image
Login / Sign Up

"Banyak yang Harus Dikorbankan untuk Menjadi Pahlawan"

Agung Nugroho

Hari Pahlawan (1)

Image

Mantan atlet panahan Indonesia yang meraih perak Olimpiade Seoul 1988 sebagai medali pertama Indonesia di Olimpiade, Nurfitriyana Saiman, kini menghabiskan hari-harinya untuk membina atlet muda yang diharapkan bisa mengulang sukses di pentas dunia. | AKURAT.CO/Sopian

AKURAT.CO,  Tujuh puluh dua tahun sejak pertempuran di Surabaya antara tentara dan milisi Indonesia melawan prajurit Britania Raya serta Belanda yang tergabung dalam NICA, 10 November 1945, kini Indonesia harus menerima kisah tersebut dengan sebuah peringatan: “Hari Pahlawan.”

Di Olimpiade Seoul, Korea Selatan, 1988, tiga srikandi Indonesia menunjukkan “kepahlawanan” mereka dengan merebut medali perak sebagai medali pertama Indonesia sejak pesta olahraga terakbar di dunia itu digelar pada 1896.

Gelar anumerta yang diberikan seiring memperingati Hari Pahlawan setiap 10 November tersebut jatuh ke tangan putri panahan Tanah Air: Nurfitriyana Saiman, Lilies Handayani dan Kusuma Wardhani.

baca juga:

Trio peraih medali perak panahan Olimpiade Seoul 1988, Lilies Handayani-Nurfitriyana Saiman-Kusuma Wardhani, saat menerima medali. (Foto: ISTIMEWA).

Bahkan, untuk mengenang jasa ketiganya pasca mengharumkan Indonesia di bawah didikan keras atlet panahan senior, Donald Pandiangan, terciptalah sebuah film biopik berjudul “3 Srikandi” yang tayang perdana pada 4 Agustus 2016 lalu.

Reporter AKURAT.CO, Agung Nugroho, berkesempatan mewawancarai  salah satu dari pemanah yang merebut medali pertama Indonesia di Seoul, Nurfitriyana Saiman, di Stadion panahan kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Rabu (8/11).

Wanita kelahiran Jakarta, 7 Maret 1962 (55 tahun), itu berbicara tentang perlakuan negara terhadap atlet panahan, pengorbanan mengibarkan Merah Putih di Korea Selatan, pola latihan yang jauh lebih alami pada masa lalu ketimbang masa sekarang, hingga film 3 Srikandi. Kami membaginya dalam tiga bagian. Berikut petikannya:

Bagaimana awalnya Anda menjadi atlet panahan?

Jadi sebelumnya itu saya aktif di senam lantai, terus ada kakak ipar saya Zefilia Usman, itu pemanah tahun 60-an. Jadi saya diajak oleh beliau untuk coba ikut lapangan. Jadi saya terjun di panahan itu dari tahun 79. (Tahun) 80 ikut kejuaraan. (Tahun) 81 saya mulai mengikuti SEA Games, Asia Tenggara, dan itu tentunya melalui seleksi yah.

Untuk SEA Games itu saya dari tahun 81 sampai dengan tahun 2000, tentunya kita mempertahankan emas perorangan dan beregu di Asia Tenggara setiap penyelengaraan di SEA Games dari tahun segitu. Kita selalu bawa pulang perorangan, beregu di putri atau di putra selalu kita bawa seperti itu.

Kapan dan di mana Anda mengharumkan nama negara?

Tentunya setiap ada event yah seperti pesta olahraga Asia Tenggara, seperti SEA Games. Itu kan kejuaraan besar juga ya Asia Tenggara. Itu yang saya bilang, kita selalu mengibarkan Merah Putih untuk Indonesia. Dan yang paling tinggi itu ya di Olimpiade 88 di Seoul. Itu juga medali pertama Indonesia – sejak Olimpiade perdana tahun 1896 di Athena, Yunani – dan kita kebetulan mendapatkan medali perak pada saat itu.

Nurfitriana, Lilies, dan Kusuma, bersama pelatih Donald Pandiangan, di Seoul 1988. (Foto: ISTIMEWA).

Bagaimana perlakuan negara terhadap Anda saat itu? Apa bedanya dengan saat ini?

Untuk perbedaan perlakuan negara terhadap atlet (dulu dan sekarang) itu jauh perbedaannya. Sekarang benar-benar perhatiannya penuh seperti itu, begitu pula untuk masa depan para atlet yang berhasil pada saat ini, itu mereka diberikan untuk masuk menjadi PNS, pegawai negeri.

Dan tentunya di bidang olahraga yah untuk PNS-nya. Kalau kami dulu, ya termasuk alhamdulillah ada perhatian, tapi tidak seperti sekarang. Kalau sekarang Asia Tenggara saja sudah diperhatikan untuk jadi PNS. Tapi kalau kita dulu mencapai prestasi tinggi dulu. Jadi paling tinggi itu Olimpiade 88, baru kami diperhatikan untuk jadi karyawan PNS. Bukan PNS yah, tapi pegawai negeri.

Untuk mendapatkan prestasi, apakah ada pengorbanan? Apa bentuk pengorbanan itu?

Ini rata-rata bukan hanya saya saja, tapi semua atlet pasti ada pengorbanannya. Sekolahnya, kuliah, yang sudah berumah tangga. Itu salah satu pengorbanan. Kita sudah meninggalkan semuanya, kalau kita tidak melakukan yang terbaik untuk negara ini, itu sia-sia sekali. Jadi semua itu pasti ada pengorbanannya. Pengorbanannya banyak.

Bagaimana perasaan Anda saat meraih prestasi pertama di kancah Internasional, dan ketika menyanyikan lagu Indonesia Raya?

Untuk Asia Tenggara tentunya kita pertama kan Asia Tenggara. Kita bisa menaikkan bendera, lalu menyanyi Indonesia Raya, seperti itu. Pertama ya seperti kita upacara saja yah, kaya di sekolah. Tapi lama-lama ke sini, kita dikasih masukan untuk betapa besarnya, betapa bangganya kalau kalian itu bisa mengibarkan bendera Merah Putih, bendera kita di ajang pesta olahraga yang besar, khususnya seperti Olimpic. Itu pesta olahraga yang paling terbesar.

Jadi kan ada Asia Tenggara, lalu ada Asia, kaya besok ada Asian Games – yang diselenggarakan pada 18 Agustus hingga 2 September 2018 – itu hanya Asia saja. Tapi kalau Olimpic sudah dunia, pesta olahraga dunia.  Jadi itu yang paling besar. Itu sangat bangga kita. Kita sangat bangga pada saat itu, tapi ya sesuai persiapannya yang keras.

Persiapannya sekeras apa?

Kita dulu metodenya belum seperti sekarang, seperti fitness. Kalau sekarang itu ada korKor itu hanya pakai badan kita sendiri, enggak pakai beban. Itu sekarang modelnya seperti itu. Tapi kalau dulu kita latihan di Sukabumi, yang di mana kita menyatu dengan alam. Seperti menimba, seperti bawa air di ember, jadi gitu. Seperti gergaji pohon. Jadi memang benar-benar ya kita sama pelatih kita, almarhum ya dibikin seperti itu. Lebih mencintai tanah air, lebih mencintai alam, seperti itu.

Pelatih atlet peraih medali perak Olimpiade Seoul 1988, Donald Pandiangan. Donald menikah dengan salah satu anak didiknya, Kusuma Wardhani. (Foto: ISTIMEWA).

Jadi enggak ada yang namanya fitness, apa ‘gitu. Lari juga ya kita lari di bukit. Lari-lari diukur Vo2Max-nya itu lari di bukit. Jadi masih benar-benar alam dibanding yang sekarang. Jadi kebetulan pelatih kita almarhum (memiliki kepribadian) keras. Jadi cobaan untuk beliau juga keras – politik versus olahraga. Ya kita di rumah tuh ya mungkin enggak pernah mendapat kata-kata sedikit kasar. Tapi alhamdulillah ya enggak kebawa. Kita harus ikuti, dan mana yang enggak kita tahu.

Untuk menjadi atlet panahan yang berprestasi di kancah internasional dan mengharumkan bangsa butuh waktu. Bagaimana pendapat Anda tentang atlet yang ingin instan? 

Pasti harus butuh waktu. Yaitu apa? Ya pengalaman mereka bertanding. Jadi, enggak bisa dia hanya didik sama pelatih saja, enggak bisa. Banyak pengalaman bertanding itu satu. Lalu, perkembangan pola pikir dia. Misalnya kita lihat tekniknya. 

