News

ICW Desak Firli Bahuri Cs Hentikan Gimmick Kontroversial

Kunjungi Lapas Sukamiskin, ICW Desak Firli Bahuri Cs Hentikan Gimmick Kontroversial


ICW Desak Firli Bahuri Cs Hentikan Gimmick Kontroversial
Peneliti ICW Kurnia Ramadhana (AKURAT.CO/Oktaviani)

AKURAT.CO Indonesia Corruption Watch (ICW) mengkritisi kunjungan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri ke lembaga pemasyarakatan (Lapas) Sukamiskin untuk melakukan sosialisasi pencegahan korupsi kepada para napi koruptor.

ICW menilai tindakan ini sangat tidak berdasar dan justru memutar-balikkan logika pencegahan pemberantasan korupsi.

"Satu hal yang mengejutkan, salah satu pejabat tinggi KPK justru menyebut para pelaku korupsi itu sebagai penyintas. Padahal korupsi merupakan kejahatan struktural, dimana pelaku utamanya adalah mereka yang saat ini dijebloskan ke Sukamiskin, sementara korban korupsi adalah masyarakat luas," ujar Peneliti ICW Kurnia Ramadhana yang dimuat di laman antikorupsi.org, Kamis (1/3/2021).

Dikatakan Kurnia, akibat korupsi, jalan rusak, jembatan ambruk, gedung sekolah tidak bisa digunakan, kualitas pelayanan publik buruk dan merugikan warga masyarakat.

"Jika pelaku korupsi adalah penyintas dalam pikiran pejabat KPK, lalu masyarakat dianggap sebagai apa? Ini merupakan cacat logika yang merupakan turunan dari kerusakan dalam alur pikir keseluruhan program kunjungan pencegahan dan sosialisasi antikorupsi ke Lapas Sukamiskin," tegas dia.

Setidaknya ada empat poin penting yang ingin disampaikan ICW menanggapi kunjungan tersebut.

Pertama, kegiatan sosialisasi antikorupsi ke Lapas Sukamiskin dapat disebut pemborosan anggaran. Sebab, hasil yang didapatkan dari kegiatan itu hampir bisa dipastikan nol besar.

Kedua, secara nilai, sosialisasi ke Lapas Sukamiskin bertentangan dengan Pasal 4 UU KPK. Regulasi itu menyebutkan bahwa KPK dibentuk dengan tujuan meningkatkan daya guna dan hasil guna terhadap upaya pemberantasan tindak pidana korupsi. Pertanyaan pun muncul: apa hasil guna kegiatan sosialisasi pencegahan tersebut?

Ketiga, pencegahan KPK ke Lapas Sukamiskin sudah jelas salah sasaran. Betapa tidak, sosialisasi yang harusnya menyasar masyarakat selaku korban korupsi, malah mendatangi pelaku kejahatan. Semestinya KPK menitikberatkan isu sosialisasi untuk meningkatkan peran serta masyarakat dalam memberantas korupsi.

Keempat, kebijakan melakukan sosialisasi ke warga binaan akan semakin mendegradasi kepercayaan publik terhadap KPK. Penting untuk diingat, sepanjang tahun 2020 praktis ada delapan lembaga survei yang telah mengonfirmasi hal tersebut.

Ditambah dengan menurunnya performa KPK dan indeks persepsi korupsi Indonesia yang merosot tajam. Jauh lebih baik jika KPK menginisiasi program pencegahan yang sifatnya struktural dan menyasar kelembagaan dan birokrasi kementerian/ lembaga negara.

"Maka dari itu, ICW mendesak agar jajaran Pimpinan KPK menghentikan gimmicks kontroversial, dan fokus menjalankan kerja-kerja pemberantasan korupsi yang memang relevan dan signifikan," kata Kurnia menandaskan.

Sebelumnya, pada hari Rabu (31/3/2021) kemarin KPK menggelar Penyuluhan Antikorupsi bagi narapidana tindak pidana korupsi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas I Sukamiskin.

Penyuluhan yang diselenggarakan KPK itu bertajuk “Mengenal, Menyadari, dan Membangun Diri untuk Berperan Serta dalam Upaya Pemberantasan Korupsi”. Acara itu diikuti sejumlah narapidana yang masa tahanannya akan berakhir.

Dalam kesempatan itu Ketua KPK, Firli Bahuri mengatakan kehadiran KPK di tengah Warga Binaan Pemasyarakatan dilakukan sebagai bentuk kepedulian agar tidak terjadi krisis sosial, keamanan, dan ketertiban.

Menurutnya, setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri termasuk para narapidana korupsi. Ia pun meminta agar setelah kembali bebas di tengah masyarakat, pada mantan narapidana korupsi tidak menyerah terhadap mimpi dan masa depannya.

“Korupsi ini membahayakan dan merampas hak-hak kita semua. Oleh karena itu korupsi juga dapat dikatakan kejahatan melawan kemanusiaan. Maka, jangan sekali-kali mengulang kelakuan menyimpang ini,” pesannya.[]

Bayu Primanda

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu