image
Login / Sign Up

Kuasa Hukum Yunadi Nilai Penangkapan yang Dilakukan KPK Tak Normal

Yudi Permana

Image

Pengacara Setya Novanto, Friedrich Yunadi ditetapkan sebagai Tersangka KPK pada Sabtu (13/1) pagi | AKURAT.CO/ Yudi Permana

AKURAT.CO, Kuasa Hukum Fredrich Yunadi, Sapriyanto Refa menyesalkan cara-cara yang dilakukan komisi pemberantasan korupsi (KPK) dalam menangkap kliennya. Yunadi ditangkap komisi antirasuah itu, Jumat (12/1) malam.

"Kami sangat menyayangkan cara-cara yang dilakukan KPK," kata Sapriyanto usai mendampingi Fredrich menjalani pemeriksaan di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Sabtu (13/1)

Dia mengungkapkan, pihaknya sudah mengajukan surat permohonan penundaan pemeriksaan, sebelum penangkapan itu dilakukan KPK. Alasannya, Yunadi akan menjalani pemeriksaan etik yang dilakukan organisasi advokat.

"Memang hari kemarin itu kan panggilan untuk tangal 12, yang (surat pemanggilan) dikirim tangal 9 Januari. Kami juga sudah mengajukan permohonan untuk penundaan. Sebagai iktikad baik kami menghargai KPK," kata dia.

baca juga:

"Maka kami juga datang pagi-paginya itu pada tangal 12 itu untuk menanyakan apakah permohonan kami itu dikabulkan atau tidak. Kalau tidak dikabulkan juga nggak ada masalah, namanya permohonan," lanjut dia.

Namun, kata Refa, dalam jangka waktu 1 hari itu belum berakhir, KPK telah mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap kliennya. Ia merasa, tindakan KPK tersebut telah melecehkan profesi advokat. ‎

"Surat penangkapan tadi malam. Terus terang kami merasa juga terlecehkan, karena kami lihat kalau pengacara saja diperlakukan seperti ini, maka berbahaya untuk pengacara-pengacara yang lain. Dan juga apalagi masyarakat yang mungkin nggak paham hukum kalau diperlakukan seperti itu," kata dia.

Refa menjelaskan, KPK seharusnya melakukan pemanggilan yang kali kedua jika pemanggilan pertama tak dipenuhi yang bersangkutan. Langkah penangkapan yang dilakukan KPK tadi malam itu menurutnya tak normal.

"Mestinya normal-normal saja, kalau sekali dipanggil memang nggak bisa hadir, lalu dipanggil untuk kedua kalinya. Kalau kedua nggak bisa hadir, baru di jemput paksa. Ini kan nggak," terangnya. ‎

Ia pun mengaku, penangkapan tersebut diluar perkiraan pihak kuasa hukum. Padahal waktu terakhir pemanggilan yang pertama belum habis. "Karena disuruh datang tangal 12 sampai jam 00.00 WIB. Ini ternyata nggak, karena jam 10 sudah dijemput paksa," tandasnya.[]

Editor: Suriaman Panjaitan

berita terkait

Image

News

Kasus Kasus BLBI Ngaku Lupa, Jaksa KPK Tunjukkan Boediono Hasil Ratas Terkait Penghapusan Hutang BDNI

Image

News

Penyuap Bupati Labuhanbatu Akhirnya Ditahan KPK

Image

Hiburan

Artis Berpolitik

Diusung PDIP, Tina Toon Beberkan Alasannya

Image

Hiburan

Jadi Caleg, Tina Toon Akui Ada Panggilan Hati

Image

News

Mural di Jagakarsa dan Jatinegara Semarakkan Perhelatan Asian Games

Image

Ekonomi

Aksi Profit Taking Gerogoti IHSG Pasca BI Tahan Suku Bunga

Image

News

Dihadiri Megawati, Ratas Tidak Simpulkan Penghapusbukuan Utang Sjamsul Nursalim

Image

News

Sidang Kasus BLBI Kesaksian Boediono Sudutkan Syafruddin Temenggung

Image

News

Soal Perombakan Pejabat, Sandiaga: Mereka yang Dimutasi Pejabat Terbaik di DKI

komentar

Image

0 komentar

terkini

Image
News

Pengisian Jabatan 4 Komisioner KPU NTB Rampung di Bulan Juli

Karena dua orang anggota KPU dinyatakan telah lolos oleh Bawaslu RI menjadi komisioner tambahan Bawaslu NTB

Image
News
Ibadah Haji 2018

Di Pamekasan, Ada Ojek untuk Antar Calon Jamaah Haji ke Lokasi Pemberangkatan

Layanan ojek gratis ini oleh institusi ini dilakukan, karena lokasi titik pemberangkatan dengan parkir kendaraan bermotor sangat jauh.

Image
News

Kejari Madiun Tetapkan Pejabat DLH Sebagai Tersangka Korupsi Pengelolaan Sampah

Penetapan tersangka tersebut juga menyusul naik status kasusnya dari penyelidikan menjadi penyidikan

Image
News

Perkiraan Gelombang Tinggi Hingga 4 Meter di Selat Bali dan Lombok, Ini Pesan BMKG

BMKG menyebutkan adanya peningkatan kecepatan angin timuran hingga 37 kilometer per jam.

Image
News

SK Lahan Eks HGU Dibatalkan Atas Perintah Kejagung

Hal ini dipaparkan oleh Direktur Utama PTPN II Teten Jaka, hanya saja ia lupa siapa nama penyidik Kejagung yang memerintahkannya

Image
News

Polisi Dalami Kasus Pelemparan Bom Molotov di Rumah Mardani Ali Sera

Pendalaman dilakukan dengan olah TKP untuk mengetahui dari mana bom molotov dilempar, kemudian bahan yang digunakan

Image
News

Begini Penampakan Ombak Besar di Pantai Selatan Jogja, Ngeri

Ombak besar menerjang karang di Pantai Krakal, Gunung Kidul Yogyakarta, Kamis (19/7).

Image
News

3 WNI yang Tertangkap di Malaysia Diduga Terafiliasi ISIS

Ketiganya memang sudah masuk pantauan otoritas Malaysia sebelum akhirnya ditangkap

Image
News

Fadli Nilai Transfer Politikus Jelang Pileg Seperti Pemain Bola, Tak Punya Ideologi

Transfer ini kan kayak sepak bola. Bahaya kalau misalnya para politisi ini dianggap kayak pemain sepak bola nggak ada ideologinya.

Image
News

Densus 88 Geledah Sebuah Rumah Terduga Teroris di Bandung

Namun, dalam penggeledahan tim sama sekali tidak menemukan alat bukti ayng mengarah ke jaringan teroris

Image
News

Nyimpen Narkoba, Bule Rusia Ini Divonis 5 Tahun

Putusan itu lebih ringan dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum Pengadilan Negeri Denpasar yang menuntut 7 Tahun 6 bulan dan denda 1 Miliar.

Image
News

Vietnam Diserang Virus H1N1, Tewaskan Ibu Hamil

Penyakit tropis ini telah menyerang wanita hamil yang berusia 35 tahun, dengan bayi dalam kandungan berusia 8 bulan.

trending topics

terpopuler

  1. Rumah Pribadi Mardani Ali Sera Dilempar Bom Molotov oleh OTK

  2. Gerindra Menduga Teror di Rumah Mardani Ali Sera Terkait Gerakan #2019GantiPresiden

  3. Denny: Dulu Zaman Ahok, Merokok di Kafe Mal Dilarang Keras, Sekarang?

  4. Geger, Pelajar Berbaju Batik Ditemukan Tewas Bersimbah Darah Dipinggir Jalan

  5. Begal Pembunuh Sadis di Tangerang Tertangkap, Keluarga Saripah Sujud Syukur

  6. Survei LIPI: Mayoritas Masyarakat Ingin Prabowo Jadi Cawapres Jokowi

  7. Pelemparan Bom Molotov Rumah Mardani, Polisi: Barang Bukti dan Empat Saksi Kita Periksa

  8. Faizal: Bom Molotov di Rumah Mardani Bisa Jadi Kerjaan Kader PKS Sendiri

  9. Ngabalin Jadi Komisaris, Ferdinand: Memacu yang Lain Puji Jokowi Mati-matian

  10. Selamat Tinggal Pada Mantan Yang 'Kepo', Instagram Uji Coba Fitur Baru

fokus

Idul Fitri 2018
Mudik Lebaran 2018
Piala Dunia Rusia 2018

kolom

Image
UJANG KOMARUDIN

Rame-rame Jadi Caleg

Image
Ridwansyah

Jakarta Bersolek untuk Asia

Image
Achmad Fahruddin

Politik Bohir Pencalegan

Image
Ujang Komarudin

Menanti Cawapres Jokowi

Wawancara

Image
News

Hari Kartini

Sehebat Apapun Wanita, Jangan Lupakan Kodratnya!

Image
News

Ariani Soekanwo, Tunanetra Pejuang Hak Politik Disabilitas

Image
News

Pembenahan Alutsista TNI dalam Pandangan Susaningtyas Kertopati

Sosok

Image
News

Brigjen Pol Teddy Minahasa Raih Bintang Bhayangkara Nararya dari Presiden Jokowi

Image
News

Menteri Termuda Kabinet Mahathir, Syed Saddiq Siap Jadi Panutan Pemuda Malaysia

Image
News

Idul Fitri 2018

8 Kali Puasa dan 8 Kali Lebaran, Polisi Ini Selalu Berada di Jalanan