Rahmah

Hukum Pemerintah Melarang Pengidap Covid-19 Hadir di Masjid

Larangan berjamaah di masjid saat musim pandemi


Hukum Pemerintah Melarang Pengidap Covid-19 Hadir di Masjid
Ilustrasi muslim melakukan salat jamaah di masa pandemi

AKURAT.CO Ketika pandemi Covid-19 menyerang masyarakat di dunia, berbagai kebijakan dikeluarkan oleh pemerintah setempat di berbagai negara, termasuk negara-negara dengan penduduk mayoritas Muslim.

Lalu apa hukumnya jika pemerintah melarang orang ke masjid yang disebabkan ia memiliki penyakit seperti Covid-19? Syihabuddin Al-Qalyubi, dalam Hasyiyah Qaliyubi wa Umairah, halaman 28 mengatakan demikian:

وبرص وجذام يندب للإمام منع صاحبهما من المسجد ومخالطة الناس والجمعة والجماعات 

Artinya: “Adapun terkait pengidap kusta dan lepra, pemerintah dianjurkan untuk mencegah keduanya untuk hadir di masjid, kontak langsung dengan orang lain (apalagi keramaian), ibadah jumat, dan shalat jamaah."

Maka dari penjelasan di atas pemerintah sangat boleh, bahkan jika dikhawatirkan adanya penularan kepada orang lain, wajib untuk melarang masyarakatnya untuk pergi ke masjid dan tempat keramaian lainnya.

Bahkan, pemerintah juga dibolehkan mencabut pembolehan salat Jumat bagi masyarakatnya manakala ditakutkan ada penularan besar-besaran atas penyakit yang menular, sebagaimana pendapat Mazhab Hanafi.

Sayyid Bakri bin Sayyid Muhammad Syatha Ad-Dimyathi, dalam I'anatut Thalibin, halaman 85 mengatakan demikian;

 نعم يشترط عنده إذن السلطان في إقامتها…قوله (ولا يشترط عندنا إذن السلطان) عبارة الروض وشرحه ولا يشترط حضور السلطان الجمعة ولا إذنه فيها كسائر العبادات لكن يستحب استئذانه فيها اه  

Artinya: “Tetapi menurut Imam Abu Hanifah, izin pemerintah menjadi syarat dalam pelaksanaan ibadah Jumat… (menurut kami Mazhab Syafi’i, izin pemerintah bukan syarat) seperti ungkapan Raudhatut Thalib dan syarahnya. Kehadiran pemerintah dan izinnya bukan syarat pelaksanaan Jumat sebagaimana ibadah lainnya. Tetapi (kita mazhab Syafi’i) dianjurkan untuk meminta izin pemerintah dalam pelaksanaan Jumat (untuk menghindari fitnah dan keluar dari ikhtilaf ulama).”

Maka kesimpulannya, melarang masyarakat untuk pergi ke masjid dalam kondisi pandemi adalah boleh. Apalagi jika dianggak mengkawatirkan terjadinya penularan besar-besaran, maka melarangnya adalah suatu kewajiban. Wallahu A'lam.[]

Sumber: NU Online