Lifestyle

Idul Adha dan Bahaya Cacing Hati pada Daging Kurban


Idul Adha dan Bahaya Cacing Hati pada Daging Kurban
Ilustrasi cacing hati (Twetter.com/@asmaaul456)

AKURAT.CO, Selama tiga hari perayaan hari raya kurban atau Iduladha 2020, kamu tentu punya banyak persediaan daging, entah itu daging sapi atau kambing.

Beraneka makanan olahan dengan pangan dasar daging ini pun tentu telah kamu nikmati dalam momen hari raya yang terjadi dalam masa pendemi, sama seperti Lebaran tahun ini.

Tapi bagi kamu pecinta daging, harap berhati-hati karena kini banyak ditemukan daging sapi yang memiliki cacing hati.

Sama seperti yang baru-baru ini ditemukan di Kabupaten Kendal, dimana petugas dari Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Kendal menemukan dua kasus sapi dengan cacing hati itu di Kelurahan Pegulon dan Langgenharjo, Kecamatan Kota Kendal.

Tim ahli dari kedianasan langsung menyarankan agar hati hewan yang terkontaminasi cacing langsung dibuang, sedangkan daging pada bagian tubuh lainnya tetap bisa dikonsumsi.

Perlu kamu ketahui bahwa sapi yang memiliki masalah cacing hati secara fisik bisa dibedakan dengan yang sehat, karena memiliki mata dan leher yang agak menguning. Badannya juga akan terlihat lebih kurus dan tidak segar.

Cacing hati ini umumnya berasal dari pakan hijau ternak yang dikonsumsinya setiap hari. Jika pakan itu telah terkontaminasi dengan telur cacing, maka jika dimakan hewan, cacing kelak akan hidup dan berkembang biak didalam tubuhnya.

Cacing hati bernama latin Fasciola, umumnya memiliki dua spesies. Ada Fasciola hepatica yang hidup di negara dengan empat musim, dan Fasciola gigantica hidup di daerah beriklim tropis, salah satunya Indonesia.

Fasciola dewasa diketahui bisa hidup dalam tubuh hewan ternak dan bertahan selama kisaran usia 1-3 tahun, lalu bertelur yang disebut sarkaria dan keluar kembali saat hewan mengeluarkan feses.

Sarkaria ini ternyata bisa berenang dalam air dan singgah di tanamam hijau termasuk jerami, sayuran dan rerumputan.

Hewan atau sapi yang memakan pakan yang terkontaminasi sarkadia akan memikiki telur atau bakal cacing hati. Jika cacing itu sudah ada dalam tubuhnya, hewan itu akan kurus, produktivitasnya terhambat, bahkan tak sedikit yang mati.

Memang, penyakit pada manusia yang disebut fasciolosis, sangat jarang ditemui. Tapi, ini tetap saja berbahaya dan berpotensi buruk jika memakan hati yang terkontaminasi cacing tadi.

Jarang adanya kasus fasciolosis itu karena orang Indonesia jarang makan hati mentah dari hewan. Meski, yang dihindari adalah sayuran yang berpotensi sudah tercemar sarkadia, karena berpotensi membawa kanker hati dan batu empedu pada kasus fasciolosis kronis. Itu menurut dokter hewan, Fadjar Satrija, Drh. Msc., Ph. D.

Manusia yang sudah mengalami fasciolosis akan mengalami gejala bermacam-macam pada kisaran waktu 6 minggu sampai 3 bulan, bersama dengan masa inkubasi fasciolosis.

Kamu bisa mengalami anemia, demam tinggi dengan suhu tuhuh antara 40-42° C, gangguan pencernaan dan nyeri perut.

"Gejala pada manusia sama seperti hewan ternak yang terkena fasciolosis," ujar Dokter Fadjar, dikutip Akurat.co dari berbagai sumber.[]

Erizky Bagus

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu