News

Imbas Pandemi Covid-19, Jumlah Petani di Tanah Air Tumbuh 2 Persen

Pertumbuhan jumlah ini imbas dari banyaknya PHK yang terjadi akibat pandemi Covid-19


Imbas Pandemi Covid-19, Jumlah Petani di Tanah Air Tumbuh 2 Persen
Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Harvick Hasnul Qolbi

AKURAT.CO Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Harvick Hasnul Qolbi mengungkapkan bahwa dampak adanya pandemi Covid-19 berdampak baik pada pertumbuhan jumlah petani, peternak, dan pekebun.

Rupanya, berdasarkan catatan Kementerian Pertanian ada pertumbuhan 2 persen sejak pandemi ini menhantam tanah air pada 2020 lalu. 

Tercatat ada sekitar 3 juta petani baru hingga saat ini yang sebelumnya merupakan pekerja aktif dari berbagai sektor di luar pertanian.

Pertumbuhan jumlah petani ini, diakui Harvick, terjadi akibat maraknya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di masa pandemi, sehingga mereka kesulitan mencari mata pencaharian di sektor lain.

"Akhirnya ramai-ramai mereka alih profesi menjadi petani, pekebun, peternak. Dan keberpihakan pemerintah dalam hal ini, saya menjamin, bahwa kita semua tetap mencari jalan keluar. Apapun yang terjadi kita tetap bersama rakyat kita," ujar Harvick dalam keterangan tertulisnya, Senin (21/6/2021).

Melihat adanya tren pertumbuhan jumlah pekerja pertanian dan perkebunan ini, Wamentan Harvick ingin mempromosikan profesi ini agar lebih menyetuh kaum milenial.

Keinginan ini sejalan dengan seperti yang diharapkan oleh Presiden Joko Widodo, dimana salah satu penunjang agar profesi ini menarik, yakni jaminan income dari hasil petani itu sendiri.

Selain itu juga perlu melakukan upaya-upaya promosi bidang pertanian. Misalnya, mempromosikan bahwa menjadi petani itu keren dan modern, sehingga muncul petani-petani yang berdasi, koperasi yang bisa membentuk korporasi, dan sebagainya.

"Itu semua akan akan terjamin tentu jika semua sektor yang menunjang pertanian itu bisa kita atasi, mereka trust soal pengadaan pupuk, penyuluhan, modernisasi alat mesin pertanian, dan lain-lain," tuturnya.

Terkait masalah imbas pandemi terhadap sektor tenaga kerja, Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) mencatat hingga 31 Juli 2020 lalu, jumlah pekerja yang terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) maupun dirumahkan mencapai 3,5 juta lebih.

Pandemi virus corona juga menyebabkan tantangan pembangunan ketenagakerjaan menjadi lebih kompleks. Dampak perekonomian yang disebabkan oleh pandemi pada akhirnya juga berimbas kepada para pekerja.

Terutama yang berada di 4 sektor utama perekonomian Indonesia yaitu pariwisata, perdagangan, manufaktur, dan pertanian. 

Oleh sebab itu, salah satu bentuk kerja sama antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam bidang ketenagakerjaan adalah melalui mekanisme dana dekonsentrasi dan tugas pembantuan.[]