Rahmah

Hukum Menghadiahkan Pahala Kurban untuk Orang yang Sudah Meninggal

Bolehkah menghadiahkan pahala kurban untuk orang yang sudah meninggal?


Hukum Menghadiahkan Pahala Kurban untuk Orang yang Sudah Meninggal
Pekerja memotong hewan kurban di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) CV Berkah Usaha Baba Farm, Depok, Jawa Barat, Selasa (20/7/2021). (AKURAT.CO/Endra Prakoso)

AKURAT.CO Sebentar lagi umat muslim akan berjumpa lagi dengan hari raya Idul Adha. Pada momen tersebut dianjurkan untuk memotong hewan kurban yang dilaksanakan pada tanggal 10, 11, dan 12 Dzulhijah. Salah satu ayat Al-Qur’an yang menjadi dalil anjuran ibadah ini adalah firman Allah SWT berikut,

لِّيَشْهَدُوْا مَنَافِعَ لَهُمْ وَيَذْكُرُوا اسْمَ اللّٰهِ فِيْٓ اَيَّامٍ مَّعْلُوْمٰتٍ عَلٰى مَا رَزَقَهُمْ مِّنْۢ بَهِيْمَةِ الْاَنْعَامِۚ فَكُلُوْا مِنْهَا وَاَطْعِمُوا الْبَاۤىِٕسَ الْفَقِيْرَ ۖ -

Artinya: "Agar mereka menyaksikan berbagai manfaat untuk mereka dan agar mereka menyebut nama Allah pada beberapa hari yang telah ditentukan atas rezeki yang diberikan Dia kepada mereka berupa hewan ternak. Maka makanlah sebagian darinya dan (sebagian lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir." (QS. Al-Hajj: 28)

baca juga:

Kemudian muncul sebuah pertanyaan, mengingat kurban merupakan bentuk ibadah, bolehkah menghadiahkan pahalanya untuk orang yang sudah meninggal?

Dilansir NU Online, ulama membolehkan menghadiahkan pahala ibadah kurban kepada orang yang sudah meninggal dan pahalanya akan sampai ke mayit. Syekh Ibnu Hajar menganalogikan hal ini dengan menghadiahkan pahala sedekah pada umumnya kepada orang yang sudah wafat.

Berbeda jika pahala kurban diberikan kepada orang lain yang masih hidup. Ulama berselisih pendapat soal kebolehannya. Menurut Imam al-Ramli dan Khathib al-Syarbini hukumnya diperbolehkan, sementara Syekh Ibnu Hajar al-Haitami menghukumi tidak boleh.

Dasar pendapat ini diambil dari penjelasan Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husain bin Umar al-Masyhur bi Ba’lawi dalam Bughyah al-Mustarsyidin (halaman 257) berikut,

قال الخطيب و (م ر) وغيرهما : لو أشرك غيره في ثواب أضحيته كأن قال عني وعن فلان أو عن أهل بيتي جاز وحصل الثواب للجميع، قال ع ش ولو بعد التضحية بها عن نفسه ، لكن قيد في التحفة جواز الإشراك في الثواب بالميت قياساً على التصدق عنه ، قال بخلاف الحيّ

“Imam Al-Khathib, Imam al-Ramli dan selainnya berkata; Jika seseorang mengikutsertakan orang lain dalam pahala kurbannya seperti perkataannya “kurbanku untuk saya dan untuk si fulan atau untuk keluarga saya”, maka diperbolehkan dan pahalanya hasil untuk semuanya. Syekh Ali Syibromalisi berkata “walaupun setelah ia berkurban atas nama dirinya.”

“Akan tetapi Syekh Ibnu Hajar dalam kitab al-Tuhfah membatasi kebolehan menyertakan pahala kurban hanya kepada orang mati, karena disamakan dengan kasus bersedekah untuk mayit, beliau berkata; berbeda dengan orang hidup.”[]

Sumber: NU Online