Ekonomi

ICAEW Sebut Potensi Indonesia Perkuat Climate Finance Sangat Tinggi

ICAEW Sebut Potensi Indonesia Perkuat Climate Finance Sangat Tinggi
Illustrasi Pembangunan (REUTERS/Maxim Zmeyev)

AKURAT.CO Wilayah Asia dan Timur Tengah memiliki pemulihan ekonomi yang lebih kuat dibandingkan dengan wilayah lain di dunia, dimana memberikan kesempatan bagi negara-negara di kedua wilayah tersebut menanamkan green transition (transformasi hijau) dalam agenda pembangunan ekonomi mereka.

Meski begitu, pelaksanaan climate finance dihadapkan dengan tantangan terkait kondisi anggaran pemerintah dalam tekanan dan investasi dari sektor swasta akan sangat diperlukan, seperti yang terungkap di forecast terbaru yang disampaikan di ICAEW ( Institute of Chartered Accountants in England and Wales) Economic Insight Forum Q3. 

Dimana Produk Domestik Bruto (PDB) menyusut di kuartal 2, sebagian disebabkan lockdown di Cina sementara inflasi meningkat di seluruh dunia termasuk Asia dan Timur Tengah, meskipun tekanan di negara Gulf Cooperation Council (GCC) lebih rendah.

baca juga:

Kebijakan moneter diperkirakan akan lebih ketat karena dunia masih akan terus bergulat menghadapi berbagai tantangan eksternal ini.

Melihat hal tersebut, Michael Izza selaku Chief Executive Institute of Chartered Accountants in England and Wales (ICAEW) menyampaikan bahwa Transisi dari pandemi membuka kesempatan bagi negara-negara untuk membangun kembali perekonomian mereka dengan cara yang lebih ramah lingkungan.

"Kota-kota yang memiliki pertumbuhan pesat di wilayah Asia dan Timur Tengah semakin rentan terhadap risiko fisik seperti kekeringan, banjir dan badai tropis. Karena itu, investasi di sektor mitigasi serta adaptasi sangat diperlukan untuk membangun ketahanan. Green recovery bisa memperkuat daya saing jangka panjang untuk Asia dan Timur Tengah di pasar global yang membutuhkan green practices," ucapnya melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (5/10/2022).

Meski begitu, lanjutnya, dunia telah menunjukkan tanda-tanda pemulihan positif. Karena sebelumnya guncangan lonjakan supply yang besar menyebabkan laju inflasi semakin meroket..

"Kondisi sekarang mulai membaik. Meskipun perang antara Rusia-Ukraina telah menyebabkan guncangan di sektor perdagangan yang membuat pasar negara berkembang mengalami meroketnya harga pangan, bahkan harga komoditas secara keseluruhan diperkirakan akan menurun pada tahun 2023. Terlebih lagi aturan darurat kebijakan COVID mulai melonggar pada akhir tahun 2022 di Asia, sehingga diperkirakan suku bunga akan meningkat kembali ke tingkat yang sama seperti sebelum COVID," jelas Michael Izza

Meskipun Asia memiliki performa yang kuat pasca pandemi, lanjutnya, namun pertumbuhan Cina akan menjadi faktor penentu karena pertumbuhan Cina diprediksi akan tetap melambat di bawah 5 persen pada tahun 2023 dibandingkan pertumbuhan tahun 2022 yang berlebih sekitar 3 persen.

"Eksposur yang tinggi terhadap pertumbuhan Cina yang lemah ini disertai gangguan pasokan masih menjadi potensi risiko bagi pertumbuhan Asia Tenggara, termasuk Indonesia," ujar Michael Izza

Namun jika dibandingkan dengan negara Asia Tenggara lainnya, tingkat risiko yang dimiliki Indonesia yang dipengaruhi lambatnya pertumbuhan Cina masih lebih baik.

"Karena dibandingkan Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam dan Filipina, nilai ekspor Indonesia ke Cina masih yang terendah. Selain itu, tingkat kerentanan rantai pasok Indonesia untuk barang setengah jadi pun termasuk di kategori rendah, berbeda jauh dengan Singapura dan Malaysia," ucapnya.

Untuk kawasan Asia Tenggara, tambahnya, termasuk Indonesia, aksi nyata perubahan iklim masih tergolong rendah, sehingga diperlukan investasi dari sektor swasta

Sementara itu, menurutnya, di kawasan Eurasia dan Timur Tengah lebih intensif untuk urusan energi daripada kawasan lainnya karena kebanyakan pemanfaatan listrik yang dihasilkan dari energi terbarukan masih tertinggal di banyak negara di kawasan ini.

Upaya mengalihkan ketergantungan dari bahan bakar berpolusi seperti batu bara ke energi terbarukan akan menjadi tantangan besar untuk mencapai Net Zero.

"Dengan demikian, repricing energi untuk menggambarkan biaya kerusakan lingkungan disarankan sebagai bentuk insentif yang didorong pasar untuk mempengaruhi lebih banyak bisnis menggunakan energi terbarukan sebagai pengganti bahan bakar yang berpolusi," tandasnya.

Senada dengan Michael, Conny Siahaan selaku ICAEW Head of Indonesia menyampaikan bahwa Indonesia berpotensi tinggi untuk meningkatkan climate finance. “Dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara, potensi Indonesia untuk memperkuat climate finance sangat tinggi.

"Pemerintah terus gencar mendorong seluruh pihak, terutama pemain industri dalam menurunkan kadar emisi karbon. Salah satunya yang terbaru adalah rencana pemerintah dalam menyiapkan regulasi baru terkait penggunaan mobil listrik di lingkungan pemerintah dan perencanaan penerapan pajak karbon. Ini adalah langkah awal yang signifikan menuju ekonomi hijau," ucapnya. []