image
Login / Sign Up

Free Hearty: Setelah Estetika Jangan Lupakan Etika

Herman Syahara

Image

10 Parpol mendeklarasikan dukungannya terhadap cagub petahana di Pilgub Papua, Jumat (29/12) | AKURAT.CO/Sudjarwo

AKURAT.CO, Jika ada pertanyaan ‘bagaimana nasib sastrawan di Indonesia?’ semua orang hampir kompak menjawab bahwa nasibnya tidak diperhatikan. Padahal kualitas karya sastra di negara ini diakui oleh banyak negara.

Free Hearty, seorang kritikus dan dan pengamat sastra menyebut bahwa dibanding negara lain, seperti negara-negara ASEAN, sastrawan Indonesia cukup memprihatikan. Selain menjawab hal tersebut, Free juga menyebut sejumlah fakta menarik tentang sastra Indonesia.

Ia misalnya memaparkan Mengapa dia merasa "galau" dengan prilaku sejumlah kecil   sastrawan Indonesia saat mejadi tamu di mancanegara? Apa makna sastra dan fungsinya dalam pergaulan antarmanusia dan antarnegara? Berikut adalah petikan wawancara dengan pendiri dan Ketua Umum (WPI) sampai dengan 2020 dan Ketua Umum dan penggagas Perhimpunan Sastrawan Budayawan Negeri Serumpun (PSBNS) Free Hearty.

baca juga:

Beberapa hal yang disampaikan di bawah ini sering diungkapkannya dalam beberapa kesempatan sebagai penegasan dengan harapa  didengar para pemangku kepentingan di dunia sastra:

Bagaimana kiprah  sastrawan Indonesia di mancanegara?

Berbicara kiprah penyair Indonesia di mancanegara, sudah lama  terjalin.  Bahkan, buku-buku karya sastrawan Sapardi Djoko Damono, Sutardji Calzoum Bachrie, atau Taufik Ismail, sudah  dijadikan bahan ajar di sekolah-sekolah Malaysia. Meskipun sifatnya memang lebih ke indivindu.

Lalu belakangan  muncul organisasi-organisasi "perkawinan" sastrawan antar  lima negara ASEAN. Ini baik dan luar biasa.

Namun, membangun hubungan itu sangat gampang. Yang susah adalah mempertahankannya. Di luar soal pentingnya  imajinasi, estetika, dan unsur penulisan karya sastra lainnya,  yang tak kalah penting yaitu etika. Bukan hanya di dalam karya, di dalam  hubungan antar manusia, etika pun sangat penting.

Bisa dijelaskan lebih rinci?

Dalam amatan saya, hubungan Indonesia dengan negara lain  seperti Malaysia, Singapura, dan negara sesama anggota ASEAN lain yang dibentuk dalam sebuah komunitas sastra seperti  Numera,  Ziarah Karyawan ((ZK), dan lainnya, sedang dalam tahap puncak-puncaknya atau eforia.

Namun ini bukan tanpa kendala. Sebagai orang tua yang sering diundang ke berbagai negara ASEAN, selalu ada pengaduan kepada saya. Dari pengaduan yang masuk, saya menyimpulkan, ada empat hal yang harus dijaga dalam menjalin hubungan dengan pihak lain di luar negeri, yaitu sikap respek. Maksudnya ada penghargaan terhadap pengundang.  Soalnya, ada kecenderungan,  beberapa sastrawan yang merasa dirinya  hebat lalu menganggap sastrawan dari negara lain kecil. Mereka  meremehkan dan merendahkan.

Saya mendengar sendiri ada sastrawan Indonesia yang  mengatakan karya sastra Malaysia itu rendah. Padahal di sana ada beberapa sastrawan Malaysia dan tentu merasa kaget.

Nah jangan pernah meremehkan orang lain walau diri kita hebat. Karena kualitas sebuah karya  sangat subjektif. Ada karya yang suatu masa diremehkan, namun pada saat lain dihargai. Bagus atau tidak bagus, berkualitas atau tidak, itu subjektif. Karena kita berada di ranah kemungkinan. Karena kita sastrawan bicara tentang mungkin. Mungkin terjadi di masa lalu, kini, atau masa depan.

