Lifestyle

IDI: Ganja Medis Bisa Jadi Alternatif Tapi Tidak Sepenuhnya Aman

Ganja medis bisa jadi alternatif, tetapi penggunaan ganja medis juga tidak berarti sepenuhnya aman. Jika penggunaannya tidak diatur


IDI: Ganja Medis Bisa Jadi Alternatif Tapi Tidak Sepenuhnya Aman
Potret Andien menghampiri penyintas yang membutuhkan ganja medis saat CFD. (Twitter/@andienaisyah)

AKURAT.CO Legalisasi ganja untuk keperluan medis kembali ramai diperbincangkan. Klaim manfaat ganja bagi kesehatan jadi sorotan.

Faktanya, ganja medis memang telah dilegalkan di sejumlah negara. Teranyar, negara tetangga Thailand, yang baru saja melegalkan ganja, termasuk diantaranya untuk keperluan medis, pada 9 Juni lalu.

Akan tetapi, Ketua Dewan Pertimbangan Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban mengatakan bahwa ganja medis memang bisa jadi pilihan atau alternatif pengobatan, tapi bukan yang terbaik.

baca juga:

"Banyak sekali studi tentang ganja. Beberapa bisa menjadi obat, namun masih banyak juga yang belum diketahui tentang tanaman ini dan bagaimana ia berinteraksi dengan obat lain serta tubuh manusia," tulis Zubairi dalam cuitan Twitter-nya, dikutip pada Rabu (29/6/2022).

Menurut Zubairi, belum ada bukti ganja medis lebih baik, termasuk untuk nyeri kanker dan epilepsi. Bahkan, belum ada juga penyakit yang obat primernya adalah ganja medis.  

Penggunaan ganja medis juga tidak berarti sepenuhnya aman. Jika penggunaannya tidak diatur secara ketat, lanjut Zubairi, ganja medis berpotensi disalahgunakan.

"Jika penggunaan tidak ketat, bisa terjadi penyalahgunaan yang menyebabkan konsekuensi kesehatan bagi penggunanya," tulisnya.

Dalam dosis berlebih, penggunaan ganja juga diketahui bisa memberikan efek ketergantungan dan halusinasi.

Zubairi mengatakan, dosis yang dibutuhkan untuk tujuan medis biasanya jauh lebih rendah, daripada untuk rekreasi.

"Yang jelas, saat pengobatan, pasien tidak boleh mengemudi. Kemudian THC [tetrahydricannabinol, senyawa pada ganja] dan CBD [cannabidiol] ini tidak boleh dipakai sama sekali [untuk] perempuan hamil dan menyusui," tegasnya.

Hingga saat ini, menurut Zubairi, para ilmuwan juga belum mengetahui pasti cara aman mengonsumsi ganja. Yang jelas, merokok ganja sama buruknya dengan mengisap tembakau, bsa merusak organ paru-paru dan sistem kardiovaskular.

Sebagai seorang dokter, Zubairi sendiri merasa harus mempertimbangkan penggunaan ganja dengan tepat, meski sejumlah studi telah menemukan manfaatnya. 

Menurutnya, banyak hal yang harus dijadikan pertimbangan. Mulai dari kemungkinan interaksi obat, efek sampingnya pada tingkat kecemasan, hingga risiko gangguan psikotik yang bisa dipicu oleh penggunaan ganja.

Yang jelas, tegas Zubairi, setiap obat memiliki potensi efek samping yang harus diminimalisasi, termasuk pada penggunaan ganja medis.

Sekadar diketahui, penggunaan ganja untk medis kembali hangat diperbincangkan setelah Santi Warastuti, seorang ibu menjalankan aksi unjuk rasa di Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) yang jatuh setiap tanggal 26 Juni.

Santi membentangkan poster bertuliskan 'Tolong Anakku Butuh Ganja Medis’ saat Car Free Day di kawasan Bundaran HI, Minggu 26 Juni 2022, viral.

Santi menuntut kepastian hukum kepada pemerintah melalui Mahkamah Konstitusi (MK) agar segera melegalkan ganja untuk medis.

Hal itu sangat penting bagi Santi demi mengobati anaknya yang mengidap Cerebral Palsy.

Menurut Zubairi, tingkat manfaat ganja medis bagi pengidap cerebral palsy masih rendah.

"Studi penggunaan THC dan CBD pada cerebral palsy memang ada. Namun tingkat manfaatnya masih rendah. Sebab itu, saya usulkan, ada bahasan khusus untuk menolong buah hati dari Ibu Santi Warastuti oleh para ahli terkait," jelasnya.