Rahmah

Humor Gus Dur: Menelpon Staf Menteri Agama

suatu waktu, Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dari ruang kerjanya di Istana Merdeka hendak menghubungi Menteri Agama melalui sambungan telepon.


Humor Gus Dur: Menelpon Staf Menteri Agama
Gus Dur (PWNUJAKARTA)

AKURAT.CO Bukan Gus Dur kalau tidak jago melontarkan joke-joke yang bisa membuat orang terpingkal-pingkal. Selain dikenal sebagai ulama kharismatik, Gus Dur juga dianggap sebagai figur yang tak kaku dan kerap menyempatkan bercanda di sela-sela aktivitasnya. 

Hingga kini Gus Dur dikenal sebagai tokoh yang jenaka. Karena bagi Gus Dur, humor seperti nutrisi yang menyehatkan. 

Dilansir dari NU Online, suatu waktu, Presiden KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dari ruang kerjanya di Istana Merdeka hendak menghubungi Menteri Agama melalui sambungan telepon. Kebetulan saat itu yang mengangkat telepon Gus Dur itu adalah seorang staf menteri. 

baca juga:

“Halo saya mau bicara dengan Menteri Agama,” kata Gus Dur membuka percakapan dari gagang teleponnya.

Karena sang penelepon tidak menyebutkan nama, maka wajar saja bila si Staf Menteri Agama itu bertanya, 

“Ini siapa?”

“Saya Abdurrahman Wahid,” tegas Gus Dur, menyebut namanya sendiri. 

Meskipun jawaban Gus Dur sudah menyebutkan nama lengkapnya itu, namun Staf Menteri Agama ini masih bersikukuh untuk memastikan identitas penelepon.

Staf menteri itu kembali bertanya, “Abdurrahman Wahid siapa?”

"Presiden,” kata Gus Dur singkat. 

Dalam kisah yang lain, KH Ahmad Mustofa Bisri atau lebih sering disapa Gus Mus yang merupakan sahabat karib Gus Dur mengungkapkan misteri tidur Gus Dur yang kerap memahami pembicaraan orang-orang di forum meskipun dirinya terlelap. Cerita ini Gus Mus dapatkan langsung dari Gus Dur ketika orang-orang ramai membicarakan tidurnya.

Pada saat orang-orang terkesima, Gus Mus justru menanggapinya biasa-biasa saja. Karena menurutnya tidak ada yang aneh dan tidak ada juga yang tak masuk akal perihal misteri tidur Gus Dur ini.

Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh, Rembang ini mengungkapkan bahwa kecerdasan Gus Dur justru terletak pada kesiapan dirinya menghadapi forum-forum besar.

Gus Mus berkata: Tak ada yang aneh jika Gus Dur bisa seperti itu. Tak ada yang tak masuk akal. Gus Dur punya siasat dan bisa dipahami. Manakala menerima undangan untuk diskusi, seminar, simposium, dialog, atau konferensi, dan sejenisnya, Gus Dur lebih dulu mencari tahu siapa saja pembicaranya.

Kemudian Gus Dur mempelajari pikiran-pikirannya, perspektifnya, dan gagasan-gagasan yang pernah disampaikannya, baik dalam karya-karya tulisnya maupun ceramah-ceramahnya.

Dari membaca semua itu, Gus Dur menangkap apa yang akan dibicarakan dan disampaikan para pembicara atau narasumber itu kelak.

“Paling-paling tak jauh dari itu juga,” kata Gus Mus menirukan perkataan Gus Dur. []