Rahmah

Ibadah Puasa; Momentum Meneguhkan Kembali Rasa Toleransi Kita

Urgensi sikap toleransi di bulan Ramadan


Ibadah Puasa; Momentum Meneguhkan Kembali Rasa Toleransi Kita
Lufaefi dalam kultum Ramadan Akurat.co

AKURAT.CO, Selain dikenal sebagai bulan penuh dengan keberkahan dan ampunan, puasa sebenarnya juga dapat dinamakan bulan toleransi. Karena dari segi pendefinisian makna dan nilai historisnya, bulan puasa sarat dengan makna dan peristiwa-peristiwa yang mengedepankan sikap toleransi.

Dalam kultum Ramadan Akurat.co, Selasa (20/04/2021), Lufaefi, Redaktur Akurat Rahmah, menegaskan puasa adalah bulan toleransi. Sebab secara bahasa, puasa adalah al-imsak, yang artinya tidak saja menjaga dari hal-hal yang membatalkan secara lahiriyah seperti makan dan minum, tetapi juga menjaga dari segala sikap negatif yang bisa berujung pada perpecahan dan permusuhan.

Selain menyebut esensi toleransi dari makna bahasa, ia juga menyebutnya secara historis. "Dari sisi sejarah, ada banyak peristiwa-peristiwa di dunia ini yang terjadi pada bulan puasa dan di dalamnya ada kandungan nilai toleransi. Seperti misalnya kemerdekaan bangsa Indonesia. Itu terjadi pada bulan puasa. Kemerdekaan sendiri esensinya adalah toleransi, tidak boleh menjajah, dan tidak boleh menguasai satu sama lain." Jelasnya.

Selain sisi historis dari peristiwa kemerdekaan Indonesia, ia juga menyebut peristiwa fathu Makkkah (pembebasan kota Makkah). Dalam peristiwa yang juga terjadi pada bulan puasa itu menurutnya, Nabi dan para sahabatnya menjadikan fathu Makkah sebagai hari kasih sayang (yaumil marhamah), yang artinya kasih sayang kepada semua orang, tidak boleh melukai atau membuat rasa dendam.

Magister Agama Pascasarjana PTIQ Jakarta ini juga mengkontekstualisasikan esesni toleransi di bulan puasa di masa sekarang. "Toleransi di masa-masa kita saat ini juga perlu terus ditingkatkan. Misalnya tidak perlu riskan dengan perbedaan awal bulan Ramadan, jumlah rakaat salat Tarawih, dan lain-lainnya." Sambungnya.

Selain itu menurutnya, praktik toleransi juga perlu dilakukan dalam konteks adanya warung makan yang buka di siang bulan Ramadan. Kita menurutnya, harus mengedepankan sikap baik sangka, husnuzan sebagai salah satu unsur toleransi, karena sangat mungkin di sekitar warung itu ada orang-orang non Muslim yang tidak wajib berpuasa, atau ada perempuan yang sedang haid, menyusui, serta anak kecil yang belum balig.

"Bulan puasa Ramadan momentum penting bagi kita semua sebagai umat Islam untuk kembali meneguhkan sikap toleransi. Baik dengan sesama Muslim atau pun dengan non Muslim." Pungkasnya.[]

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu