Rahmah

Hukum Merayakan HUT RI Menurut Kiai Ma'ruf Khozin

Masih ada orang bertanya hukum merayakan HUT RI ini.

Hukum Merayakan HUT RI Menurut Kiai Ma'ruf Khozin
Ilustrasi (flickr.com)

AKURAT.CO Masyarakat Indonesia setiap tahun merayakan hari lahir Republik Indonesia. Perayaan itu dilaksanakan dengan upacara kemerdekaan. Bahkan, upacara kemerdekaan itu dilaksanakan di berbagai daerah, bahkan di daerah-daerah terpencil sekalipun.

Muncul sebuah pertanyaan terkait hukum merayakan kemerdekaan atau Hari Ulang Tahun (HUT) RI. Apakah perayaan ini bid'ah karena tidak pernah dilakukan nabi? 

Mengenai hal ini, Kiai Ma’ruf Khozin menyertakan sejumlah argumen, sebagai berikut. Berdasarkan penjelasan ulama Al-Azhar, Mesir disebutkan sebagai berikut:

baca juga:

ﻭاﻟﻤﻨﺎﺳﺒﺎﺕ اﻟﺘﻰ ﻳﺤﺘﻔﻞ ﺑﻬﺎ ﻗﺪ ﺗﻜﻮﻥ ﺩﻧﻴﻮﻳﺔ ﻣﺤﻀﺔ ﻭﻗﺪ ﺗﻜﻮﻥ ﺩﻳﻨﻴﺔ ﺃﻭ ﻋﻠﻴﻬﺎ ﻣﺴﺤﺔ ﺩﻳﻨﻴﺔ، ﻭاﻹﺳﻼﻡ ﺑﺎﻟﻨﺴﺒﺔ ﺇﻟﻰ ﻣﺎ ﻫﻮ ﺩﻧﻴﻮﻯ ﻻ ﻳﻤﻨﻊ ﻣﻨﻪ ﻣﺎ ﺩاﻡ اﻟﻘﺼﺪ ﻃﻴﺒﺎ، ﻭاﻟﻤﻈﺎﻫﺮ ﻓﻰ ﺣﺪﻭﺩ اﻟﻤﺸﺮﻭﻉ

Artinya: Hari-hari yang diperingati ada yang murni bersifat duniawi dan bersifat agama, atau yang bersentuhan dengan agama. Islam, dalam menyikapi hal-hal yang bersifat dunia, tidak melarang selama tujuannya benar dan pelaksanaannya berada dalam koridor syari. (Fatawa Al-Azhar, juz 10, halaman: 160).

“Tujuannya sudah jelas diperbolehkan karena mensyukuri kemerdekaan. Sekarang pelaksanaannya, jika diisi dengan doa bersama dan makan bersama, tidak ada yang dilanggar dalam syariat,” kata Kiai Ma'ruf Khozin.

Selain itu dikemukakan bahwa kalau perayaan kemerdekaan tersebut diisi dengan musik, maka hukum musik masih khilafiyah.

“Ikuti saja ulama yang membolehkan,” tegasnya. 

Akan tetapi, kata dia, jika sampai dengan menenggak minuman keras, pesta yang sampai bersenggolan antara lelaki dan wanita, maka yang dilarang adalah perbuatan mungkarnya tersebut, bukan perayaan kemerdekaannya.

Lalu bagaimana dengan alasan bahwa perayaan kemerdekaan disebut meniru negara-negara Barat sehingga berlaku dalil tasyabuh bil kuffar atau menyerupai kalangan kafir?