image
Login / Sign Up

Sehebat Apapun Wanita, Jangan Lupakan Kodratnya!

Yudi Permana

Hari Kartini

Image

Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun) Perempuan pertama di Indonesia, Loeke Larasari Agoestina. | AKURAT.CO/Yudi Permana

AKURAT.CO, Tanpa terasa, sudah 54 tahun kita memperingati 21 April sebagai Hari Kartini. Di hari ini, kita semua kembali diingatkan soal besar dan bermaknanya perjuangan Kartini sebagai pelopor emansipasi perempuan di Indonesia.

Kita kembali diingatkan, bahwa Indonesia pernah memiliki seorang pejuang keadilan perempuan, yang oleh karena jasanya, kini perempuan Indonesia punya hak yang setara dengan lelaki.

Dalam memperingati Hari Kartini, secara eksklusif AKURAT.CO mewawancarai seorang Jaksa Agung Muda Perdata dan Tata Usaha Negara (Jamdatun) Perempuan di Indonesia, Loeke Larasari Agoestina. Sebagai Jaksa, Loeke sukses mengemban berbagai jabatan di segala bidang yang ada dalam instansi Kejaksaan Agung. 

baca juga:

Berikut petikan wawancara dengan Loeke Larasari Agoestina di ruang kantornya, gedung Kejaksaan, Kebayoran, Jakarta Selatan, Jumat malam (20/4).

Bagaimana sosok Kartini menurut anda ?

Saya melihat sosok Kartini dalam setiap peringatan hari Kartini itu kita jangan hanya berkebaya, pakai konde. Akan tetapi kita juga harus ingat dibalik itu semua ada perjuangan sosok perempuan muda pada eranya yang sudah memperjuangkan hak-haknya dan berupaya untuk meningkatkan kesamaan atau kesetaraan antara prempuan dengan laki-laki pada waktu itu.

Jadi hal itu yang perlu kita ingat pada Hari Kartini kali ini. Karena pada waktu itu sudah ada seorang perempuan muda yang mencoba menaikan derajat perempuan, dengan caranya seorang perempuan harus bersekolah. Sementara pada waktu itu perempuan tidak diperbolehkan untuk sekolah, karena harus diam di rumah, dan tinggal menunggu menikah.

Dengan cara bagaimana kita mempertahankan semangat Kartini, khususnya di lingkungan kejaksaan sendiri?

Didalam era saat ini, tentu khususnya saya sekarang yang sedang ada di jajaran penegak hukum, maka didalam kita menjalankan tugas-tugasnya, kita harus ingat memperjuangkan kaum perempuan dalam segala hal.

Di jajaran posisi sekarang ini mungkin di samping hak kita yang harus melaksanakan kewajibannya, kita juga harus berani dan mampu bersaing bukan dalam arti kata sehat. Tapi dari sisi kemampuan dan profesional. Akan tetapi jangan lupa bahwa sebagai seorang penegak hukum yang harus tegas, berani, kuat, ulet, ada sisi kodrat perempuan yang nggak boleh di lupakan. Tentu disitu ada sifat kelembutan, dan nurani yang harus berbicara, seperti ke-ibuan. Disamping itu juga ada tugas lain sebagai seorang istri atau ibu. Itu juga jangan dilupakan karena sudah menjadi kodratnya.

Seberapa besar kah pengaruh semangat Kartini untuk karier anda?

Kita tetap berjuang dengan apa yang diimpikan dan diinginkan. Kita juga harus berjuang untuk meraih mimpi dalam berkarier, yang tentu bukan hanya sebagai penegak hukum saja, melainkan juga sebagai Ibu Rumah Tangga (IRT) yang dimana pekerjaan itu sangat luar biasa.

Saya sangat menghargai posisi seorang IRT, karena Ibu saya sendiri sebagai ibu rumah tangga. Dan pekerjaan IRT bukan pekerjaan yang disepelekan, tapi harus di hargai karena dari pagi sampai sore tidak ada berhenti. Berbeda dengan kita yang berkerja di kantor, pasti ada berhentinya.

Kalau perempuan punya dua sisi, kalau dia berkarier, maka dia harus bisa memperjuangkan haknya. Tapi dengan tidak melupakan kewajibannya juga yakni sebagai seorang ibu.

Jadi menurut saya hari Kartini adalah suatu momen bagi kita kaum perempuan untuk dapat lebih meningkatkan eksistensi dirinya. Tentu juga dengan kemampuan yang ada pada kita secara profesional, tapi dengan tidak melupakan sifat ataupun kodratnya bahwa kita adalah kaum perempuan.

Artinya sangat besar pengaruh Kartini terhadap karier anda di kejaksaan?

Iya sangat besar, karena mungkin pada waktu itu apabila RA Kartini tidak mendobrak dengan semangatnya situasi dan kondisi pada kala itu, saya enggak tahu apakah perempuan indonesia akan ada yang jadi menteri, presiden, yang intinya bekerja di luar rumah. Jadi itu semua merupakan buah hasil perjuangan Kartini.

Sebagai Jamdatun wanita pertama, adakah suka duka yang dirasakan selama berkarir menjadi jaksa?

Kayanya suka semua deh. Kalau duka saya agak sulit juga ya, artinya semua jenjang pasti ada suka dan dukanya. Saya dari awal menjadi CPNS, PNS, artinya semua jenjang itu memang saya harus lalui, dan tentunya memberikan yang terbaik pada diri saya untuk institusi adhyaksa ini.

Kiprah anda sendiri di kejaksaan gimana?

Yang jelas kalau saya sebagai jaksa saya boleh berbangga hati. Jaksa di kejaksaan itu ada 6 bidang, ada BIN (Pembinaan), Intelijen, Pidana Umum (Pidum), Pidana Khusus (Pidsus), Perdata dan Tata Usaha Negara (Datun), Pengawasan (Was), kemudian Badiklat. Dalam tugasnya jaksa melakukan penuntutan, seperti Pidum, kasus korupsi, dan perkara perdata.

Sementara dalam karir, saya sudah pernah merasakan sebagai Jaksa Pengacara Negara (JPN). Karena sepengetahuan saya, pada teman-teman JPU (Jaksa Penuntut Umum) belum tentu dia pernah sebagai JPN. Dan teman-teman di datun (perdata dan tata usaha negara) yang pernah merasakan sebagai JPN, ada juga yang belum pernah menjadi JPU. Selain itu, saya juga sudah pernah menjalankan sebagai jaksa yang menangani tipidum (tindak pidana umum). Dibalik itu semua Saya yang belum menjalani di bidang pengawasan.

Salah satu kasus yang luar biasa pada waktu itu, yang pernah Saya tangani untuk penanganan perkara di datun yakni kasus gugatan yang dilayangkan majalah tempo. Saya salah satu JPN dengan segala berbagai macam kondisi dan situasi pada waktu itu. Dan itu pengalaman perkara perdata dan TUN yang sangat luar biasa untuk saya. Pada waktu itu jaksanya almarhum Benyamin Mangkudilana. Pada waktu itu bahkan sampai tingkat Mahkamah Agung (MA) dan sidangnya terbuka di MA. Pada akhirnya kita (pemerintah) kalah secara terhormat.

Lantas kiat dan bagaimana untuk mencapai karier yang lebih tinggi dan mempertahankannya?

Kalau untuk saya intinya bekerja baik positif thingking, tulus dan ikhlas, itu saja. Kita diperintah pimpinan ya entah pekerjaan itu apa aja, ini yang selalu saya berikan pengetahuan kepada teman-teman jaksa. Walaupun dia jaksa, kadang-kadang pimpinan itu meminta tolong untuk mengantarkan surat kesana. Ada juga jaksa yang menolak karena jaksa kenapa disuruh untuk antarkan surat. Karena bisa aja menyuruh kurir untuk mengantarkan surat dan lain-lain. Jaksa nggak tahu, dibalik itu apa yang diharapkan oleh pimpinan kalau dia berangkat mengantarkan suratnya.

Ada tidak kesetaraan gender antara di tingkat pimpinan? Karena bisa saja jaksa perempuan kurang diperhitungkan?

Alhamdulillah diperhitungkan. Di era sekarang saat ini, Kajati (Kepala Kejaksaan Tinggi) sudah ada beberapa dari perempuan, di level Kajari cukup banyak perempuan, dan Wakajati juga banyak yang perempuan dari 31 Provinsi di Indonesia ada 3. Jadi itu suatu hal yang luar biasa untuk institusi Kejaksaan ini. Artinya dalam rangka mengakomodir kemampuan dari ibu-ibu Jaksa yang dianggap mampu dan dianggap mau dan bisa, serta adanya kesempatan. Nah sekarang tinggal bagamana teman-teman Jaksa ini menggunakan peluang yang sudah diberikan kepadanya untuk mengembangkan, misalnya dia Wakajati, bagaimana dia bisa mempertahankan agar bisa naik lagi jabatan yang lebih tinggi dan naik lagi menjadi Kajati dengan cara memanagenya.

Kalau untuk saya, kita bekerja baik, tulus, positif thinking dan bekerja dengan hati.

Emansipasi wanita sudah merata belum di Indonesia?

Menurut saya sih sudah merata, cuman khususnya yang ada di desa-desa, masih banyak adanya pernikahan dini. Saya juga nggak tahu apakah pernikahan dini termasuk emansipasi wanita. Kemarin beberapa waktu lalu saya masih mendengar berita pernikahan di daerah Tapal Kuda, Jawa Timur, hal itu dikatakan adalah sebuah budaya. Karena memang ekonomi seorang keluarga itu kurang, akhirnya prempuan yang umur masih dibawah 16 tahun, di nikahkan dengan pemikiran untuk mengurangi beban ekonomi.

Tentu dalam kondisi seperti itu perlu juga ada terobosan, walaupun nantinya kita berhadapan dengan budaya yang sudah mengakar kuat. Jadi bukan suatu hal yang mudah untuk merubah menset penduduk-penduduk disitu. Mungkin kalau di level perkotaan, sudah banyak yang bekerja, baik di penegak hukum, Kepolisian, Kementerian, ibu-ibu atau perempuan yang tampil ke publik.

Tetapi begitu masuk ke pelosok desa-desa, masih ada yang belum merata seperti pernikahan dini. Kemudian ada juga KDRT antara suami dan istri masih ada, itu juga bentuk bagaimana seorang perempuan bisa mempertahankan haknya sebagai istri dan untuk melawan suami mungkin dilarang karena budaya, jadi menerima aja walaupun sudah dipukul juga.

Artinya di desa belum ada emansipasi wanita?

Kalau dikatakan belum ada, saya tidak bisa mengatakan seperti itu, karena Ibu Lurah ada, Kepala Desa perempuan juga ada, Ibu RT juga ada. Artinya belum semuanya, dan masih harus tetap di perjuangkan bersama untuk semua ibu-ibu Indonesia.

Jadi ibu-ibu dan semua prempuan harus tetap berjuang, bagaimana membuka atau mendobrak itu, seperti contoh pernikahan dini yang ada di beberapa daerah.

Jadi emansipasi wanita sudah ada, tapi kita masih tetap harus melihat fenomena dan kejadian seperti itu untuk mendobraknya.

Siapakah wanita yang layak dijadikan Kartini zaman now?

Ibu saya sendiri. Ibu saya seorang ibu yang sangat luar biasa. Karena ibu saya tidak bekerja, tapi atensi kepada anak-anaknya, hingga mampu menjadikan saya bisa seperti ini. sehingga saya bisa bekerja.

Pesan-pesan kepada wanita yang jadi Jaksa pada khususnya, dan umumnya wanita Indonesia?

Setinggi apapun jabatan ataupun pendidikan seorang wanita atau perempuan, tentu jangan sampai melupakan kodratnya sebagai wanita. Di situ ada ibu, istri dan ada prempuan. Jadi setinggi apapun dia (perempuan) itu dalam jabatannya, dan pendidikan, tetap jangan melupakan kodratnya, termasuk tetap menghormati suami sebagai bos yang paling tinggi. Dan satu hal lagi bahwa perempuan Indonesia hebat, Jaksa prempuan Indonesia juga hebat. []

Editor: Bismarc Lesmana

berita terkait

Image

Olahraga

Liga 1 U-19 Indonesia 2018

Persija Bertemu Persib, Final Liga 1 U-19 Ditunda

Image

News

Sering ke Luar Negeri, Anies Baswedan Harus Segera Punya Wakil Gubernur

Image

News

BMKG: Jakarta Berpotensi Hujan Mulai Siang Nanti

Image

News

Said Iqbal Minta Anies Baswedan Revisi UMP DKI

Image

News

Kolong Jembatan Skybridge Harus Steril dari Kegiatan agar Tidak Semrawut

Image

News

PKS: Tim Seleksi Cawagub DKI Hanya untuk Hormati Gerindra

Image

Iptek

Berkaca dari Singapura, Ini Siasat Menambah RTH di Jakarta

Image

News

BPBD: Update Kebakaran di Kapuk Jakarta Utara, Pabrik Furniture Menjadi Korban

Image

News

Pabrik di Kapuk Jakarta Utara Dilalap Si Jago Merah

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

BMKG Peringatkan Warga Aceh Utara terhadap Potensi Hujan di Malam Hari

Karena selain berpotensi terjadinya hujan ringan-sedang pada malam hari, juga diikuti oleh petir dan angin kencang

