Ekonomi

Impor Beras Tak Pas, Pemerintah Sebaiknya Mengakui Ada Kesalahan Komunikasi

Kebijakan rencana impor beras hingga 1 juta ton di tengah musim panen raya sangatlah tidak pas


Impor Beras Tak Pas, Pemerintah Sebaiknya Mengakui Ada Kesalahan Komunikasi
Para pekerja saat mengangkut beras lokal kualitas super dari dalam truk untuk dinaikan kedalam kapal pinisi yang didistribusikan ke Bangka Belitung di Pelabuhan Sunda Kelapa, Jakarta Utara, Selasa (11/9/2018). Pemerintah melalui kementrian perdagangan telah mengeluarkan tiga kali izin impor beras dari Thailand kepada Bulog. Pertama pada bulan Januari sebanyak 500 ribu ton, kemudian fase kedua 500 ribu dan saat ini sebanyak 1 juta ton. Sehingga, total izin impor yang telah dikeluarkan Kemendag be (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI) Khudori menilai kebijakan rencana impor beras hingga 1 juta ton di tengah musim panen raya sangatlah tidak pas. Sehingga, menimbulkan banyak sekali polemik dari berbagai kalangan.

Menurutnya risiko semacam ini sebetulnya tidak akan terjadi, kalau pemerintah ketika menjelaskan akan melakukan impor itu didasari dengan kalkulasi yang matang serta alasan- alasan yang rasional.

"Jika kita lihat dari sisi waktu. Saya kira sekarang itu sangatlah tidak tepat untuk melakukan impor. Sebab kalau kita ikuti dari tiga siklus panen yang ada di produksi padi, itu kan panen musim pertama itu kira-kira di bulan Februari sampai Mei dengan perkiraan produksi sebesar 60 sampai 65% dari produksi nasional. Sedangkan panen kedua itu akan berlangsung dari Juni sampai September itu produksinya kira-kira 30 sampai 35% dari produksi nasional baru sisanya musim panceklik," bebernya pada saat seminar web Narasi Institute di Jakarta, Jumat (26/3/2021).

Lebih lanjut Khudori menjelaskan kalau mengacu kepada tiga siklus panen ini, sebetulnya waktu yang paling ideal untuk menentukan apakah harus impor atau tidak yaitu di bulan Agustus atau September. Mengingat ketika sudah memasuki bulan Agustus atau September itu, sudah tahu realisasi musim panen rayanya yaitu di bulan Februari sampai Mei.

Setidaknya jika eksekusinya di bulan Agustus atau September, maka realisasinya paling tidak sudah mencapai 75%.

" Dari penempatan ataupun pengambilan momentum saat ini pun tidak pas, saya kira satu-satunya solusi untuk mengakhiri polemik impor beras ini ya, pemerintah harus tegas minta maaf saja dan mengakui bahwa adanya salah komunikasi," ucapnya.

Menurutnya saat ini sangatlah blunder, seharusnya pemerintah belajar dari tahun-tahun sebelumnya apalagi menyampaikan sebuah kebijakan yang sangat sensitif seperti impor beras.

"Jadi Merak harus betul-betul clear dan pas dalam menentukan suatu kebijakan yang dinilai sangat strategis seperti ini agar tidak menimbulkan kontroversi. Jadi sampaikan saja bahwa pemerintah salah dalam berkomunikasi bahwa impor itu masih menjadi opsi tapi eksekusinya diputuskan, nanti kira-kira bulan Agustus atau September apakah kita benar-benar butuh impor atau tidak.[]