Rahmah

Humor Gus Dur: Setuju 20 Persen

Suatu waktu, Gus Dur mendapat cacian dari seorang ustaz dalam ceramahnya.


Humor Gus Dur: Setuju 20 Persen
Ilustrasi Gus Dur (AKURAT.CO/Ryan)

AKURAT.CO  Bukan Gus Dur kalau tidak jago melontarkan joke-joke yang bisa membuat orang terpingkal-pingkal. Selain dikenal sebagai ulama kharismatik, Gus Dur juga dianggap sebagai figur yang tak kaku dan kerap menyempatkan bercanda di sela-sela aktivitasnya. 

Hingga kini Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang jenaka. Karena bagi Gus Dur, humor seperti nutrisi yang menyehatkan. 

Dilansir dari NU Online, suatu waktu, Gus Dur mendapat cacian dari seorang ustaz dalam ceramahnya. Hal tersebut dilandaskan dengan sikap dan pemikirannya yang terlampau maju dan kerap menimbulkan kontroversi.

baca juga:

Ternyata kontroversi itulah yang justru dijadikan amunisi oleh kelompok-kelompok pembenci Gus Dur untuk menyerang pribadinya.

Akibat peristiwa ceramah si ustaz yang memaki-maki Gus Dur tersebut, ada seorang wartawan yang bertanya kepada Gus Dur:

“Tanggapannya, Gus?”

"Saya setuju 20 persen dari ceramahnya. Bagus kok,” kata Gus Dur tetap memberikan apresiasi kepada ustaz itu meski telah memakinya.

“Bagus di bagian yang mana, Gus?” tanya wartawan mulai penasaran.

“Saya setuju bagian assalamu'alaikum, iftitah (pembuka), dan wassalam-nya. Kan bagus itu,” seloroh Gus Dur. 

Dalam kisah yang lain, awal tahun 1992, PBNU melaksanakan Musyawarah Nasional Alim Ulama NU di Kota Bandar Lampung. Seperti biasanya, perhelatan lima tahunan tersebut dihadiri oleh para kiai dari berbagai kalangan.

Begitu melihat pemandangan tersebut, Gus Dur tidak mau ketinggalan untuk melontarkan humor.

Kala itu, Gus Dur berkata bahwa ada seorang pengusaha muda yang memiliki mobil mewah, yaitu Mercy keluaran terbaru. Agar semuanya lancar, pengusaha yang pernah aktif di kelompok remaja masjid itu ingin meminta berkah dari ulama.

Setelahnya, ia datang ke ulama tradisional terkenal. Ia lalu menerangkan maksudnya bahwa mempunyai Mercy ingin diberkahi.

"Mercy?” kata kiai itu terbengong-bengong.

"Apa itu Mercy?” tanya kiai itu lagi penasaran.

Karena dirasa tidak nyambung, pengusaha muda itu akhirnya datang ke kiai modern yang sedang ngetop-ngetopnya.

“Pak kiai, saya punya Mercy baru ingin diberkahi,” kata pengusaha itu.

“Berkah?” jawab itu terbengong-bengong.

“Apa itu berkah?” lanjut kiai itu lagi. []