Enggak bisa, semua enggak ada yang instan, kecuali dia mulai dari usia muda. Jadi pas usia-usia kalau kita mau bikin di 17 itu dia punya prestasi untuk Asia Tenggara, mereka harus dari kecil. Ya enggak harus dari kecil sih, SD-lah. Kalau pemanah dulu itu kan mulainya sudah telat, jadi prestasinya sudah tua. Tapi Insya Allah sekarang enggak, soalnya sudah banyak menjamur.

Siapa saja atlet panahan yang berprestasi dan mengharumkan bangsa di kancah internasional, tapi terabaikan, padahal perlu dipromosikan?

Sebenarnya saya memperhatikan itu semuanya. Alhamdulillah mereka sudah. Sekarang yang di bawah saya itu mereka sedang sibuk dengan kerjaannya. Jadi enggak ada yang terabaikan. Mereka lagi aktif di pekerjaannya. Mungkin Insya Allah kalau selesai mereka bekerja, mereka pasti – dipekerjakan oleh pemerintah. Untuk di daerah masing-masing mereka itu sih melatih, membimbing anak-anak kecil. Mungkin kalau pekerjaannya sudah selesai. Saya kan sudah mau pensiun nih di kantor, jadi saya bisa melatih di pusat.

Bagaimana pendapat Anda tentang semua atlet panahan yang berprestasi dan mengharumkan bangsa – tidak hanya di Olimpiade – bisa menjadi pahlawan negara?

Saya rasa intinya itu dari dasar disiplin. Dengan disiplin diri ya kan, dia tahu. Jadi gini, kalau seandainya orang mempunyai cita-cita, keinginan, tapi prosesnya itu enggak ada, dan enggak mempunyai dasar yang kuat, seperti saya bilang tadi disiplin, biar bagaimana juga akan susah – meraih prestasi di kancah internasional dan mengharumkan Indonesia.

Itu kalau ingin menjadi pahlawan. Jadi kalau orang menginginkan sesuatu atau menjadi pahlawan, atau mau mengibarkan Merah Putih dengan cara lain di event besar itu ya intinya disiplin, kerja keras. Bisa, dan itu saya terapkan di Pelatnas. Semua bisa terjadi. Saya hanya kasih poin itu.[]

bersambung...

 

 

Editor: Hervin Saputra

berita terkait

Image

Olahraga

Asian Games Jakarta-Palembang 2018

Terinspirasi Pencak Silat, Tim Panahan Dilatih Meditasi

Image

Olahraga

Asian Games Jakarta-Palembang 2018

Atlet Panahan Indonesia Pertajam Akurasi Tembakan Demi Medali Emas

Image

Olahraga

Asian Games Jakarta-Palembang 2018

Menpora Beberkan Target Atlet Panahan di Asian Games

Image

News

Srikandi KCK Kodam Diponegoro Raih Medali Perak di Kejuaraan Panahan KASAU CUP 2018

Image

Olahraga

Asian Games Jakarta-Palembang 2018

Pelatih Panahan Bersiap Bawa Timnya ke China dan Turki

Image

Olahraga

Asian Games Jakarta-Palembang 2018

Pemerintah Disebut Kucurkan Dana Rp 70 Miliar untuk Asian Games

Image

Olahraga

Asian Games Jakarta-Palembang 2018

Riau Ega: Korsel Diunggulkan, Tapi Kita Tak Perlu Takut

Image

Olahraga

Asian Games Jakarta-Palembang 2018

Tim Panahan Indonesia Belum Bisa Memprediksi Kekuatan Lawan

Image

Olahraga

Asian Games 2018

Panahan Jadikan Kejuaraan Dunia Sebagai Tryout Jelang Asian Games 2018

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News
Menuju Pilpres 2019

SMRC: SBY Sangat Tergoda Jika Prabowo Tawarkan AHY Cawapresnya

Demokrat yang memandang Pemilu 2019 sebagai ajang kaderisasi.

Image
News

Cina-AS Bergandengan Tangan Atasi Perubahan Iklim Global

Para cendekiawan dan profesional akan bertemu di Konferensi Tingkat Tinggi Cina-AS tentang Energi dan Perubahan Iklim.

Image
News

PKB Klaim 1000 Persen Tidak Bajak Kader dari Partai Lain Terkait Bacaleg

PKB 1.000 persen tidak ada yang membajak kader partai lain, dalam pengertian dibayar, kami tidak melakukan itu.