Berbeda dengan sejarah yg berisi fakta. Kalau pun sastra bicara data, dia dikemas oleh imajinasi dan estetika. Dengan memahani ini  kita akan respek pada orang lain.

Yang kedua adalah responsibility. Kita punya tanggung jawab terhadap diri dan orang lain. Kenapa ini perlu? Berkaca kepada keberangkatan pertama saya ke Malaysia dulu, orang tidak mengenal saya. Maka sesuai pepatah "anda harus meniup terompet Anda sendiri". Tetapi ketika Anda meniup terompet Anda sendiri, jangan coba-coba menyanyikan terompet orang lain. Perkenalkan diri Anda sebenar-benarnya Anda. Jadi jangan perkenalkan diri Anda sebagai sarjana atau doktor sastra padahal bukan.   Dinding itu "bisa bicara" kok.

Ketiga, trust. Artinya, jagalah kepercayaan yang telah diberikan pihak atau negara  lain sebaik-baiknya.

Dan keempat, loyal. Loyal kepada diri, profesi, dan juga yang penting loyal kepada negara. Jangan ketika  kita sakit hati di dalam negeri, lalu menjelekkan negara kita di mata dunia. Kita tahu bahwa nasionalisme mereka sangat tinggi terhadap bangsa dan negaranya. Maka ketika ada orang kita yang diundang keluar negeri dan di sana membuat masalah, saya tidak menyalahkan pihak yang diundang namun saya menyalahkan kenapa tidak bertanya kepada saya atau bertanya kepada orang lain yang mengerti.

Kenapa sastrawan di luar Indonesia nampak agak lebih sejahtera?

Pemerintah Malaysia, Brunai, atau  Singapura sangat menghargai sastrawan. Regulasi-regulasi pemerintahnya sangat menguntungkan sastrawan. Ada penulis yang sudah tidak lagi produktif karena sakit, dijadikan penulis akademi. Ada juga lomba-lomba untuk sastrawan yg hadiahnya besar sampai ratusan juta. Mereka memberikan fasilitas untuk sastrawannya yang akan mengikuti seminar keluar negeri.

Bagamana perhatian pemerintah kita terhadap sastrawan?

Saya selalu mengatakan, sastrawan itu berjalan di jalan sunyi. Saya berkali-kali mengadakan acara tidak dibantu oleh pemerintah. Diover ke sana kemari saat mengantarkan proposal.

Tidak ada kepedulian dari  otoritas yang mengeluarkan regulasi, dalam hal ini pemerintah.

Di negara mana pun sastrawan tidak bisa lepas dari regulasi otoritas.

Jadi jangan disangka, menjadi penyair itu membuat Anda bisa kaya dan berduit, tidak.

Sekretaris Jenderal Penyair Dunia Maria Eugenis Soberanis, berulang kali meminta saya menggelar acara sastra di Indonesia. Lalu  saya mencoba mendatangi pihak otoritas terkait untuk meminta dukungan. Namun,  mereka bilang, kami dapat apa dari sastra? Miris.

Saya pernah dibisikinya:  "Free penyair di seluruh dunia itu miskin. Jadi kalau nanti bikin acara di Indonesia jangan cari hotel mahal. Carilah hotel yang murah tapi cukup representativ. Hal ini menguatkan kesan, jangan terlalu berharap dari menulis bisa kaya.

Jangan lihat penulis novel serial Harry Potter, JK Rowling.  Sebelum seperti sekarang karyanya pernah ditolak 20 kali.

Amerika, Jepang, Brunai, Malaysia, sedikit memberi perhatian lebih pada sastra. Malaysia bisa demikian karena memang bekas jajahan Inggris.

Wah, jadi sastrawan pesimis juga ya?

Jangan terlalu pesimis  karena akan ada waktunya  masa-masa cerah itu datang. Namun jangan mengatakan "kita bisa berjalan sendiri".  Mungkin memang bisa dengan jalan sendiri dengan ideologi yang tinggi, tapi lama-lama akan mati juga.

Terus terang saya katakan, ini tahun keenam saya bergerak sendiri.  Pada tahun  2016 saya pernah menggelar acara sastra intenasional di Yogyakarta yang dihadiri oleh delegasi lima negara luar.  Saya harus merogoh  uang sendiri Rp150 juta karena tidak ada bantuan dari otoritas. Karena acara harus tetap berjalan akibat saya sudah berjanji kepada lima negara lain. Saya merasa telah menyelamatkan Indoneaia. Tapi apakah otoritas tahu saya menyelematkan Indonesia? Tidak.

Di negara maju, sastra dianggap sebagai  jantung kehidupan  karena sastra melatih otak dan perasaan sehingga lebih lembut. Tapi adakah otoritas yang peduli? Tidak.

Penghargaan sastra Sea Write  kepada  Marzuki Rusli Saria datang dari Thailand, bukan dari otoritas kita. Makam sastrawan  Gerson Poyk saja  tidak diperhatikan.

Kita harus perjuangkan bersama agar   otoritas pemerintah kita  memberikan perhatian dan lebih peduli kepada sastrawan.

Dalam dua-tiga tahun terakhir, kegiatan bersastra nampak semakin menggeliat yang ditandai dengan maraknya  diskusi sastra, peluncuran buku  sastra, munculnya komunitas-komunitas sastra yang melahirkan  penulis-penulis muda  berbakat.  Sebenarnya apa sastra itu sehingga sedemikian diminati?

Sastra tidak bisa didefinisikan secara gamblang dan jelas. Dia akan terasa berbeda ketika dibandingkan dengan berita. Bahasa “harian” akan berbeda dengan bahasa sastra. Karena bahasa harian atau bahasa berita berfokus kepada maksud yang jelas, dan lugas untuk ditangkap maknanya. Jadi sifatnya adalah mono tafsir. Penafsiran tunggal.

Sedangkan sastra berfokus pada  Dulce et Utile, seperti kata Horatio: indah dan bermanfaat. Ada yang menambahkan indah bermanfaat itu dengan  etika, estetika, moral dan agama.  Tetapi ada juga yg menganut bahwa bersastra itu boleh bebas dengan imajinasi seliarnya. Karena sastra yg ditulis itu mati, dan pengarang sudah  dianggap mati. Pembacalah yang menghidupkannya.

Apa ciri-ciri karya ini bernilai sastra dan itu tak bernilai sastra?

Selalu terjadi pertentangan pendapat tentang ini karya sastra dan itu bukan karya  sastra. Perbedaan ini tentu lumrah saja dan harus disikapi dengan cerdas dan logika yang jelas, argumentative,  reasonable,  dan systematis.

Ada pula yang  mengatakan film bukan sastra. Lalu yang lain mempertanyakan, bagaimana bisa sebuah karya sastra yg difilmkan, karya yang dialih-mediakan menjadi visual kan hilang kesastraannya.

Perbedaan begini bisa saja hadir, tetapi cara memperdebatkannya yang bisa dibicarakan itu harus dengan saling menghargai pendapat. Apalagi jika tujuannya hendak membangun perdamaian.

Tidak harus dengan mengatakan pihak yang lain bodoh, dan pendapat kita saja yang benar. Ini akan menjadi titik perpecahan dan menjauh dari perdamaian.

Apa yang bisa diharapakan dari lahirnya komunitas-komunitas sastra?

Komunitas- komunitas sastra itu berperan sangat penting.  Dalam sebuah komunitaslah dibangun kekritisan berpikir para anggotanya.

Membedah buku  dan mendiskusikannya harus dengan sehat dan benar. Artinya, jangan ada yang  mendominasi diskusi dan merasa benar sendiri karena ini tidak sehat. Hal ini akan melatih anggotanya peka terhadap lingkungan.

Penyair atau seniman sering disebut-sebut harus sensitif.  Apa perbedaan "peka" yang Anda sebut di atas  dengan "sensitif"?

Arti peka berbeda dengan  sensitif.  Sensitif itu lebih kepada “perasaan” yang  merujuk diri dan membuat si pemilik diri merasakan berbagai macam perasaan.

