Ekonomi

IHSG Makin Lesu Terserang Corona dan Anjloknya Harga Minyak


IHSG Makin Lesu Terserang Corona dan Anjloknya Harga Minyak
Pekerja memotret pergerakan saham di Bursa Efek Jakarta, Senin (10/6/2019). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin ini menguat setelah libur panjang Hari Raya Idulfitri 1440 Hijriah. IHSG dibuka menguat 68,18 poin atau 1,1 persen ke posisi 6.277,29. Sementara kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak naik 17,47 poin atau 1,78 persen menjadi 1.000,35.  (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada pembukaan perdagangan Rabu (18/3/2020), melanjutkan pelemahannya yang mencapai 1,08% atau 48,01 poin ke 4408,73. Sebanyak 54 saham menguat, 101 melemah, dan 76 stagnan. Asing menjual hingga Rp11,83 miliar.

Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 melemah 0,35%, Kelompok 30 saham unggulan dari LQ45 (IDX30) melemah 0,28%, dan Kelompok 30 saham syariah unggulan atau Jakarta Islamic Index (JII) melemah 0,15%.

Saham dari Kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 yang menguat adalah PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) mencapai 4,02% ke Rp1.035. Secara umum, sahamnya adalah PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL) menguat 6,9% ke Rp62.

Direktur riset dan investasi Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico menilai pelemahan IHSG dipicu oleh virus Corona dan dampaknya pada pergerakan manusia serta perekonomian.

"Negara Negara Uni Eropa telah sepakat untuk menutup perbatasan luar Uni Eropa selama 30 hari. Hal ini dimaksudkan untuk memperlambat penyebaran virus corona," kata Nico.

Berita ini disampaikan oleh Kanselir Jerman, Angela Merkel. Namun lalu lintas perpindahan masyarakat terhadap 27 Negara Uni Eropa masih akan diizinkan namun dibawah pembatasan. Namun pembatasan tersebut tidak berlaku untuk staf medis, obat obatan dan barang.

Sementara itu, Presiden Komisi Eropa mengatakan Inggris tidak akan menerapkan Batasan meskipun telah diundang oleh Uni Eropa untuk melakukannya. Sejauh ini Presiden Prancis telah meminta masyarakatnya untuk tinggal di rumah sebanyak 15 hari, kecuali untuk membeli kebutuhan pokok.

Begitupun dengan Perdana Menteri Kanada yang mengatakan bahwa dirinya akan menutup perbatasan Negaranya dengan orang asing, kecuali warga Amerika.

"Kedua, Lembaga pemeringkat Moody’s menyoroti dampak penyebaran virus corona yang berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi," kata Nico. 

Dalam kajiannya Moody’s memaparkan industri yang memiliki eksposure besar atas corona virus dibagi menjadi tiga, yaitu Pertama industri terpapar cukup tinggi. Seperti, pakaian, manufaktur otomotif, supplier otomotif, konsumer, gaming, pariwisata, maskapai penerbangan, ritel bukan makanan dan pengiriman secara global.

Kedua, industri yang terpapar sedang alias moderat. Diantaranya, minuman, kimia manufaktur, media, logam dan tambang, minyak dan gas, properti, agrikultur, perusahaan jasa, produsen baja sampai perusahaan teknologi hardware.

Ketiga adalah perusahaan yang bergerak di industri yang terpapar sangat rendah. Seperti konstruksi, pertahanan, peralatan dan transportasi, rental, pengemasan, farmasi, real estate, ritel makanan, telekomunikasi hingga manajemen sampah.

Kepala riset PT Valbury Sekuritas Alfiansyah menilai pelemahan IHSG didorong oleh virus Corona dan penurunan harga minyak dunia.

"Wabah virus Corona menjadi kecemasan selain sudah banyak memakan korban jiwa, juga akan menyeret ekonomi dunia yang diperkirakan terpuruk, Pasar melihat belum ada jurus jitu dalam penanganan penyakit ini. Sinyalemen ini tetap menjadi kekhawatiran pelaku pasar," kata Alfiansyah.

Wabah virus corona telah menekan pasar keuangan secara global. Selain itu pandemi virus corona telah mengakibatkan harga minyak dunia mengalami penurunan. Dengan demikian pasar saham mengalami tekanan yang diakibatkan oleh dua faktor, yakni penyebaran virus Corona dan kejatuhan harga minyak dunia. 

Dampak dari virus Corona ini membuat pemerintah harus mengambil langkah yang tepat agar menjaga perekonomian nasional tetap terjaga. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan mengatasi dampak ekonomi dari virus Corona akan lebih rumit ketimbang krisis ekonomi global 2008-2009. Karena hal ini menyangkut manusia yang harus memberikan ketenangan terlebih dahulu karena berkenaan dengan ancaman atau risiko yang akan terjadi.

Selain itu, virus Corona ini juga terdampak pada pertumbuhan ekonomi 2020 yang diperkirakan melambat di bawah 5%. Sri Mulyani mengasumsikan, meski belum mengumumkan secara resmi, bahwa ekonomi Indonesia bisa terkena dampak dari perlambatan global di kisaran 4,7%.

Kekhawatiran virus Coroan juga terdampak bagi rupiah yang melemah terhadap dolar AS berada diatas level pikologis Rp15.000 per US$. Hanya inflasi per Februari 2020 masih rendah, di 3,02% yoy dibandingkan inflasi 2008 mencapai 12,14% dan 82,4% di 1998.

Kabar lainnya, posisi utang luar negeri (ULN) Indonesia pada akhir Januari 2020 tercatat US$410,8 miliar tumbuh 7,5% yoy. ULN Januari tersebut terdiri dari ULN sektor publik (pemerintah dan bank sentral) sebesar US$207,8 miliar dan ULN sektor swasta (termasuk BUMN) sebesar US$203,0 miliar.

Penurunan ULN utamanya disebabkan oleh perlambatan ULN swasta yang tumbuh 5,8% yoy. Secara sektoral, ULN swasta didominasi oleh sektor jasa keuangan dan asuransi, sektor pengadaan listrik, gas, uap/air panas dan udara (LGA), sektor pertambangan dan penggalian, dan sektor industri pengolahan. Pangsa ULN pada ke-4 sektor ini dari total ULN swasta capai 77,3%.[]