Ekonomi

ICAEW Ramal Ekonomi RI 2022 Tumbuh 5,7 Persen, Ini Faktornya Pendukungnya!

Pertumbuhan yang perlahan membaik ini didukung sektor ritel dan layanan akomodasi di Indonesia yang mencapai titik puncak pemulihan positif pada Mei 2022.


ICAEW Ramal Ekonomi RI 2022 Tumbuh 5,7 Persen, Ini Faktornya Pendukungnya!
Tampak bangunan gedung bertingkat di kawasan Jakarta, Rabu (19/5/2022). (AKURAT.CO/Dharma Wijayanto)

AKURAT.CO, Pasca didera pandemi COVID-19, wilayah Asia Tenggara kini mulai melihat pemulihan ekonomi, meski tidak berlangsung secara merata. Ditambah lagi, saat ini terdapat berbagai tantangan eksternal dari luar kawasan yang kian meningkat. 

Meskipun demikian, para ahli mengungkapkan pada ICAEW Economic Insight Forum Q2, bahwa wilayah Asia Tenggara diperkirakan akan melihat pertumbuhan ekonomi sebesar sekitar 5,8 persen.

Sementara itu, Indonesia diperkirakan mengalami pertumbuhan PDB di tahun 2022 sebesar 5,7 persen, meningkat dibandingkan periode tahun lalu sebesar 3,7 persen.

baca juga:

Jumlah tersebut selaras dengan angka pertumbuhan PDB yang dialami oleh wilayah Asia Tenggara secara keseluruhan.

"Peningkatan ini menjadi indikator yang menunjukkan kemampuan perekonomian Indonesia untuk kembali bangkit pasca pandemi, dimana kini telah bertransisi menuju masa endemi," ujar Managing Director International ICAEW, Mark Billington dalam pembukaan ICAEW Economic Insight Forum Q2, Jumat (24/6/22).

Ia menjelaskan, pertumbuhan yang perlahan membaik ini didukung oleh sektor ritel dan layanan akomodasi di Indonesia yang telah mencapai titik puncak pemulihan positif pada Mei 2022, yang mana dengan adanya pelonggaran kebijakan-kebijakan pembatasan.

Lebih dari itu, lanjutnya, pemulihan perekonomian Indonesia pada sektor ritel dan layanan akomodasi juga dinilai cukup dinamis sejak memasuki Q4 2021 hingga saat ini.

"Permintaan akan jumlah pemasaran pada sektor ritel Indonesia juga dinilai cukup unggul dan mulai stabil di tahun 2022 dibandingkan wilayah Asia Tenggara lainnya," imbuhnya.

Selain itu, meski terdapat hambatan dalam pemulihan perekonomian seperti gangguan pada rantai pasok dan lemahnya permintaan dari China karena aturan karantina wilayah, Indonesia tetap berhasil mempertahankan nilai ekspor ke wilayah China secara stabil.