Ekonomi

IHSG Belum Mampu Bangkit, 269 Saham Ikut Sakit

IHSG masih meratap di zona merah pada penutupan perdagangan sesi pertama, Selasa (20/4/2021)


IHSG Belum Mampu Bangkit, 269 Saham Ikut Sakit
Warga melihat indeks pergerakan saham di Main Hall Bursa Efek Jakarta, Kamis (8/4/2021). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih meratap di zona merah pada penutupan perdagangan sesi pertama, Selasa (20/4/2021). IHSG turun 0,84% atau 50,733 poin ke level 6.001,807.

Ada 189 saham naik, 269 saham turun, dan 173 saham stagnan. Nilai transaksi sentuh Rp4,7 triliun.

Total volume 7,7 miliar saham dengan aksi net sell asing Rp 320,576 miliar pada pasar reguler dan Rp 320,848 miliar keseluruhan market.

Sebelumnya IHSG dibuka melemah 22,55 poin atau 0,37% ke posisi 6.029,99 pada pembukaan perdagangan, Selasa (20/4/2021).

Kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 turun 6,12 poin atau 0,68% ke posisi 897,03. Adapun hingga jelang pukul 09:15 WIB, IHSG masih terjun ke kisaran level 6.028,927.

Sekadar informasi, IHSG secara teknikal diprediksi bergerak pulled back MA20 dilevel 6.078 dengan indikasi menguji support MA5 dilevel 6.039 kembali sebagai konfirmasi arah pergerakan. IHSG (-0.55%) turun 33.72 poin kelevel 6052.54 ditengah penguatan optimis bursa Asia dan terkonsolidasinya indeks ekuitas berjangka AS.

Investor mengambil langkah aman akan adanya aksi profit taking pasca optimisme minggu lalu akibat data ekonomi global yang rilis diatas ekspektasi. Saham-saham disektor Industri Dasar (-2.21%) menjadi penekan IHSG hingga akhir sesi perdagangan, dimana terkoreksinya perusahaan produsen semen dan peternakan menjadi pemicunya setelah alami penguatan signifikan.

" Naiknya harga ayam sejak menjelang ramadhan dan peningkatan volume penjualan diberbagai emiten semen menjadi katalis penguatan kedua sektor tersebut dipekan lalu," tutur Head Of Research Reliance Sekuritas Indonesia Lanjar Nafi di Jakarta, Selasa (20/4/2021).

Investor terlihat optimis pada prospek ekonomi di Tiongkok pada pemulihan ekonomi global. Risiko kenaikan biaya pinjaman menghantui investor setelah pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat ditandai inflasi yang naik signifikan.

Denny Iswanto

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu