Rahmah

Humor Gus Dur: Hotel Bintang Sembilan

Suatu waktu Gus Dur diundang menjadi pembicara tunggal dalam sarasehan yang diadakan KNPI.


Humor Gus Dur: Hotel Bintang Sembilan
Ilustrasi Gus Dur (AKURAT.CO/Ryan)

AKURAT.CO KH Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab disapa Gus Dur dikenal sebagai sosok yang kerap kali menyelipkan humor dalam aktivitasnya. Bahkan, humor-humor Gus Dur sering dilontarkan sebagai media kritik terhadap kondisi masyarakat, bangsa, dan negara, termasuk kehidupan umat beragama. 

Salah satu humor Gus Dur yang hingga kini masih dikenang oleh masyarakat adalah saat Gus Dur diundang menjadi pembicara tunggal dalam sarasehan yang diadakan oleh KNPI. Simak kisah ini baik-baik.

Saat itu, Gus Dur dijadwalkan menjadi narasumber pada pukul 20.30. Namun hingga pukul 20.50, Gus Dur belum muncul juga. Akhirnya panitia penyelenggara pun gelisah. 

baca juga:

"Saya takut Gus Dur kesasar," ucap Ketua KNPI (waktu itu) Tjahjo Kumolo. 

"Saya kok punya firasat Gus Dur ketiduran," timpal Eros Djarot yang berdiri di samping Tjahjo.

"Jangan-jangan Ia nyasar ke Graha Pemuda, kantornya Menpora ", Tukas Tjahjo. 

"Apa jangan-jangan kena cekal, nggak boleh ngomong," celetuk seseorang yang ada di acara seminar.

Akan tetapi, di tengah kegelisahan itu, tepat pukul 21.00 akhirnya Gus Dur datang.

"Maaf, saya harus menerima pengarahan dulu dari Jenderal bintang tiga," ucap Gus Dur.

Setelah itu, Gus Dur langsung diminta bicara. Saat dihadapan peserta sarasehan itu, Gus Dur kembali menceritakan soal keterlambatannya yang katanya karena dipanggil Jenderal bintang tiga itu. 

"Baru bintang tiga saja sudah bisa nyetop orang, bagaimana kalau nanti bintang sembilan," ujar Gus Dur.

Seperti diketahui, bintang sembilan adalah lambang dari organisasi Islam Nahdatul Ulama (NU) yang selalu terpampang di papan nama kantor NU di semua tingkat. Oleh sebab itu, Gus Dur juga sering bangga bahwa warga NU atau Nahdliyin lebih nyaman dalam hal bepergian.

Karena kata Gus Dur, para pengusaha besar dan pejabat tinggi, saat bepergian paling-paling menginap di hotel bintang empat atau bintang lima. Beda dengan orang NU yang bisa menginap di hotel bintang sembilan.

"Orang NU, kalau keluar kota nginepnya di hotel bintang sembilan alias di kantor pengurus NU," seloroh Gus Dur. Wallahu A'lam Bishawab. []