Rahmah

Humor Abu Nawas: Gara-gara Salah Menafsirkan Mimpi

Alkisah Baginda Raja Harun Ar-Rasyid bermimpi bahwa di bawah rumah Abu Nawas tertanam harta karun yang melimpah ruah.


Humor Abu Nawas: Gara-gara Salah Menafsirkan Mimpi
Ilustrasi Abu Nawas (Hidyatuna)

AKURAT.CO  Siapa yang tak mengenal Abu Nawas, sosok penyair cerdik yang dikenal memiliki selera humor tinggi ini begitu masyhur di kalangan umat Islam.  Meskipun tingkahnya yang nyeleneh, tetapi Abu Nawas merupakan seorang yang cerdas.

Dilansir dari NU Online, Alkisah Baginda Raja Harun Ar-Rasyid bermimpi bahwa di bawah rumah Abu Nawas tertanam harta karun yang melimpah ruah. Tak ingin menunggu lama, saat matahari terbit, Baginda Raja Harun Ar-Rasyid langsung memerintahkan beberapa pengawal kerajaan untuk menggali tanah di rumah Abu Nawas.

Begitu para pengawal kerajaan beserta tukang bangunan datang ke rumah Abu Nawas dan langsung melancarkan aksinya,  Abu Nawas dan istrinya kebingungan karena rumahnya seketika hancur akibat penggalian atas perintah Baginda Raja tersebut.

baca juga:

“Heii.. Ada apa ini, kok rumah saya dihancurkan?” teriak Abu Nawas.

"Kami datang karena perintah Baginda Raja. Tadi malam Baginda bermimpi bahwa di bawah rumahmu terpendam emas dan permata yang tak ternilai harganya," kata salah seorang pengawal yang masih menggali tanah rumah Abu Nawas.

Singkat cerita, setelah mereka terus menggali ternyata emas dan permata itu tidak ditemukan. Mereka lalu pergi meninggalkan rumah Abu Nawas tanpa berpamitan terlebih dahulu.

Begitu juga dengan Baginda yang tidak meminta maaf kepada Abu Nawas atas segala kerusakan yang terjadi kepada rumahnya. Bahkan, Baginda Raja tidak mengganti kerugian atas hal itu.

Dengan begitu, Abu Nawas dan istrinya hanya termenung dan merasa kesal atas perbuatan Baginda Raja, namun apa daya mereka tidak bisa melakukan apapun. Efeknya, Abu Nawas sampai tidak doyan makan. Sehingga makanan yang dihidangkan istrinya didiamkan begitu saja hingga basi.

Esok harinya, Abu Nawas melihat lalat-lalat mulai menyerbu makanan yang sudah basi itu. Dari situ, Abu Nawas ternyata menemukan sebuah ide.

Setelah itu, langsung saja ia bergegas menuju istana dengan membawa makanan basi yang sudah dipenuhi lalat sembari membawa pentungan besi. Namun istrinya belum memahami maksud dan tujuan Abu Nawas, sehingga ia agak bingung apa yang hendak dilakukan suaminya itu.

Sesampainya di istana, Abu Nawas berkata.

"Mohon maaf Paduka yang mulia, hamba hanya ingin melaporkan tamu-tamu tak diundang ke rumah saya dan tanpa izin memakan makanan saya,” ujar Abu Nawas sambil menunjukkan lalat-lalat yang masih hinggap di makanannya.

“Lantas, apa yang perlu saya bantu?” ucap Baginda Raja.

“Hamba butuh keadilan Baginda,” jawab Abu Nawas membuat suasana istana hening seketika.

“Keadilan yang seperti apa?” tanya Baginda penasaran.

"Jadi begini, Hamba hanya ingin izin tertulis dari Baginda sendiri agar hamba bisa dengan leluasa menghukum lalat-lalat itu," jelas Abu Nawas.

Tanpa berpikir dua kali, Baginda Raja membuat surat izin yang isinya memperkenankan Abu Nawas memukul lalat-lalat itu di mana pun mereka hinggap.

Kemudian, dengan sebatang besi yang dibawanya dari rumah, Abu Nawas memukul lalat-lalat yang hinggap di semua properti milik istana. Baginda Raja hanya bengong melihat istananya diporak-poranda oleh Abu Nawas. []