News

Imbas Mata Uang Anjlok, Zimbabwe Rilis Koin Emas untuk Alat Pembayaran

Bank Sentral Zimbabwe mengatakan akan mulai merilis koin emas sebagai alat pembayaran yang sah pada akhir Juli.


Imbas Mata Uang Anjlok, Zimbabwe Rilis Koin Emas untuk Alat Pembayaran
Seorang pedagang kaki lima menunjukkan uang kertas di Harare, Zimbabwe, 11 November 2019 (Reuters)

AKURAT.CO  Bank Sentral Zimbabwe mengatakan akan mulai merilis koin emas sebagai alat pembayaran yang sah pada akhir Juli.

Pengumuman itu datang di tengah kondisi negara yang pontang-panting mengendalikan inflasi yang tak terkendali, yang telah sangat melemahkan mata uang lokal.

Menurut The Guardian, tingkat inflasi di negara Afrika itu, pada bulan lalu, meroket hingga lebih dari dua kali lipat, menjadi 191 persen. Situasi ini tak ayal memicu ingatan akan hiperinflasi tahun 2000-an yang membuat dolar Zimbabwe didenominasi ulang hingga tiga kali, sebelum secara efektif ditinggalkan pada tahun 2009.

baca juga:

Gubernur Bank Sentral negara itu, John Mangudya, mengatakan bahwa koin emas akan bertindak sebagai penyimpan nilai. Alat pembayaran baru ini nantinya  juga diharapkan mampu mengurangi permintaan dolar AS, yang telah menjadi fenomena umum menyusul jatuhnya nilai mata uang lokal.

"Koin emas tersebut akan tersedia untuk dijual kepada masyarakat baik dalam mata uang lokal maupun dolar serta mata uang asing lainnya, dengan harga berdasarkan harga emas internasional yang berlaku dan biaya produksi," kata Mangudya dalam keterangannya.

Koin emas Zimbabwe dinamai Mosi-oa-Tunya, yang berarti Air Terjun Victoria. Koin ini dapat digunakan menjadi uang tunai dan diperdagangkan secara lokal maupun internasional.

Menurut Reuters, Mosi-oa-Tunya masing-masing akan berisi satu troy ons emas (setara 31,1 gram), dan akan dijual oleh Fidelity Gold Refinery, Aurex dan bank-bak lokal.

Warga Zimbabwe mengungkapkan perasaan campur aduk atas berita tersebut.

"Saya tidak bisa mempercayai bank sentral untuk memberi saya koin sementara mereka memegang uang saya. Zimbabwe dikenal dengan inkonsistensi kebijakan. Bagaimana jika mereka tiba-tiba bangun dan mengatakan bahwa koin itu tidak lagi dapat diperdagangkan?," kata Evans Mupachikwa, seorang pedagang mata uang asing. 

Imbas Mata Uang Anjlok, Zimbabwe Rilis Koin Emas untuk Alat Pembayaran - Foto 1
 Presiden Zimbabwe, Emmerson Mnangagwa Yasuyoshi Chiba/AFP

Pedagang mata uang asing lainnya, Munesu Mandiopera, mengeluh hal senada. Ia berpendapat, bahwa koin emas yang nilainya mahal, pastinya akan susah dijangkau oleh banyak orang Zimbabwe.

"Emas itu mahal. Saya tidak berpikir banyak dari kita akan mampu membeli koin tersebut. Banyak yang akan terus menyimpan uang mereka di rumah. Ini adalah langkah gagal lainnya, yang diambil oleh pemerintah," ucapnya.

Orang-orang Zimbabwe memiliki hubungan yang tidak nyaman dengan bank sentral dan kebijakannya, karena otoritas moneter terus gagal dalam uji kredibilitas.

Pada tahun 2008, tahun ketika uang kertas USD 100 miliar mulai beredar, warga Zimbabwe kehilangan tabungan mereka termasuk uang pensiun ketika dolar Zimbabwe jatuh. Banyak orang Zimbabwe memilih untuk menyimpan uang di rumah atau di bawah tempat tidur alih-alih pergi ke bank.

Zimbabwe meninggalkan dolar yang dilanda inflasi pada 2009, memilih untuk menggunakan mata uang asing, dengan sebagian besar adalah dolar AS. Pemerintah memperkenalkan kembali mata uang lokal pada tahun 2019, tetapi dengan cepat kehilangan nilainya lagi.

Pekan lalu, menteri keuangan, Mthuli Ncube, mengatakan koin emas 'akan memberi warga nilai lebih'.

Koin emas telah banyak dimanfaatkan oleh para investor internasional sebagai 'pagar pelindung' terhadap inflasi, menurut ekonom Prosper Chitambara.

"Peran utama mereka adalah bertindak sebagai penyimpan nilai tetapi juga bekerja sebagai aset investasi yang berharga. Nilai emas selalu meningkat pada saat ekonomi global mengalami resesi," terang  Chitambara, menambahkan bahwa permintaan dolar AS yang tinggi di Zimbabwe, yang memicu volatilitas nilai tukar, akan melemah karena masyarakat menerima koin emas. 

Namun, Chitambara juga mengatakan intervensi kebijakan moneter baru dari bank sentral Zimbabwe tidak serta merta bisa mengatasi inflasi. Sementara inflasi diperkirakan akan terus melonjak.

"Ini (koin emas) bisa memengaruhi inflasi, tetapi itu bukan obat mujarab untuk masalah inflasi karena inflasi sebagian besar dipicu oleh pertumbuhan uang yang beredar. Ketika ada penyimpan nilai alternatif, depresiasi mata uang lokal akan tertahan," imbuhnya.

Bank sentral Zimbabwe pekan lalu menaikkan suku bunga, yang semula 80 persen menjadi 200 persen. Mereka juga menguraikan rencana untuk membuat tender legal dolar AS selama lima tahun ke depan untuk meningkatkan kepercayaan.

Presiden Emmerson Mnangagwa berhasil mengambil alih kekuasaan dari Robert Mugabe dalam kudeta militer pada tahun 2017. Namun, di bawah pemerintahannya, Zimbabwe telah menyaksikan kemerosotan ekonomi, dan akhirnya memperparah krisis kelaparan yang diikuti oleh curah hujan yang buruk.[]