News

Imam Gereja Ortodoks Rusia Klaim Tentara yang Gugur Akan Dihapus Dosa-dosanya

Imam Gereja Ortodoks Rusia Klaim Tentara yang Gugur Akan Dihapus Dosa-dosanya
Patriark Kirill dari Moskow dan Seluruh Rusia memimpin kebaktian Natal Ortodoks di Katedral Kristus Sang Juru Selamat di Moskow, 6 Januari 2022 (REUTERS/Maxim Shemetov )

AKURAT.CO  Pemimpin Gereja Ortodoks Rusia telah membuat pernyataan kontroversial tentang invasi negaranya ke Ukraina.

Pasalnya, menurut imam gereja itu, tentara Rusia yang gugur dalam perang melawan Ukraina, semua dosanya akan dibersihkan atau 'dihapus'.

Komentar itu datang hanya beberapa hari usai Presiden Vladimir Putin memerintahkan mobilisasi pertama Rusia sejak Perang Dunia Kedua. Pengumuman Putin itu telah membuat huru-hara di rumahnya.

baca juga:

Patriark Kirill adalah sekutu penting Putin dan pendukung invasi yang dicetuskannya. Kepala Gereja Ortodoks Rusia ini sebelumnya telah mengkritik mereka yang menentang perang dan memanggil warga Rusia untuk berkumpul di sekitar Kremlin.

"Banyak yang sekarat di medan perang mematikan ini. 

"Gereja berdoa agar pertempuran ini akan berakhir secepat mungkin, sehingga sesedikit mungkin saudara akan saling membunuh dalam perang saudara ini.

"Tetapi pada saat yang sama, Gereja menyadari bahwa jika seseorang, didorong oleh rasa kewajiban dan kebutuhan untuk memenuhi sumpah mereka ... pergi untuk melakukan apa yang menjadi kewajiban mereka, dan jika seseorang kemudian meninggal saat menunaikan tugas ini, maka tidak diragukan lagi bahwa mereka telah melakukan tindakan yang setara dengan pengorbanan.

"Mereka mengorbankan diri mereka untuk orang lain. Dan karena itu, kami percaya bahwa pengorbanan ini menghapus semua dosa yang telah dilakukan seseorang," kata Kirill, uskup tertinggi di Gereja Ortodoks, yang berusia 75 tahun, dalam pidato Minggu pertamanya sejak perintah mobilisasi. 

Kremlin telah mengumumkan akan memanggil sekitar 300 ribu tentara tambahan untuk berperang di Ukraina. Namun, mobilisasi itu, bagaimanapun, telah memicu kemarahan publik, dengan protes berhasil pecah di seluruh negeri. Perintah mobilisasi juga setidaknya menciptakan gelombang eksodus para pria Rusia yang usianya layak untuk tugas militer.

Dukungan Kirill untuk perang di Ukraina juga akhirnya memperdalam keretakan antara cabang Gereja Ortodoks Rusia dan sayap Ortodoksi lain di seluruh dunia. Paus Fransiskus, selaku kepala Gereja Katolik, telah menjadi penentang keras perang. Ia muncul untuk memarahi posisi Kirill di beberapa pidato publiknya, termasuk awal bulan ini ketika ia menegaskan bahwa Tuhan tidak mendukung perang, Reuters melaporkan.[]