Image
News

Polres Jayapura Temukan Puluhan Motor Hasil Curian di Rusunawa

Puluhan motor tersebut ditemukan saat tim gabungan antara TNI dan Polri melakukan penggeledahan

Image
News

Kejari Banjarbaru Tahan 2 Pejabat Pemkot Terkait Korupsi

Sebelum ditahan, status keduanya sudah ditetapkan sebagai tersangka sejak awal Agustus 2018

Image
News

Seorang Dokter Muda Tewas Akibat Menghirup Gas Genset Indomaret di Lebak

Padahal sang dokter muda sedang dalam keadaan hamil

Image
News

Oknum Wartawan Pencuri Laptop Sekolah Berhasil Diamankan

Pelaku terungkap lewat hasil rekaman CCTV

Image
News
Menuju Pilpres 2019

Deklarasi Dukungan, Relawan GPS Diminta Ikhlas Menangkan Prabowo di Pilpres 2019

"Deklarasi ini adalah deklarasi spirit, deklarasi semangat, bahwa kita yakin dan akan memenangkan Prabowo-Sandi"

Image
News

Misbakhun Berbagi Ilmu ke Para Caleg Golkar di Pasuruan

Saya harap seluruh kader Golkar bisa merawat konstituennya dengan baik.

Image
News

Tolak Perda Syariat, DPR Sebut Grace dan PSI Tak Paham Hukum Indonesia

Masyarakat bisa mempertanyakan pemahaman Grace Natalie dan PSI tentang Pancasila, bahkan akan dipandang sebagai kelompok anti Pancasila.

Image
News

LSI Ajak Kader HMI Lakukan Fact Checking untuk Hindari Hoaks

Jadi memang penting kita membangun literasi baik digital atau tanpa digital, karena banyak beredar di media sosial.

Image
News

Fadli Zon: Apakah Ada yang Ingin RI Menjadi Kerajaan?

Fadli Zon mempertanyakan apakah perlu Indonesia menjadi kerajaan sehingga dibuat poster 'Raja'.

trending topics

terpopuler

  1. Legenda Liverpool Dihadiahi Gelar Kesatria Oleh Kerajaan Inggris

  2. Mabes Polri: Kelompok Radikal Sudah Kuasai Masjid 

  3. Gol Penalti Neymar Bawa Brasil Menang Atas Uruguay

  4. Air Tebu Ternyata Sangat Baik Melawan Kanker

  5. Berikut 10 Idol K-pop dengan Kekayaan Tertinggi, Idol-mu Ada?

  6. BPBD: Update Kebakaran di Kapuk Jakarta Utara, Pabrik Furniture Menjadi Korban

  7. Hujan Diperkirakan akan Menyelimuti Jabodetabek Hari Ini

  8. Agar ASI Lancar Melimpah, Makanan Ini Ya Bun!

  9. Awas, China Larang Impor Sampah, Indonesia Bersiaplah Banjir Limbah

  10. Dimutasi Ke Polda Metro Jaya, Kompol Netty Malah Dapat Tiga Penghargaan 

fokus

Semangat Pahlawan di Dadaku
Info MPR RI
Tragedi Lion Air

kolom

Image
Achmad Fachrudin

Sengkarut Penundaan Penetapan DPT

Image
Ujang Komarudin

Buta dan Budek dalam Politik

Image
Pangi Syarwi Chaniago

Bising di Ruang Publik: Perang Diksi Namun Jauh dari Substansi

Image
Karyono Wibowo

Harus Dibedakan antara Penegakan Hukum dan Kriminalisasi

Wawancara

Image
News

DKPP, Penjaga Marwah dan Etika Penyelenggara Pemilu yang 'Haus' Infrastruktur

Image
Olahraga

Piala Libertadores 2018

"Mari Jadikan Final Boca-River Tanpa Kekerasan"

Image
News

Alissa Wahid: Membawa Sumpah Pemuda 1928 ke Anak Milenial

Sosok

Image
Hiburan

Fauzan Musaad, Pelukis Mural Raden Saleh Raksasa di Planetarium Cikini

Image
Hiburan

Ini Alasan Ajip Rosidi Kembalikan Piagam dan Uang Rp200 Juta dari Habibie

Image
Ekonomi

Cukai Rokok Batal Naik, Kekayaan Bersih Para Pengusaha Ini Tambah Moncer