Rahmah

Hukum Menikahi Saudara Sepupu dalam Islam, Bolehkah?


Hukum Menikahi Saudara Sepupu dalam Islam, Bolehkah?
Ilustrasi pernikahan (pinterest.com)

AKURAT.CO, Sudah kita pahami bersama bahwa perkara jodoh adalah urusan Allah yang penuh misteri. Bisa jadi seseorang sudah berusaha mencari ke sana kemari, tetapi ujungnya berjodoh dengan tetangga sendiri.

Banyak di antara orang-orang yang sudah memasuki usia matang untuk menikah tengah galau karena belum juga bertemu dengan jodohnya. Kebanyakan dari mereka bahkan sempat terpikir untuk menikah dengan sepupunya sendiri padahal masih bagian dari keluarga.

Lantas, bagaimana hukum menikah dengan sepupu sendiri?

Dalam hukum Islam, menikah adalah sesuatu yang mulia, termasuk sunah Nabi Muhammad saw dan menjadi salah satu jalan meraih rida Allah. Hanya saja kita perlu memahami rambu-rambu menikah menurut syariat Islam, termasuk dalam hal menentukan pasangan.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah bahwa kita harus tahu siapa yang menjadi mahram kita. Mahram adalah seseorang yang haram dinikahi karena sebab-sebab tertentu.

Al-Qur'an dalam Surah An-Nisa ayat 23 menjelaskan perihal mahram ini.

Hukum Menikahi Saudara Sepupu dalam Islam, Bolehkah - Foto 1
ISTIMEWA


Hurrimat 'alaikum ummahaatukum wa banatukum wa akhawaatukum wa 'ammaatukum wa khaalaatukum wa banatul-akhi wa banatul-ukhti wa ummahaatukumullaatii arda'nakum wa akhawaatukum minar-radaa'ati wa ummahaatu nisaa`ikum wa raba`ibukumullaatii fii hujuurikum min-nisaa`ikumullaatii dakhaltum bihinna fa il lam takuunuu dakhaltum bihinna fa l? junaahaa 'alaikum wa halaa`ilu abnaa`ikumulladziina min aslaabikum wa an tajma'uu bainal-ukhtaini illaa maa qad salaf, innallaaha kaana gafuurar rahiimaa

Artinya: "Diharamkan atas kamu (mengawini) ibu-ibumu; anak-anakmu yang perempuan; saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara bapakmu yang perempuan; saudara-saudara ibumu yang perempuan; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang laki-laki; anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan; ibu-ibumu yang menyusui kamu; saudara perempuan sepersusuan; ibu-ibu istrimu (mertua); anak-anak istrimu yang dalam pemeliharaanmu dari istri yang telah kamu campuri, tetapi jika kamu belum campur dengan istrimu itu (dan sudah kamu ceraikan), maka tidak berdosa kamu mengawininya; (dan diharamkan bagimu) istri-istri anak kandungmu (menantu); dan menghimpunkan (dalam perkawinan) dua perempuan yang bersaudara, kecuali yang telah terjadi pada masa lampau; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. An-Nisa: 23)

Dari ayat di atas jelas bahwa saudara sepupu halal untuk dinikahi.

Syekh Muhammad Khothib al-Syarbini dengan tegas mengatakan, “Haram menikahi wanita yang sekerabat kecuali yang termasuk anaknya paman atau anaknya bibi (sepupu)." (Al Iqna’ : 2 /109)

Lebih lanjut jika dirincikan, mahram seseorang dapat dibagi menjadi dua yakni hurmah mu’abbadah (haram selamanya) dan hurmah mu’aqqatah (haram dalam waktu tertentu/sementara).

A. Selamanya haram dinikahi

1. Karena nasab di antaranya:

a. Ibu kandung, nenek sampai ke atas.

b. Anak putri, cucu putri sampai ke bawah.

c. Saudara perempuan kandung seayah atau seibu.

d. Bibi dari ayah atau dari ibu.

e. Keponakan dari saudara laki–laki atau perempuan.

2. Karena besan, di antaranya:

a. Ibu mertua, nenek mertua sampai ke atas.

b. Anak tiri, cucu tiri sampai ke bawah.

c. Menantu perempuan.

d. Ibu tiri.

3. Karena sepersusuan di antaranya:

Ibu yang menyusui, saudaranya, putrinya, dan lain sebagainya.

B. Haram dinikahi dalam waktu tertentu/sementara

1. Dua perempuan yang semahram (dua bersaudara, keponakan, dan bibinya).

2. Istri orang lain atau yang sedang dalam keadaan masa iddah.

3. Mantan istrinya yang sudah ditalak (cerai) tiga kali sehingga ia menikah dengan lelaki lain.

4. Sedang dalam kedaan ihram haji atau umrah.

5. Menikahi budak sedangkan dia mampu menikahi perempuan merdeka.

6. Perempuan yang pernah berzina sehingga dia bertaubat.

7. Perempuan musyrikah sampai dia masuk Islam.

Meski menikah dengan sepupu sendiri dibolehkan, hanya saja menurut dunia medis, pernikahan demikian sangat berisiko terhadap keturunan.

Sebab, dunia medis tidak menganjurkan pernikahan yang masih ada hubungan darah karena dapat menimbulkan berbagai macam kelainan seperti down syndrome, thalasemia, kelemahan otot tubuh, mata tidak normal, hingga kelainan genetik lainnya.

Jadi, bagi yang masih jomblo semoga Allah Swt segera menujukkan jodoh yang telah disiapkannya. Bukankah Allah menciptakan segala sesuatu itu berpasang-pasangan?

Yuk, banyak berdoa dan berusaha.

Wallahu a'lam.[]

Dian Dwi Anisa

https://akurat.co