Ekonomi

India Larang Ekspor Gandum, Terjadi Krisis Pangan?

Melansir dari Reuters, Minggu (15/5/2022), langkah pelarangan pengiriman ke luar negeri tidak selamanya dan dapat direvisi.


India Larang Ekspor Gandum, Terjadi Krisis Pangan?
Ilustrasi petani sedang melakukan proses pemanenan dilahan pertanian gandum (REUTERS/Jim Young)

AKURAT.CO, India melarang ekspor gandum mulai Sabtu (14/5/2022) setelah menyatakan pihaknya menargetkan pengiriman rekor tahun ini, karena harga domestik mencapai rekor tertinggi.

Pemerintah mengatakan masih akan mengizinkan ekspor yang didukung oleh letter of credit yang sudah dikeluarkan dan ke negara-negara yang meminta pasokan guna memenuhi kebutuhan ketahanan pangan mereka.

Melansir dari Reuters, Minggu (15/5/2022), langkah pelarangan pengiriman ke luar negeri tidak selamanya dan dapat direvisi. Hal tersebut dikatakan langsung oleh pejabat senior pemerintah India pada konferensi pers.

baca juga:

Negara lain telah mengandalkan pasokan dari produsen gandum terbesar kedua di dunia setelah ekspor dari wilayah Laut Hitam anjlok menyusul invasi Rusia 24 Februari ke Ukraina. Sebelum pelarangan tersebut terjadi, India telah menargetkan rekor pengiriman 10 juta ton tahun ini.

Para pejabat India menambahkan bahwa tidak ada penurunan dramatis dalam produksi gandum tahun ini, tetapi ekspor yang tidak diatur telah menyebabkan kenaikan harga lokal.

"Kami tidak ingin perdagangan gandum terjadi dengan cara yang tidak diatur atau terjadi penimbunan," kata sekretaris perdagangan BVR Subrahmanyam kepada wartawan di New Delhi.

Meskipun bukan salah satu pengekspor gandum utama dunia, larangan India dapat mendorong harga global ke puncak baru mengingat pasokan yang sudah ketat, memukul konsumen miskin di Asia dan Afrika dengan sangat keras.

"Larangan itu mengejutkan. Kami mengharapkan pembatasan ekspor setelah dua hingga tiga bulan, tetapi sepertinya angka inflasi mengubah pikiran pemerintah,” kata seorang dealer yang berbasis di Mumbai dengan sebuah perusahaan perdagangan global.

Naiknya harga makanan dan energi mendorong inflasi ritel tahunan India mendekati level tertinggi delapan tahun di bulan April, memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral akan menaikkan suku bunga lebih agresif.