Rahmah

Hukum Pesepak Bola yang Membatalkan Puasa Karena Takut Merusak Performa

Puasa bagi pesepak bola


Hukum Pesepak Bola yang Membatalkan Puasa Karena Takut Merusak Performa
Pesepak bola buka puasa saat main bola

AKURAT.CO  Salah satu bidang olahraga yang paling banyak diminati oleh masyarakat adalah sepak bola. Sepak bole bahkan menjadi ciri khas olahraga yang paling banyak digandrungi kaum milenial.

Dengan banyak diminatinya olahraga tersebut, banyak pula anak-anak dan atau pemuda yang bercita-cita menjadi pemain bola kelas atas. Mereka rela sekolah khusus sepak bola untuk bisa mencapai itu semua.

Dalam profesi pesepak bola, terutama saat bermain di lapangan, diperlukan tenaga ekstra. Lalu bagaimana jika pesepak bola sedang puasa namun ia membatalkan puasanya itu demi menjaga performa?

Syekh Wahbah Az-Zuhayli, dalam Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, juz II, halaman 648, mengatakan demikian:

صاحب العمل الشاق: قال أبو بكر الآجري: من صنعته شاقة، فإن خاف بالصوم تلفاً، أفطر وقضى إن ضره ترك الصنعة، فإن لم يضره تركها، أثم بالفطر، وإن لم ينتف التضرر بتركها، فلا إثم عليه بالفطر للعذر. وقرر جمهور الفقهاء أنه يجب على صاحب العمل الشاق كالحصاد والخباز والحداد وعمال المناجم أن يتسحر وينوي الصوم، فإن حصل له عطش شديد أو جوع شديد يخاف منه الضرر، جاز له الفطر، وعليه القضاء، فإن تحقق الضرر وجب الفطر، لقوله تعالى: {ولاتقتلوا أنفسكم إن الله كان بكم رحيماً} [النساء:29/4 

Artinya: “Pekerja berat. Menurut Abu Bakar Al-Ajurri, jika khawatir menjadi bahaya karena puasa, orang yang memiliki pekerjaan berat boleh membatalkan puasanya dan menggantinya di lain bulan bila melepaskan pekerjaan itu mendatangkan mudarat baginya. Tetapi jika meninggalkan pekerjaan berat itu tidak membuatnya mudarat, maka ia berdosa karena membatalkan puasa. Tetapi jika darurat itu misalnya juga takkan hilang karena meninggalkannya, maka ia tidak berdosa dalam membatalkan puasanya karena uzur. Sedangkan mayoritas ahli fiqih menyatakan wajib sahur dan niat puasa di malam hari bagi pekerja berat seperti buruh tani, buruh pembuat roti, pandai besi, buruh-buruh tambang. Jika ketika siang ia mengalami haus dan lapar yang mendera, maka ia boleh membatalkan puasanya dan ia wajib mengqadhanya. Tetapi jika darurat benar-benar nyata, maka ia wajib membatalkan puasanya karena firman Allah ta‘ala, ‘Janganlah kaubunuh dirimu karena sungguh Allah begitu kasih kepadamu,’ (An-Nisa ayat 29)."

Kesimpulannya; pesepak bola jika memang merasa berat untuk berpuasa sambil bermain sepak bola, maka boleh membatalkan puasanya dan mengganti di hari yang lain. Namun jika dirasa mampu, maka baiknya tetap melanjutkan berpuasa. Wallahu A'lam.[]

Sumber: NU Online