image
Login / Sign Up

Kisah Masa Lalu Dita yang Bersama Anak Istri Ngebom Tiga Gereja Surabaya

Siswanto

Image

Foto Keluarga Teroris Bom Surabaya | Dokumentasi

AKURAT.CO, Serangan bom bunuh diri di tiga gereja Kota Surabaya, kemarin, dilakukan satu keluarga. Yakni, pasangan suami istri, Dita Supriyanto dan Puji, serta keempat anak mereka, Y (18), FH (16), FS (11), dan P (9).

Atas seizin Ahmad Faiz Zainuddin, AKURAT.CO mengutip ceritanya. Faiz merupakan adik kelas Dita sewaktu duduk di SMA 5 Surabaya dan Fakultas Ekonomi Universitas Airlangga Surabaya.

Faiz menceritakan kisah pertemanannya hingga ketakutannya terhadap aktivitas kawannya itu. 

baca juga:

"Dan akhirnya kekhawatiran saya sejak 25 tahun lalu benar-benar terjadi saat ini," tulis Faiz.

Selama ini Faiz mengenal keluarga temannya itu sebagai keluarga yang baik, seperti keluarga muslim yang lain.

Cerita Faiz diberi judul: Dari Islam Muram dan Seram, Menuju Islam Cinta dan Ramah.

Berikut ini kisah dari Faiz yang dikutip AKURAT.CO:

Dita Oepriarto adalah Kakak kelas saya di SMA 5 Surabaya Lulusan ‘91 dan FE UNAIR Surabaya. Saya tidak pernah kenal langsung sama dia, tapi cukup bisa berempati dan memahami pergolakan batin dan nuansa pemikiran garis kerasnya.

Dia bersama-sama istri dan 4 orang anaknya berbagi tugas meledakkan diri di 3 gereja di surabaya. Keluarga yang nampak baik-baik dan normal seperti keluarga muslim yang lain, seperti juga keluarga saya dan anda ini ternyata dibenaknya telah tertanam paham radikal ekstrim.

Dan akhirnya kekhawatiran saya sejak 25 tahun lalu benar-benar terjadi saat ini.

Saat saya SMA dulu, saya suka belajar dari satu pengajian ke pengajian, mencoba menyelami pemikiran dan suasana batin dari satu kelompok aktivis islam ke kelompok aktivis Islam yang lain. Beberapa menentramkan saya, seperti pengajian “Cinta dan Tauhid” Alhikam, beberapa menggerakkan rasa kepedulian sosial seperti pengajian Padhang Mbulan Cak Nun. Yang lain menambah wawasan saya tentang warna warni pola pemahaman Islam dan pergerakannya.

Diantaranya ada juga pengajian yang isinya menyemai benih-benih ekstrimisme radikalisme. Acara rihlah (rekreasinya) saja ada simulasi game perang-perangan. Acara renungan malamnya diisi indoktrinasi islam garis keras.

Pernah di satu pengajian saat saya kuliah di UNAIR, saya harus ditutup matanya untuk menuju lokasi. Sesampai disana ternyata peserta pengajian di-brainwash tentang pentingnya menegakkan Negara Islam Indonesia. Dan untuk menegakkan ini kita perlu dana besar. Dan untuk itu kalau perlu kita ambil uang (mencuri) dari orang tua kita untuk disetor ke mereka.

Bahkan ketua Rohis saya di buku Agendanya menyebut profesi dirinya bukan pelajar SMA, tapi Mujahid. Karena memang saat itu majalah Sabili sangat laris di sekolah kami. Isinya banyak menampilkan secara Vulgar pembantaian etnis muslim Bosnia oleh Serbia. Dan ini dijadikan pembakar semangat anak-anak muda jaman saya waktu itu untuk menjadi “mujahid-mujahir pembela islam”, beberapa akhirnya berangkat beneran ke medan perang.

Dari pengalaman menjelajah berbagai versi pemikiran dan aktivis islam dari yang paling radikal sampai liberal itu, dari sunni, sufi, wahabi, syiah, NII, dan lain-lain itu, saya menyadari walaupun Islam ini mestinya satu, tapi ada banyak versi cara orang memahaminya, sehingga melahirkan banyak versi ekspresi keislaman dan pola tindakan.

