Sunardi Panjaitan

Jurnalis Akurat.co dan Mahasiswa Magister Komunikasi Universitas Paramadina.
News

Idulfitri 2020: Antara Covid-19 dan Tradisi


Idulfitri 2020: Antara Covid-19 dan Tradisi
Sejumlah umat Islam bersilaturahmi dalam suasana Idulfitri di permukiman kawasan Cipulir, Jakarta, Minggu (24/5/2020). Usai melaksanakan salat Idulfitri, warga saling bermaafan dengan tetap menjaga jarak guna mencegah penyebaran virus di tengah pandemi COVID-19. (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO, Untuk pertama kalinya, lebaran di Indonesia tidak diwarnai oleh peristiwa mudik dalam skala besar. Tidak ada cerita-cerita kemacetan panjang saat arus mudik dan arus balik lebaran. Tidak ada silaturahmi secara langsung karena banyak dari masyarakat memilih untuk menggelar silaturahmi virtual. Tidak ada open house di rumah-rumah pejabat negara dan pejabat daerah serta public figur. Tidak ada Salat Ied berjamaah di masjid dan lapangan terbuka. Semua itu hilang karena pandemi Covid-19 yang mewabahi dunia, tak terkecuali Indonesia.

Idulfitri 1441 H/2020 M akan menjadi salah satu lebaran yang akan dikenang banyak umat muslim di dunia, khususnya di Indonesia. Idulfitri adalah perayaan kemenangan setelah melewati puasa selama bulan Ramadan. Perayaan kemenangan setelah umat Islam kembali ke fitrahnya. Namun, perayaan kemenangan kali ini tidak dapat dirayakan secara meriah layaknya kemenangan di tahun-tahun sebelumnya. Perayaan kemenangan yang dipenuhi dengan aturan dan larangan yang membuat kita tidak leluasa keluar rumah, bertemu dengan sanak keluarga. Perayaan yang pada satu titik, justru berlangsung dalam balutan kesedihan dan air mata.

Gema takbir yang biasanya ada di masjid-masjid, kini berpindah ke rumah masing-masing. Tidak banyak masjid yang menggelar salat Ied. Masyarakat dihimbau untuk melaksanakan salat Ied di rumah masing-masing bersama keluarga. Dan berbagai ritual dan tradisi yang biasa dilakukan di hari lebaran, sebagian besar harus ditiadakan.

Kehadiran pandemi Covid-19 telah merubah banyak hal. Bahkan dalam perayaan kemenangan umat Islam ini. Pandemi Covid-19 menjadi faktor yang membedakan perayaan idulfitri tahun ini dengan perayaan idulfitri di tahun-tahun sebelumnya. Covid-19 membuat suasana perayaan kemenangan terasa berbeda karena banyak kebiasaan yang kita jalani di hari lebaran, terpaksa harus kita urungkan.

Di Indonesia, perayaan idulfitri identik dengan berbagai ritual dan tradisi. Mulai dari tradisi yang secara umum dilakukan oleh hampir semua masyarakat di Indonesia sampai tradisi-tradisi yang hanya ada di daerah-daerah tertentu. Mudik, sungkeman, halal bihalal, ziarah kubur dan takbiran merupakan tradisi yang hampir ada di seluruh Indonesia. Sementara, di beberapa daerah, terdapat tradisi-tradisi unik yang dijalan secara turun temurun. Tradisi Malamang yang ada di pesisir Sumatera (Sumatera Barat dan Sumatera Utara), Kenduri kuburan di Aceh, Sungkem Telompak di Magelang, Perang Topat di Lombok, Tumbilatohe di Gorontalo atau tradisi Nyorog ala masyarakat Betawi.

Menjaga Tradisi di Tengah Pandemi

Tidak mudah menghilangkan tradisi. Istilah tradisi mengandung pengertian tentang adanya kaitan masa lalu dengan masa sekarang. Ia menunjukkan kepada sesuatu yang diwariskan dari generasi ke generasi, dan wujudnya masih ada hingga sekarang. Tradisi adalah sesuatu yang diwariskan atau ditransmisikan dari masa lalu ke masa kini.