Sedangkan peka lebih kepada kemampuan “membaca” dan merasakan perasaan orang lain dan sekitarnya. Kepekaan ini akan membimbing kita untuk menggunakan kata2 agar tidak menyinggung dan menyakiti orang  lain. Ini menjadi bagian dari membangun  perdamaian yg harmonis.

Peka tidak membangun untuk menjadi good follower saja, tetapi “good follower”  yg kritis dan mau berargumen dengan  santun tanpa mengecilkan orang  lain.

Sikap merasa benar sendiri dengan mengecilkan orang lain bukanlah sikap seorang ilmuwan. Ilmuwan sejati selalu siap menerima pendapat berbeda yg logis, analisis dan reasonable pula. Karena adanya kesadaran bahwa selalu akan ada perubahan baik dalam teori ataupun praktiknya.

Apa peran sastra  dalam membangun perdamaian?

Kita mungkin pernah mendengar adagium "bila politik memecah belah maka sastra yang mendamaikan".

Sastra itu seperti terapi jiwa yang bisa membuat rileks atau  kelegaan kepada seorang pengarang. Pengarang bisa mengekspresikan semua yang ada di kepala dan di perasaannya yang hasilnya akan membuat kelegaan kepada dirinya.

Sastra itu memang "seharusnya"  disampaikan dengan penuh etika, estetika, moral,  dan agama, sehingga memberi kesan damai, adem,  dan menyenangkan.

Bahkan, saat menyampaikan kritik tajam pun, seorang  sastrawan bisa menyampaikannya dengan tikaman yang tajam namun indah sehingga  tidak terasa tahu-tahu  sudah membuat  "berlumuran darah".  Bahkan pembaca ikut terhibur ketika tokoh yg diciptakan itu memancing benci dan amarahnya.

Bagaimana mengasah ketajaman pikir serta sikap kritis dan peka?

Harus terus menerus diasah dengan  membaca, berdiskusi, dan berdialog.

Adakah  konsekuensi seseorang yang telah memilih terjun ke dunia sastra?

Ketika seseorang  telah  memilih mencemplungkan diri ke  dalam dunia sastra dan budaya, maka jadilah manusia yg mengerti KESUSASTRAAN. Karena SU itu bermakna indah. Indah dan  santun dalam menggunakan diksi, meski tajam dengan sindiran yang ironis, sarkastis,  ataupun sinis.

Dan patut dicatat, sastra dan budaya tidak bisa dipisahkan. Bagaimana bergerak dalam dunia ini jika anda sendiri tidak berbudaya.[]

Editor: Islahuddin

berita terkait

Image

Hiburan

Arbani Yasiz Ingin Milenial Menyukai Puisi

Image

News

Cewek Cantik Simpan Sabu di Pembalut Tertangkap di Bandara Husein

Image

Hiburan

Putri Marino dan Adinia Wirasti Belajar Sastra Jawa untuk Sultan Agung

Image

Hiburan

Ruang Merokok Di Bandara Bandung Ini Serem, Bikin Ngeri Pengguna

Image

Hiburan

Panggung Puisi Sandal Jepit Merawat Negeri, Memprotes Rakyat yang Dijadikan Komoditas

Image

Iptek

Agustus Ini Koleksi Pusat Dokumentasi Sastra H.B Jassin Mulai Didigitalisasi

Image

Gaya Hidup

Kerak Telor, Kuliner Khas Betawi yang Sulit Dicari

Image

Gaya Hidup

Lebaran Betawi 2018 Resmi Ditutup, Bamus DPD : Lestarikan Terus Budaya yang Diakui Pemerintah

Image

Ekonomi

Dekopinda: Pemkab Cianjur Terkesan Kesampingkan Koperasi

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
Hiburan

Penampilan 5 Artis Ini Semakin Cantik dengan Rambut Blonde

Walaupun terlahir dengan rambut berwarna hitam, nampaknya artis-artis ini menjadi semakin cantik dengan warna rambut berbeda

Image
Hiburan

Demi Film Sesat, Laura Theux Belajar dari Sang Adik

Pertama kali bermain film horor, Laura Theux merasa sangat excited.