Dan dari semua versi tadi, yang paling saya khawatirkan adalah versi kakak kelas saya mendiang Dita Supriyanto yang jadi ketua Anshorut Daulah cabang Surabaya ini. Saya sedih sekali akhirnya ini benar-benar terjadi, tapi saya sebenarnya tidak terlalu kaget ketika akhirnya dia meledakkan diri bersama keluarganya sebagai puncak “jihad” dia, karena benih2 ekstrimisme itu telah ditanam sejak 30 tahun lalu.

Dia mengingatkan saya pada kakak kelas lain, ketua rohis SMA 5 Surabaya waktu itu, yang menolak ikut upacara bendera karena menganggap hormat bendera adalah syirik, ikut bernyanyi lagu kebangsaan adalah bid’ah dan pemerintah Indonesia ini adalah thoghut.

Waktu itu sepertinya pihak sekolah tidak menganggap terlalu serius. Karena memang belum ada bombom teroris seperti sekarang. semua sekedar “gerakan pemikiran”. Memang dia dipanggil guru Bimbingan Konseling (BK) untuk diajak diskusi, tapi kalau sebuah ideologi sudah tertancap kuat, seribu nasehat ndak akan masuk ke hati. Dan Akhirnya pihak sekolah menyerah, toh dia tidak bertindak anarkis, bahkan terkenal cerdas, lemah lembut dan baik hati.

Akhirnya Ketua rohis saya ini tiap upacara bendera i’tikaf di mushola sekolah. Btw kadang saya kalau lagi males upacara, ikut menemani dia di mushola dan ikut mendegarkan siraman rohaninya. Dan yang seperti ketua rohis saya ini tidak hanya di SMA 5, tapi yang saya tahu ada di hampir semua SMA dan kampus di surabaya atau bahkan di seluruh Indonesia.

Yang ingin saya katakan, Terorisme dan budaya kekerasan yang kita alami saat ini adalah panen raya dari benih-benir ekstrimisme-radikalisme yang telah ditanam sejak 30-an tahun yang lalu di sekolah-sekolah dan kampus-kampus. Saya tidak tahu kondisi sekolah dan kampus saat ini, tapi itulah yang saya rasakan jaman saya SMA dan kuliah dulu.

Mohon jangan salah paham, main stream-nya pergerakan islam di sekolah dan kampus ini tidak se-ekstrim kakak kelas saya tersebut. Tapi ada cukup banyak yang sifatnya sembunyi-sembunyi dimana saya waktu itu ikut merasakan ngaji bersama mereka.

Serangkaian bom di tanah kelahiran saya dengan tempat-tempat yang sangat akrab di telinga dengan segala kenangan masa kecil, plus pelaku utama yg terasa begitu dekat dengan memori masamasa SMA-Kuliah dulu ini membuat saya tersentak bahwa Ekstrimisme, Radikalisme, bahkan Terorisme ini sudah menjadi “Clear and Present Danger”. Ini tidak lagi sebuah film di bioskop atau berita koran yang terjadi nun jauh di negeri seberang. Ini sudah terjadi disini dan saat ini disekitar kita.

Maka kita harus menetralisir kegilaan ini sampai ke akar-akarnya. Tidak ada gunanya kita melakukan penyangkalan (denial) bahwa ini cuman rekayasa, pelakunya ndak paham islam, ini bukan bagian dari ajaran islam, ini pasti cuman adu domba, dll.

Nyatanya pelakunya masih sholat subuh berjamaah di mushola, lalu satu keluarga berpelukan sebelum mereka menyebar ke 3 gereja unt meledakkan diri.

Nyatanya memang ada saudara-saudara kita yang memahami islam versi garis keras yang hobinya mengutip mentah-mentah ayat-ayat perang dan melupakan substansi “cinta dan kasih sayang” sebagai inti ajaran Islam.

Nyatanya memang benih-benih radikalisme, ekstrimisme ini telah ditabur 30 tahun terakhir di pikiran anak-anak muda kita, di sekolah-sekolah terbaik dan di kampus-kampus top di Indonesia. Dan kalau akhirnya mewujud menjadi tindakan nyata terorisme, mestinya tidak mengagetkan kita.

Kalau kita masih saja melakukan penyangkalan, maka kita ndak akan pernah berbenah diri. Tapi kalau kita insyaf bersama, Kalau kita dengan gentle mengakui - bahwa IYA memang kita sedang sakit, bahwa memang ada banyak diantara kita, dan saudara-saudara kita yang memahami Islam versi garis keras, yg merasa bahwa Islam harus diperjuangkan dengan kekerasan - maka kita bisa mulai mengambil langkah-langkah solutif.

Dan langkah-langkah solutif nyata yang bisa kita lakukan diantaranya adalah:

1. Mulai menetralisir alias melunakkan paham islam garis keras dan mulai menyebar luaskan paham islam moderat (washothiyah).

2. SMA-SMA dan Kampus-kampus harus disterilkan dari gerakan-gerakan bawah tanah islam garis keras, diganti dengan kemeriahan dan kegembiraan aktivitas islam yg menebarkan “cinta dan welas asih” pada sesama manusia.

3. Sosial media harus dipenuhi kampanye “islam yg ramah dan penuh kasih sayang”. Bukan islam yg keras, penuh umpatan, dan kata2 kasar, apalagi hoax dan berdarah2.

4. Pertarungan politik mohon jangan lagi menggunakan isu SARA sebagai komoditas rebutan kekuasaan. Apalagi disertai kampanye hitam saling menghujat yg membuat bahkan setelah selesai Pilkada/Pilpres-nya masyarakat jadi terbelah saling bermusuhan.

5. Mawas diri dan sama2 menahan diri dalam menyikapi perbedaan2 dalam penafsiran Islam. Islamnya satu dan sumbernya sama, tapi nyatanya cara kita memahaminya bisa macem2. Dan ini fenomena psikologi yg wajar. Ayo tebarkan sikap saling memahami dan berempati, bukannnya saling curiga dan menyalahkan. Islam harus dipulihkan reputasinya dari wajah muram penuh kekerasan menjadi wajah ramah penuh Cinta pada sesama manusia.

Benar kata Muhammad Abduh, cendekiawan muslim abad 20, “Al-islamu Mahjubun bil muslimin”, Keindahan Islam ini terhijab/tertutupi oleh akhlak buruk sebagian umat islam sendiri”. Jadi mari kita yg akan bersama2 memulihkan wajah Indah Islam.

Terakhir, mari kita dengar seruan seorang remaja islam peraih Nobel Perdamaian, Malala Yousafzai:

“Peluru hanya bisa menewaskan teroris, tapi hanya PENDIDIKAN-lah yg bisa melenyapkan paham terorisme (sampai akar2nya: radikalisme, ekstrimisme)”

Love & Peace for all of us..

And for my beloved Christian brothers & sisters.. my deep condolence for all of you.. from the bottom of my heart, I am really sorry..

STAY SAVE.. SPREAD COMPASSION..

Saya yg sedang berduka,

Ahmad Faiz Zainuddin
Alumni SMA 5 Surabaya Lulusan 1995
FE UNAIR Angkatan 1995 & Fakultas Psikologi UNAIR Angkatan 1996

Editor: Siswanto

berita terkait

Image

News

Bom Bunuh Diri di Kabul Tewaskan 7 Orang dan Belasan Luka-luka

Image

News

Bom Bunuh Diri Meledak di Pakistan, 128 Orang Tewas di Lokasi Kejadian

Image

News

Sekjen PBB Kutuk Serangan Bom Bunuh Diri di Afghanistan Timur

Image

News

Bom Bunuh Diri Meledak di Afghanistan, 20 Orang Tewas Seketika

Image

News

Paska Bom Surabaya, Raperda Toleransi Dimatangkan Dengan Undang TNI/Polri

Image

News

Idul Fitri 2018

Tito : Polri Amankan 110 Terduga Teroris Terkait Bom Surabaya

Image

News

Bom Bunuh Diri Guncang Kabul, 12 Orang Tewas dan 31 Terluka

Image

News

Bom Bunuh Diri di Pintu Masuk Pertemuan Ulama

Image

News

Paska Pengeboman, Kapolri dan Panglima TNI Safari Ramadan ke Mapolrestabes Surabaya

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Tommy Soeharto Jadi Caleg Berkarya Dapil Papua

Image
News

Antisipasi Kepadatan, PPP Pilih Daftar Malam Hari

DPP PPP baru menyerahkan daftar Caleg ke KPU di hari terakhir, Selasa 17 Juli 2017 pukul 23.10 WIB.

Image
News

IKADI Imbau Jangan Jadikan Rumah Ibadah untuk Pecah Belah Bangsa

Rumah ibadah hendaknya menebar pesan perdamaian, bukan justru menjadi alat memecah belah.

Image
News

Yusuf Supendi Yakin Perkuat Basis Pemilih PDIP dari Kaum Santri

Politisi PDI Perjuangan Yusuf Supendi yakin bisa memperkuat basis pemilih partai tersebut yaitu kaum santri pada Pemilu 2019.

