News

Imbas 9 Orang Tewas, Pasukan Keamanan Sudan Kembali Bentrok dengan Demonstran

Pasukan keamanan Sudan bentrol dengan Demonstran.


Imbas 9 Orang Tewas, Pasukan Keamanan Sudan Kembali Bentrok dengan Demonstran
Demonstrasi di Sudan. (middleeastmonitor.com)

AKURAT.CO Demonstrasi besar-besaran terjadi di Sudan selama beberapa bulan terakhir. Terbaru, pasukan keamanan mengeluarkan gas air mata untuk meredam demonstrasi yang terjadi di dekat Istana Presiden di Khartoum. 

Sejumlah kelompok pengunjuk rasa yang menuntut kembalinya pemerintahan demokratis menyatakan bahwa mereka akan mengorganisir kampanye aksi duduk yang bersifat terbuka dan melakukan berbagai aksi damai lainnya sebagai tanggapan atas kematian 9 orang dalam demonstrasi anti-militer beberapa hari lalu.

Tenaga kesehatan memiliki pendapat yang sama dengan para demonstran. Kedua pihak menyatakan bahwa sembilan orang tersebut tewas setelah ditembak pasukan keamanan di Khartoum serta pasukan keamanan gabungan dari Omdurman dan Bahri. Dewan penguasa Sudan tidak segera menanggapi permintaan untuk berkomentar. 

baca juga:

"Demonstrasi aksi duduk tersebut bisa saja berkembang tetapi kita harus memperkuatnya dengan baik. Mereka yang datang dari Omdurman dapat bergabung dengan aksi duduk kami dan yang lain dari area sekitar juga bisa bergabung," ucap Al-Reda al-Rasheed, salah seorang demonstran. 

Sebelumnya, demonstrasi pada Kamis (30/1) lalu dilakukan setelah lebih dari 8 bulan demonstrasi yang sama digelar untuk melawan deretan pemimpin militer yang menyatakan kudeta pada akhir Oktober lalu. Momen tersebut merupakan akhir dari kesepakatan untuk membagi kekuasaan dengan warga sipil yang telah disetujui pada tahun 2019 lalu ketika Omar al-Bashir tersingkir. 

Di sisi lain, Kepolisian Khartoum menyatakan bahwa pihaknya terpaksa menggunakan gas air mata dan water cannon sekaligus melakukan penangkapan pada Kamis (30/6) lalu setelah sejumlah demonstran melengkapi dirinya dengan batu dan tongkat besi yang digunakan untuk melawan kepolisian. 

Dalam pernyataan tersebut, kepolisian juga menyebutkan bahwa puluhan anggota kepolisian telah mengalami luka-luka, di mana sebagian di antaranya luka serius. Kepolisian juga mengeklaim tidak mendapatkan laporan terkait kematian 6 orang demonstran, menanggapi laporan jumlah korban yang terjadi pada Kamis (30/6) lalu. 

Pada Jumat (1/7) lalu, grup medis Komite Pusat Doktor Sudan, menyatakan bahwa demonstran lain yang mendapat pukulan dari pihak kepolisian ketika berunjuk rasa di ibu kota seminggu sebelumnya, akhirnya meninggal dunia karena berbagai luka yang dideritanya. Hal ini sekaligus menunjukkan bahwa jumlah demonstran yang meninggal dunia sejak kudeta mencapai 113 korban. 

Pengacara HAM juga menyatakan hingga Kamis (30/6) lalu, setidaknya 150 demonstran telah ditangkap. Sedangkan hingga kini, pemerintah yang dipimpin oleh militer tersebut belum kunjung merilis perkiraan jumlah demonstran yang ditangkap maupun tewas. 

PBB, yang diwakili oleh IGAD sebagai mediator, mengutuk keras "penggunaan kekerasan berlebihan oleh pasukan keamanan" pada Kamis (30/6) lalu. 

"Kami sekali lagi memanggil seluruh pihak berwenang untuk melakukan berbagai aksi yang diperlukan untuk menghentikan penangkapan dan penahanan sewenang-wenang, dan menghormati hak atas kebebasan berekspresi dan berkumpul," bunyi pernyataan tersebut. []