Ekonomi

Imbas COVID-19, Pendapatan Harian KAI Anjlok dari Rp24,2 Miliar ke Rp800 Juta

Imbas COVID-19, Pendapatan Harian KAI Anjlok dari Rp24,2 Miliar ke Rp800 Juta
Suasana sepi tanpa adanya penumpang di Stasiun Kereta Pasar Senen, Jakarta Pusat, Jumat (24/4/2020). Pemerintah resmi mengeluarkan kebijakan pelarangan mudik lebaran 1441 H/2020 M di tengah pandemi COVID-19 mulai hari ini hingga 30 April 2020. Hal tersebut berdampak pada aktivitas di Stasiun Pasar Senen yang sepi penumpang karena keberangkatan atau kedatangan kereta api dari luar kota sudah dibatalkan. (AKURAT.CO/Sopian)

AKURAT.CO, Selama pandemi COVID-19, PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatatkan anjloknya pendapatan harian hingga Rp24,2 miliar atau dari Rp20-Rp25 miliar per hari menjadi Rp800 juta per hari.

“Untuk pendapatan dari penumpang itu rata-rata harian Rp20-25 miliar dalam satu hari. Dalam masa COVID-19 ini, pendapatan harian hanya sekitar Rp800 jutaan,” kata Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Jumat (22/5/2020).

Dia menambahkan selama Januari 2020 total pendapatan dari penumpang Rp39 miliar dan pada April 2020 sebesar Rp32 miliar.

baca juga:

Merosotnya arus kas yang terjadi pada KAI juga dipengaruhi oleh pembatasan kapasitas penumpang kereta baik jarak jauh maupun Kereta Rel Listrik (KRL).

Pasalnya, lanjut dia, kapasitas kereta api jarak jauh hanya diperbolehkan maksimal 50 persen dan KRL 35 persen dari kapasitas semestinya. Ini dalam rangka mengikuti Peraturan Menteri Nomor 25 Tahun 2020 tentang tentang Pengendalian Transportasi Selama Masa Mudik Idulfitri Tahun 1441 Hijriah Dalam Rangka Pencegahan Penyebaran COVID-19, serta Surat Edaran Gugus Tugas Nomor 4 tentang Kriteria Pembatasan Perjalanan Orang dalam Rangka Percepatan Penanganan COVID-19.

Didik juga telah menyiapkan skenario terburuk serta asumsi kinerja apabila COVID-19 bertahan hingga Agustus 2020 dan Desember 2020 mengingat sumber pendapatan dari penumpang tergerus hingga 90-93 persen.

“Terjadi gap terhadap cash biaya turun tidak secara proporsional karena terjadi operational cash flow defisiensi yang terjadi mulai bulan Maret. Kami menyiapkan dana-dana kepada perbankan dalam modal yang cukup. Tapi secara likuiditas masih aman, terjaga dengan baik,” tuturnya.

Pihaknya juga melakukan efisiensi biaya untuk perawatan kereta yang akhirnya dipangkas atau pembayarannya ditunda. “Efisiensi biaya kami lakukan pemotongan terhadap biaya-biaya yang bisa dipotong atau ditunda pembayarannya, seperti perawatan kereta kita bicara sama vendor,” katanya.

Namun, lanjut dia, kereta yang ditunda perawatannya adalah untuk kereta-kereta yang tidak beroperasi, sehingga aspek keselamatan masih tetap terjamin.

“Pada saat beroperasi nanti standar perawatan sarana total mengacu pada SOP agar selamat, aman, nyaman, sehat sampai tujuan. Keselamatan faktor yang utama,” pungkasnya.[]