Ekonomi

Imbas Larang Impor Energi dari Rusia, Sekutu Barat Mulai 'Kelimpungan'

Peneliti Senior Robert Johnston mengungkapkan jika sanksi negara barat untuk Rusia justru menimbulkan masalah untuk negara-negara di dunia.


Imbas Larang Impor Energi dari Rusia, Sekutu Barat Mulai 'Kelimpungan'
Ilustrasi Sektor Energi (wikipedia.org)

AKURAT.CO Eropa dan Amerika Serikat (AS) telah menerbitkan larangan impor minyak dari Rusia. Hal ini dilakukan agar Rusia kesulitan meraup pendapatan dari kegiatan di sektor energi tersebut.

Mengutip dari CNN Internasional, larangan yang mereka lakukan justru menjadi bumerang bagi Eropa dan AS. Mereka terpaksa mencari jalan keluar untuk memberikan rencana lain.

Rusia sebelumnya sudah menghasilkan pemasukan besar dari sektor energi, bahkan tetap tinggi seperti sebelum invasi berlangsung pada akhir Februari lalu. Justru sebaliknya, inflasi justru mengancam sejumlah negara di dunia, khususnya AS dan Eropa.

baca juga:

Peneliti Senior Columbia Center for Global Energy Policy Robert Johnston mengungkapkan jika sanksi negara barat untuk Rusia justru akan menimbulkan masalah untuk negara-negara di dunia.

"Ada alat yang tersedia untuk bekerja lebih keras setelah Rusia, tetapi mereka datang dengan biaya yang signifikan langsung ke konsumen di AS dan Eropa," kata peneliti senior di Columbia Center for Global Energy Policy, Robert Johnston, seperti dikutip dari CNN International, Senin (27/6/2022).

Di lain sisi, Menteri Keuangan Janet Yellen mengtakan bahwa pembatasan harga minyak Rusia, mekanisme kompleks seperti itu mungkin bukan perbaikan yang dicari Barat. Hal ini karena menjadikan pasar terdistorsi dan menurut Jhonston justru banyak solusi yang lebih baik daripada sanksi berkelanjutan.

Beberapa negara Eropa juga akan mengurangi impor tersebut, alih-alih melarang, justru yang terjadi Eropa akan membelinya dengan pengiriman melalui laut, mengingat ketergantungan mereka terhadap energi dari Rusia.

Padahal negara-negara ini menggantungkan pasokan energinya dari Rusia, yang menjadikan ekspor minyak dari negeri beruang merah tersebut turun 3,3 juta barel per hari pada Mei 2022, yang bahkan turun 170 ribu barel per hari dibandingkan bulan sebelumnya.

Memang dasarnya rejeki tidak kemana, naiknya ekspor Rusia ke Asia membantu untuk menutupi sebagian besar kerugian yang timbul itu. Bahkan China 'cuan' besar berkat potongan yang diberikan oleh Rusia.

Sumber: CNN Business