Rahmah

Humor Gus Dur: Empat Macam Sifat Bangsa

Suatu waktu wartawan mengerubungi Gus Dur untuk bertanya tentang karakter-karakter sebuah bangsa.


Humor Gus Dur: Empat Macam Sifat Bangsa
Ilustrasi Gus Dur (AKURAT.CO/Ryan)

AKURAT.CO  KH Abdurrahman Wahid atau yang lebih akrab disapa Gus Dur dikenal sebagai sosok yang kerap kali menyelipkan humor dalam aktivitasnya. Bahkan, humor-humor Gus Dur sering dilontarkan sebagai media kritik terhadap kondisi masyarakat, bangsa, dan negara, termasuk kehidupan umat beragama

Dikutip dari NU Online, suatu waktu wartawan mengerubungi Gus Dur untuk bertanya tentang karakter-karakter sebuah bangsa. Identifikasi karakter ini penting agar menjadi cerminan bagi bangsa Indonesia.

“Apa sih yang membedakan bangsa kita dengan yang lain di dunia, Gus?” tanya wartawan itu kepada Gus Dur.

baca juga:

“Konon ada 4 macam sifat bangsa,” jawab Presiden keempat Republik Indonesia tersebut.

"Apa itu?” tanya wartawan kembali.

“Sedikit bicara, sedikit kerja, Nigeria dan Angola. Sedikit bicara, banyak kerja, Jepang dan Korsel Banyak bicara, banyak kerja, Amerika, China. Sedangkan yang banyak bicara, sedikit kerja, Pakistan, India,” jelas Gus Dur.

“Kalau bangsa Indonesia, masuk yang mana Gus?” tanya seorang wartawan yang lain.

Gus Dur diam sejenak, lalu menjawab: “Tidak bisa dimasukkan di antara yang empat itu,” kata Gus Dur.

“Lohh…Kenapa Gus?” tanya wartawan itu kembali.

"Karena di Indonesia, antara yang dibicarakan dan yang dikerjakan beda,” seloroh Gus Dur.

Dalam kisah yang lain, ketika Gus Dur menyelenggarakan silaturahim ulama kampung, banyak komentar bermunculan. Bahkan, tak sedikit juga yang berpikir tentang manuver seperti apa yang hendak dilakukan Gus Dur.

Padahal, Gus Dur sendiri sudah terbiasa berinteraksi dengan siapa pun, termasuk dengan kiai-kiai di kampung. Namun tetap saja ada beberapa kelompok yang sinis dengan hal tersebut.

Salah seorang yang sinis tersebut lalu menyindir:

“Ngapain Gus Dur ngumpulin kiai kampung, apa itu berarti dia sudah kehilangan pengaruh di kalangan kiai-kiai sepuh?”.

Dengan kegiatan yang sering dilakukannya itu, Gus Dur tidak mau berkomentar lebih jauh.

Oleh karena itu, beberapa teman berkata:

“Ya baguslah, itu menunjukkan bahwa kiai kampung juga menjadi perhatian Gus Dur, tak hanya kiai sepuh, ulama khos, atau pun kiai langitan".

"Lagian mending ngumpulin kiai kampung daripada kiai sepuhan (karbitan)," ujar temannya yang lain. []