News

Inaplas Keberatan Rencana Pelabelan BPA di Kemasan Pangan, Ini Alasannya

Inaplas keberatan terkait wacana BPOM yang akan mengeluarkan kebijakan pelabelan AMDK kemasan plastik proses pembuatannya menggunakan aditif BPA. 


Inaplas Keberatan Rencana Pelabelan BPA di Kemasan Pangan, Ini Alasannya
Ilustrasi Galon Air (Shutterstock)

AKURAT.CO Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) menyatakan keberatan terkait adanya wacana Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang akan mengeluarkan kebijakan soal pelabelan air minum dalam kemasan (AMDK) kemasan plastik yang dalam proses pembuatannya menggunakan aditif BPA.

Ketua Umum Inaplas, Edi Rivai mengatakan, dalam wacana kebijakan berbau diskriminatif itu, BPOM diduga akan mewajibkan kemasan galon Polikarbonat (PC) yang mengandung BPA untuk mencantumkan keterangan “Bebas BPA dan turunannya” atau “Lolos batas BPA” atau kata semakna.

Menurut Edi, pencantuman label itu jelas-jelas akan menambah biaya produksi bagi industri.

“Dengan pelabelan itu tentunya akan menambah biaya produksi. Saat ini, di produksi kemasan galon PC itu kan sudah diberikan kode recycle material kode 7,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima, Jakarta, Rabu (15/9/2021).

Seperti diketahui, industri plastik merupakan sektor manufaktur yang dinilai masih memiliki peluang pasar cukup besar. Produk yang dihasilkan dari sektor tersebut sangat vital, karena dibutuhkan sebagai bahan baku untuk beragam industri lain dari hulu sampai hilir.

Data Kemenperin menyebutkan Indonesia membutuhkan bahan baku plastik hingga 7 juta ton per tahun, sedangkan yang bisa disuplai dari dalam negeri baru 2,3 juta ton.

Sebagaimana diketahui, dalam setiap produksi kemasan plastik, pasti digunakan aneka zat aditif yang memiliki konsekuensi jika tertelan. Jika zat aditif dalam pembuatan produk plastik polikarbonat menggunakan bisphenol A, jenis plastik lain seperti Polyethilene Terephtalat (PET) dalam proses pembuatannya juga menggunakan zat aditif Acetyldehide (Alkanal) yang juga diduga bersifat karsinogenik (bisa menyebabkan kanker) jika terkonsumsi dalam jumlah sangat besar. 

Kemenperin dan BPOM mengizinkan penggunaan PC dan PET sebagai kemasan air minum. 

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (GAPMMI) Adhi S Lukman mengatakan masih menunggu BPOM terkait kabar mengenai wacana pelabelan tersebut. “Karenanya, saya berharap BPOM secepatnya mengundang GAPMMI untuk membahas wacana kebijakan tersebut,” katanya.