Mudik lebaran misalnya, menjadi tradisi bagi masyarakat muslim melayu. Setiap idulfitri, gelombang mudik dari kota ke desa menjadi peristiwa besar yang terjadi di Indonesia dan Malaysia. Mudik, tentu saja berbeda secara makna dan filosofis dengan pulang kampung biasa. Ada nilai-nilai spritual di dalamnya, yang mendorong banyak orang untuk memutuskan pulang kampung di saat idulfitri tiba. Begitu juga dengan sungkeman, halal bi halal ziarah kubur, tidak akan pernah sama dengan silaturahmi dan ziarah kubur di hari-hari biasa.

Karena perbedaan-perbedaan makna dan filosofis itulah yang membuat mayoritas masyarakat tetap melestarikan tradisi-tradisi itu meski situasi yang tidak memungkinkan. Di tengah pandemi Covid-19, kita menyaksikan sebagian besar masyarakat Indonesia masih tetap menggelar tradisi-tradisi yang biasa dilakukan saat lebaran. Masih cukup banyak masyarakat yang memaksakan mudik ke kampung halaman meski pemerintah sudah melarang mudik. Mereka rela mencari jalan-jalan tikus untuk menghindari check point di jalan-jalan utama. Bahkan ada yang memutuskan jalan kaki dari Jakarta ke kampung halaman, hanya agar bisa lebaran bersama orang tua di kampung.

Di Bandara, sejak seminggu sebelum lebaran, kita menyaksikan kerumunan calon penumpang yang akan melakukan perjalanan ke daerahnya masing-masing. Pemerintah memang kembali membuka penerbangan antar daerah kembali beroperasi setelah sempat menghentikannya di awal-awal Ramadan. Meski penerbangan hanya diperuntukkan untuk keperluan dinas dan bisnis, namun yang terlihat adalah orang-orang berbondong-bondong untuk mudik ke kampung halaman. Saking banyaknya penumpang di bandar udara jelang lebaran, muncul satu pertanyaan, apakah masih ada dinas luar kota saat lebaran? Urusan bisnis apa yang masih berjalan 2-3 hari sebelum lebaran? Atau, yang terjadi justru banyak orang-orang mengakali aturan, demi bisa mudik ke kampung halaman?

Adanya Covid-19 dibanyak tempat juga tidak mengurangi mobilitas masyarakat untuk menjalin silaturahmi dan sungkeman ke rumah sanak saudara. Di beberapa kawasan di Jabodetabek misalnya, kemacetan tetap terjadi usai Salad Ied dilaksanakan karena banyaknya warga yang tetap ingin bersilaturahmi. Jalan-jalanan protokol dan jalan tol di Jabodetabek memang lengang dan sepi, tapi tidak di jalan-jalan biasa. Kepadatan masih terus terjadi. Begitu pula tradisi ziarah kubur, masih tetap dilaksanakan di hari pertama dan kedua lebaran.

Tradisi dalam praktek-praktek tertentu memang lebih kuat pengaruhnya dibandingkan apapun. Terlebih tradisi-tradisi yang dianggap memiliki nilai-nilai spritual yang cukup kuat. Bagi sebagian masyarakat, akan cukup sulit meniadakan tradisi yang sudah berjalan turun temurun. Jika dilarang, akan banyak orang yang mencari 'jalan tikus' agar tetap bisa menjalankan tradisi yang pada titik tertinggi bahkan sudah dianggap sebagai kewajiban yang harus dijalani.

Meski demikian, masih cukup besar kesadaran masyarakat untuk tidak memaksakan diri menjalankan tradisi lebaran secara besar-besaran. Himbauan pemerintah untuk tidak Salat Ied di masjid dan lapangan terbuka, diikuti banyak masyarakat dengan tetap menggelar Salat Ied di rumah masing-masing bersama keluarga. Hal ini semakin dipermudah dengan adanya panduan-panduan yang diberikan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) sebagai lembaga yang otoritatif dalam aspek keagamaan. Begitu juga panduan-panduan yang diberikan oleh ormas-ormas Islam maupun ulama/ustad yang memudahkan masyarakat untuk melaksanakan ritual keagamaan saat idulfitri.

Silaturahmi juga tetap berjalan meski dilakukan secara virtual dengan dukungan teknologi. Dilini masa media sosial, kita bisa melihat bagaimana antusiasme masyarakat untuk mengabarkan silaturahmi virtual yang mereka lakukan dengan keluarga dan orang-orang tercinta di tempat yang jauh.

Pandemi Covid-19 memang telah merubah banyak hal dalam tradisi lebaran tahun ini. Meski begitu, tradisi tetap bisa dijalankan dengan suasana yang berbeda. Wallahu a'lam.

Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin.[]