negara-negara tetangga.

Ketua Umum Kadin Indonesia Rosan P Roeslani mengatakan, indikator penegakan kontrak dalam EODB merupakan isu utama di dalam investasi. Pasalnya, ini merupakan suatu kepastian hukum yang menjadi syarat mutlak bagi pengusaha untuk berinvestasi di suatu negara.

"EODB kita yang paling rendah adalah enforcing contract, that's the first issue kita yang paling berat," ucapnya dalam sebuah diskusi di Jakarta, Selasa (16/7/2019).

Rosan menerangkan, apalagi belakangan santer diberitakan bahwa Indonesia sama sekali tidak menikmati dampak positif dari adanya perang dagang antara Amerika Serikat (AS)-Cina. Terutama bila dibandingkan dengan Vietnam, Bangladesh, Malaysia, dan Thailand.

Padahal, jika merujuk merujuk pada daftar EODB, Indonesia sudah mengalami perbaikan dengan menduduki peringkat ke-73. 

"Vietnam enggak jauh dari kita. Tapi kenapa investasi Vietnam begitu cepat naiknya? Karena memang di sana kepastian lebih jelas dari segi hukum, tanah dan lainnya," jelasnya.

Namun demikian, Rosan mengakui di tengah kecamuk perang dagang, ada beberapa sektor yang mengalami kemunduran, namun ada juga yang mengalami kemajuan.

"Dari segi ekspornya memang kalau kita lihat, AS sebagai partner dagang terbesar kita. China 15 persen, AS 11 persen, pasti akan ada dampak dari dagang maupun investasi," pungkasnya. []