Image
News

Tahun Ini Gorontalo Akan Berangkatkan Sebanyak 996 Calhaj

Kantor Kesehatan Pelabuhan Makassar sudah menyatakan akan menjamin penanganan pasien selama sakit hingga sehat.

Image
News

Jadi Tempat Penyebaran Radikalisme, LDNU Serukan Kelompok Moderat Kendalikan Masjid

Banyaknya masjid yang ditengarai menyebarkan kebencian bisa jadi karena dikuasai oleh kelompok garis keras.

Image
News

Polisi Segera Selidiki Sidik Jari Pada Botol Bom Molotov yang Tersisa

Ada dua buah botol bom molotov. Satu botol masih utuh, sedangkan botol lainnya pecah dan ujungnya telah terbakar.

Image
News

Satu Lagi Korban Kapal 'Joko Berek' Ditemukan

Satu korban masih dinyatakan hilang.

Image
News

Operasi Libas Lodaya, 22 Penjahat Jalanan Dilibas

Polisi menyita 10 unit sepeda motor, tiga unit mobil, delapan unit HP serta 13 buah helm

Image
News

Serangan Siber, Singapura Kecurian Data Medis 1,5 Juta Orang

Peretas bukan kadangan atau geng kriminal.

Image
News

Golkar: Wapres Jokowi Harus yang Paham Masalah Ekonomi

"Silahkan dicek mana cawapres yang konon ada di kantongnya yang punya visi ekonomi"

Image
News

Terkait Suap, KPK Geledah Rumah Pejabat PUPR

Tim KPK yang menggeledah rumah Agus Sulistyono diangkut menggunakan tiga unit mobil jenis minibus.

Image
News
Menuju Pilpres 2019

Diam-diam AHY Bangun Hubungan Batin dengan Sejumlah Tokoh, Jokowi Apa Prabowo?

Demokrat diakui tidak mudah membangun koalisi baru.

trending topics

terpopuler

  1. Faizal: Bom Molotov di Rumah Mardani Bisa Jadi Kerjaan Kader PKS Sendiri

  2. Bamsoet: yang Penting Wakilnya Pak Jokowi Jangan dari Singapura atau Amerika

  3. Panglima TNI Ungkap Kelompok Kejahatan Terorganisir yang Baru

  4. Ngaku Lupa, Jaksa KPK Tunjukkan Boediono Hasil Ratas Terkait Penghapusan Hutang BDNI

  5. Ngabalin Jadi Komisaris, Ferdinand: Memacu yang Lain Puji Jokowi Mati-matian

  6. Berbahaya, Semua Powerbank yang Dibawa Calon Haji Disita Petugas Bandara

  7. Ini Candaan Rizal Ramli yang Bikin SBY 'Ngakak'

  8. Geger, Warga Dikejutkan Dengan Penemuan Mayat Mengapung di Sungai Tukad Mati

  9. Tasnya Dicuri, Pria Ini Hidup Bergelandang Selama Puluhan Tahun di Thailand

  10. Begini Penampakan Ombak Besar di Pantai Selatan Jogja, Ngeri

fokus

Idul Fitri 2018
Mudik Lebaran 2018
Piala Dunia Rusia 2018

kolom

Image
UJANG KOMARUDIN

Rame-rame Jadi Caleg

Image
Ridwansyah

Jakarta Bersolek untuk Asia

Image
Achmad Fahruddin

Politik Bohir Pencalegan

Image
Ujang Komarudin

Menanti Cawapres Jokowi

Wawancara

Image
News

Hari Kartini

Sehebat Apapun Wanita, Jangan Lupakan Kodratnya!

Image
News

Ariani Soekanwo, Tunanetra Pejuang Hak Politik Disabilitas

Image
News

Pembenahan Alutsista TNI dalam Pandangan Susaningtyas Kertopati

Sosok

Image
News

Brigjen Pol Teddy Minahasa Raih Bintang Bhayangkara Nararya dari Presiden Jokowi

Image
News

Menteri Termuda Kabinet Mahathir, Syed Saddiq Siap Jadi Panutan Pemuda Malaysia

Image
News

Idul Fitri 2018

8 Kali Puasa dan 8 Kali Lebaran, Polisi Ini Selalu Berada di Jalanan