News

Ikan di Teluk Jakarta Beracun Akibat Terkontaminasi Limbah


Ikan di Teluk Jakarta Beracun Akibat Terkontaminasi Limbah
Sebuah kapal melintasi kawasan reklamasi Pulau G di Teluk Jakarta, Senin (9/10). Menko Maritim Luhut B Panjaitan telah resmi mencabut penghentian sementara (moratorium) pembangunan pulau reklamasi di Teluk Jakarta ( ANTARA FOTO/Wahyu Putro A)

AKURAT.CO, Kondisi Teluk Jakarta kian memprihatinkan. Pencemaran limbah membuat ikan yang ada di sekitar Teluk tidak laiak konsumsi, sebagian malah beracun. Hasil riset Forum Komunikasi Ikan Muara Angke, Diding Setiawan mengakui bahwa kondisi laut Jakarta dipenuhi pencemaran. 

Ketua Forum Komunikasi Ikan Muara Angke Diding membenarkan kondisi yang sudah dilevel waspada ini. Diding mengatakan, fakta dilapangan menunjukkan kondisi yang sebenarnya, dengan banyaknya sampah serta limbah. 

"Pencemaran yang terjadi berasal dari pabrik di sekitar Teluk. Proses pembuangan limbah yang langsung menjurus ke laut membuat ikan tidak dapat hidup,"jelas Diding, Kamis (21/2/2019). 

Diding malah menyebutkan, pabrik milik PT Asahimas Flat Glass yang berada dibibir Teluk Jakarta merupakan penyumbang limbah. Pabrik tadi sering membuang limbah disaat hujan deras, sehingga tersamarkan air hujan.

Kini, pihaknya tengah mengumpulkan barang bukti untuk menempuh jalur hukum. Diding mengaku rekan seprofesinya mendukung, dan kini ia sedang menunggu bukti lebih dari lima buah. 

Parahnya lagi, pihak Pemkot Jakarta Utara sudah lama mengetahui hal ini. Kasudin Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Perikanan Jakarta Utara, Rita Nirmala mengaku sudah lama kawasan teluk Jakarta tercemar. 

Meski demikian, Rita membantah bahwa kondisi itu membuat ikan tercemar. Rita menjelaskan, hanya kersng hijau yang harus diwaspadai oleh warga sekitar. Karena, besar dugaan kersng hijau telah terkontaminasi limbah. 

Namun untuk ikan, Rita menampik hal itu. Menurutnya tidak semua ikan disana tercemar, sifat ikan yang mobile membuatnya rentan dari pencemaran lingkungan. 

“Kecuali kerang hijau yah. Saya ngga memungkiri. Kerang hijau disana berbahaya,” ucapnya. 

Disisi lain, Rita sendiri tidak bisa berbuat banyak. Profesi yang menahun membuat para nelayan enggan berpindah profesi. Anehnya usai mencari kerang, mereka enggan memakan sendiri, tapi menjual ke warga. “Karena sifat pencemarannya diatas ambang batas,” tuturnya.

Karenanya untuk mengatasi Teluk Jakarta, tindakan tegas dilakukan terhadap pabrik pabrik yang membuang limbah sembarang dan sampah di Teluk Jakarta. Dengan demikian, upaya sosialisasi dan secara bertahap pihaknya melakukan pengalihan profesi nelayan.

Sejauh ini, kata Rita, upaya itu dilakukan sedikit demi sedikit. Beberapa nelayan mau pindah profesi, tapi ada pula yang kemudian mau pindah mencari lokasi penangkapan ikan.[]