Image
Hiburan

Untuk Pertama Kalinya Ibunda Roro Fitria Hadiri Sidang Anaknya

Ibunda Roro Fitria sudah datang ke Pengadilan Negeri sedari pagi.

Image
Hiburan

Iis Dahlia Tak Tergiur Masuk Dunia Politik, Kenapa?

Iis Dahlia mengaku tak memiliki bakat di dunia politik.

Image
Hiburan

Anak Beranjak Dewasa, Iis Dahlia Beri Bekal Agama

Kedua anak Iis Dahlia, Juwita Salshadilla dan Devano Danendra sudah mulai beranjak dewasa.

Image
Hiburan

Mengintip Persiapan Pernikahan Denny Sumargo dan Dita Soedarjo

Denny Sumargo tinggal selangkah lagi menuju pernikahan. Perseiapan mereka terhitung sudah 50%.

Image
Hiburan

Iis Dahlia 'Pusing' Juwita Salshadilla Doyan Belanja

Juwita mengaku lebih suka belanja untuk produk skincare dan haircare.

Image
Hiburan
Asian Games Jakarta-Palembang 2018

Mischa dan Marcel Chandrawinata Iringi Obor Asian Games ke Kalijodo

Marcel dan Mischa Chandrawinata menjadi sejumlah selebritas yang meramaikan torch relay api Asian Games 2018.

Image
Hiburan

Kompaknya Iis Dahlia dan Putri Merawat Tubuh

Keduanya ternyata memiliki quailty time bersama.

Image
Hiburan

Maruli Tampubolon Hadirkan 12 Lagu di Album Perdana September Mendatang

Maruli memilih single berjudul Semurni Embun Pagi untuk menjadi lagu andalan di album perdananya.

trending topics

terpopuler

  1. Gedung Putih Mengecam Langkah Turki Menggandakan Tarif Terhadap Barang AS

  2. Debat Kandidat Pilpres Disarankan Berbahasa Inggris, Denny Siregar: Habis Itu Lomba Ngaji

  3. Inovasi Cerdas, Mobil Ini Disulap Jadi Warung Makan

  4. Apresiasi Pemerintah Stabilkan Rupiah, Mantan Wapres Malah Dinyinyiri Warganet

  5. Penangkapan Pengguna Narkoba di Babel, Polisi dan TNI Sempat Salah Paham

  6. Setelah Dikecam, Turki Mengaku Siap Bicarakan Masalah dengan AS Tanpa Ancaman

  7. Warganet Meradang, Kritik Ketua MPR Soal Utang Bernada Oposan

  8. Zulhas: Terima Kasih Bu Mega, Karena Ibu Mega Acara ini Ramai

  9. Ahok Bakal Blak-blakan Hari Ini, Denny Siregar: Seandainya Dia Mau Curhat, Pasti...

  10. Digempur Tekanan Ekonomi Global, Jokowi : Alhamdulillah, Ekonomi Stabil

fokus

Kearifan Ekonomi Lokal Baduy
Pray for Lombok
Idul Fitri 2018

kolom

Image
Ujang Komarudin

Merdeka atau Mati

Image
Hervin Saputra

Milla Membuka Pesta dengan Perhitungan Taktik dan Legiun Asing

Image
Taufik Hidayat

Keberanian Mengambil Risiko Membawa Timnas U-16 Menjuarai Piala AFF

Image
Achmad Fachrudin

Membaca Reaksi Publik Terhadap Pasangan Capres-Cawapres

Wawancara

Image
Olahraga

IBL 2018-2019

"Pemain Asing Tingkatkan Skill Pemain Indonesia"

Image
Gaya Hidup

Geluti Bisnis Kecantikan, Ini Arti Kepemimpinan Menurut Vanessa Angel

Image
Gaya Hidup

Kalau Mau Lulus, Murid Sekolah Al-Izhar Wajib Ikuti Program Pengembangan Karakter

Sosok

Image
Hiburan

Penampilan 5 Artis Ini Semakin Cantik dengan Rambut Blonde

Image
Hiburan

10 Gaya Hypebeast Ramengvrl Saat di Panggung

Image
Hiburan

Dulunya Artis Cilik, 7 Seleb Ini Masih Eksis Sampai Sekarang