Olahraga

Ikuti FINA, BWF Pertimbangkan Kompetisi Khusus Transgender

Kategori “terbuka” untuk transgender dan non-biner juga sudah dibicarakan di cabang olahraga hoki, triathlon, bahkan sepakbola.


Ikuti FINA, BWF Pertimbangkan Kompetisi Khusus Transgender
Federasi Bulutangkis Dunia, BWF, menganggap perubahan sistem perhitungan angka dari 21 angka ke sebelas angka akan membuat bulutangkis menjadi lebih menarik. ( ABC.NET.AU)

AKURAT.CO, Federasi Bulutangkis Dunia (BWF) memulai penelitian untuk kebijakan yang bakal melibatkan atlet transgender. BWF menyebut bahwa penelitian dilakukan menyusul hal yang sama dilakukan oleh Federasi Renang Internasional (FINA) yang melarang atlet transgender tampil di kejuaraan elite putri.

“BWF saat ini mengikuti kerangka kerja kebijakan transgender Pemerintah Inggris sebagai panduan untuk mengatur wilayah ini baik di turnamen nasional dan internasional,” kata BWF dalam pernyataannya sebagaimana dipetik dari Reuters.

“Meski demikian, kami mengakui rekomendasi IOC (Komite Olimpiade Internasional) dan telah memulai penelitian olahraga secara spesifik dan proses penilaian dalam rangka untuk membuat keputusan berbasis bukti yang relevan bagi bulutangkis yang sesuai untuk semua hal yang diperhatikan.”

baca juga:

Pada November lalu, IOC mengatakan bahwa tak ada seorang atlet pun yang boleh dikeluarkan dari kompetisi karena perbedaan keunggulan berdasarkan gender. Namun, itu berubah dengan dikeluarkannya kriteria yang membolehkan atlet untuk bertanding.

Isu transgender tampaknya mendapatkan momennya pada tahun ini setelah FINA melarang atlet transgender yang melewati masa pubertas sebagainya laki-laki turun di kompetisi putri. Imbasnya, mereka mempertimbangkan kompetisi kategori baru khusus untuk transgender.

Selain FINA, kategori “terbuka” untuk transgender dan non-biner juga sudah dibicarakan di cabang olahraga hoki, triathlon, bahkan sepakbola. Sementara Federasi Sepakbola Jerman (DFB) membebaskan pesepakbola transgender dan non-biner untuk memilih bermain di kelompok putra atau putri.

“Pada intinya aturan ini mengatakan bahwa para pemain dengan status (gender) pribadi yang ‘beragam’ atau ‘tanpa rujukan’ dan para pemain yang mengubah gender mereka bisa mengambil keputusan mereka apakah niat untuk untuk bermain di tim putra atau tim putri,” kata DFB.

Tahun lalu, atlet transgender asal Selandia Baru, Laurel Hubbard, mencatatkan sejarah sebagai yang pertama dari kelompoknya tampil di olimpiade pada Olimpiade Tokyo 2020. Terlahir sebagai laki-laki, Hubbard tampil di cabang angkat besi kelas 87 kilogram putri.

Sementara di Amerika Serikat, Lia Thomas menjadi perenang transgender pertama yang menjuarai kompetisi nasional antar kampus (NCAA), Maret silam. Ketika itu, Thomas memenangi kategori 500 meter putri.[]