Image
News

Kapolri: Para Elite Gunakan Kelompok Radikal untuk Kepentingan Politik

"Ketika orang ingin berkuasa terkadang menghalalkan segala cara, termasuk cara-cara yang bisa mengorbankan pecahnya negara ini,"

Image
News

Mendagri Lantik Deputi BNPP sebagai Pj Gubernur NTT

Usai pengambilan sumpah jabatan, Pj Gubernur NTT melakukan penandatanganan berita acara dan pakta integritas.

Image
News

Calhaj Kloter 1 Embarkasi Pondok Gede Diberangkatkan ke Arab Saudi

Dari 393 Calhaj itu, Laki-laki berjumlah 169 orang dan 224 lainya perempuan.

Image
News

Bupati Labuhanbatu Diduga Terlibat Suap Penanganan Proyek PUPR di Daerahnya

Bupati Labuhanbatu, Pangonal Harahap diduga terlibat kasus suap penanganan proyek PUPR yang tengah bergulir di daerahnya.

Image
News

Nenek 55 Tahun di Makassar Diduga Tewas Ditangan Perampok

Kejadian pertama kali diketahui oleh keponakan korban, Sanneng Daeng Liwang (50).

Image
News

Ucapkan Terima Kasih, Jokowi Minta Babinsa Pantau Terorisme

"Pilkada bisa berjalan dengan lancar, dengan aman, dengan damai, karena ini berkat kerja keras saudara-saudara semuanya"

Image
News

Resmi Daftar ke KPU, Golkar Yakin Ulangi Kemenangan Pemilu 2019

Lodewijk F Paulus melakukan pendaftaran bakal calon anggota legislatif DPR RI ke Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Image
News

Polres Rejang Lebong Ringkus Seorang Penyalahguna Narkoba Jenis Sabu

Kepolisian Resor Rejang Lebong, Polda Bengkulu menangkap seorang pelaku penyalahguna narkoba jenis sabu-sabu di daerah ini.

trending topics

terpopuler

  1. Bisa Bangun Mini Market, Kapolri Pertanyakan Asal Uang AKBP Yusuf

  2. Bima Arya: Kira-kira Rasanya Apa Kalau Ini Saya Babat Ke Leher Kalian?

  3. Eks Panglima GAM: Apabila Irwandi Tak Dipulangkan, Kita Harus Siap Angkat Senjata

  4. Hapus Obat Kanker, Jokowi dan Menkes akan Digugat

  5. DPRD Bakal Gunakan Hak Bertanya Terkait Kebijakan Kontroversi Anies-Sandi

  6. Tweet Berbuntut Panjang, Penyelam Inggris Gugat Elon Musk

  7. Wali kota Jaktim Dipensiunkan Lewat WA, Sandiaga: Itu Cara Zaman Now

  8. Fadli Digambarkan seperti Sales Gara-gara Sebut Pemimpin Planga Plongo Bikin Terpuruk

  9. Sedikitnya 5 Meninggal dan Ribuan Dilarikan Rumah Sakit akibat Gelombang Panas di Jepang

  10. Koalisi Pejalan Kaki Menolak Proyek 6 Ruas Jalan Tol Dalam Kota Dilanjutkan

fokus

Idul Fitri 2018
Mudik Lebaran 2018
Piala Dunia Rusia 2018

kolom

Image
Achmad Fahruddin

Politik Bohir Pencalegan

Image
Ujang Komarudin

Menanti Cawapres Jokowi

Image
Ujang Komarudin

Mencari Cawapres Ideal

Image
Iwan Setiawan

Membaca Kiprah #2019GantiPresiden Jelang Pilpres

Wawancara

Image
News

Hari Kartini

Sehebat Apapun Wanita, Jangan Lupakan Kodratnya!

Image
News

Ariani Soekanwo, Tunanetra Pejuang Hak Politik Disabilitas

Image
News

Pembenahan Alutsista TNI dalam Pandangan Susaningtyas Kertopati

Sosok

Image
News

Brigjen Pol Teddy Minahasa Raih Bintang Bhayangkara Nararya dari Presiden Jokowi

Image
News

Menteri Termuda Kabinet Mahathir, Syed Saddiq Siap Jadi Panutan Pemuda Malaysia

Image
News

Idul Fitri 2018

8 Kali Puasa dan 8 Kali Lebaran, Polisi Ini Selalu Berada di Jalanan