News

Ini Imbauan Ketum Muhammadiyah Soal Belanja Lebaran Hingga Larangan Mudik

Kegiatan ibadah yang melibatkan kerumunan juga sebaiknya dihindari


Ini Imbauan Ketum Muhammadiyah Soal Belanja Lebaran Hingga Larangan Mudik
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir (Twitter Haedar Nashir)

AKURAT.CO, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir menilai membludaknya pusat-pusat pembelanjaan jelang Idul Fitri merupakan hal yang lumrah jika saat kondisi tanpa pandemi COVID-19, yang juga sudah menjadi ciri khas masyarakat di negeri ini ketika menyambut Hari Raya. 

"Hal serupa terjadi ketika Natal dan Tahun Baru. Namun menjadi tidak normal dan mengkhawatirkan karena saat ini pandemi Covid-19 belum juga reda," kata dia sebagaimana dikutip AKURAT.CO dari Twitter @HaedarNs pada Minggu (9/5/2021). 

Haedar Nashir berkaca dari kasus di India. Di mana mengalami gelombang besar corona fase kedua bahkan menjadi kecemasan dunia, sampai banyak negara menutup kunjungan dari negeri Asia Selatan tersebut.

"Malaysia menyusul lonjakan Covid-19 yang tinggi. Apalagi dengan informasi adanya Covid-19  varian baru. Bila penularan Covid-19 meningkat lagi, baik di dunia maupun di Indonesia, maka akan semakin berat beban kehidupan yang harus ditanggung bersama," katanya.

Ia pun mengingatkan setahun wabah Covid-19 dampaknya sangat luas, tidak kecuali dampak ekonomi. 

"Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data jumlah penduduk miskin pada September 2020 sebesar 27,55 juta orang," ujarnya.

Betapa berat beban hidup saudara-saudara sebangsa yang mengalami derita hidup serba berkekurangan dan keterbatasan,  hanya untuk memperoleh sesuap nasi setiap hari pun sungguh berat, meski mendapat bantuan sosial.

"Mari kita berempati dan peduli pada saudara-saudara sebangsa yang terpapar Covid-19 dengan kondisi psikologisnya. Apalagi bagi yang meninggal dan keluarga yang kehilangan orang-orang tercinta, sungguh berat tak dapat dibayangkan beban musibahnya," kata dia.

Demikian pula dengan beban para dokter, tenaga kesehatan, sukarelawan, dan pengelola rumah sakit yang harus bertugas ekstra keras di garda depan sekaligus menjadi benteng terakhir melawan pandemi yang dahsyat ini.

"Bagi kaum muslim penting menunjukkan suri teladan atau uswah hasanah. Puasa Ramadan bagi setiap muslim dapat dijadikan jalan ruhani pengendalian diri, antara lain tetap waspada dengan wabah Covid-19 dengan tetap mengikuti protokol kesehatan," tuturnya.

Menurutnya, menyambut Idul Fitri boleh dijalani dengan kegembiraan. Tetapi jangan berlebihan dengan belanja dan aktivitas lainnya yang melampaui kemestian, apalagi dengan berkerumun. 

"Idul Fitri harus tetap dijalani sebagai satu rangkaian dengan puasa Ramadan. Lebih-lebih situasi pandemi yang belum reda. Kedepankan kesahajaan, jauhi keberlebihan karena Allah tidak menyukai hamba-hamba yang melampaui batas (QS Al-Maidah: 87)," paparnya.

Selain itu, kegiatan ibadah yang melibatkan kerumunan juga sebaiknya dihindari dan ditempuh cara yang juga dibolehkan syariat Islam di kala darurat. Jangan merasa aman dan terbebas dari pandemi.

"Salat sunnah Idul Fitri pun perlu superhati-hati, kalau tidak memungkinkan sebaiknya dilakukan sangat terbatas di sekitar lingkungan atau di rumah tanpa melibatkan jamaah yang banyak," katanya.

Mengutip sabda Nabi, jauhi hal yang darurat dan yang menimbulkan kedaruratan bagi orang lain. 

"Allah  mengingatkan dalam Al-Quran, jangan menjatuhkan dirimu pada kebinasaan atau kehancuran (QS Al-Baqarah: 195)," katanya.

Selain itu, Pemerintah juga telah melarang mudik. Sebaiknya semua mengikutinya demi mencegah wabah dan mengatasi pandemi agar tidak bertambah luas.[]

Melly Kartika Adelia

https://akurat.co