Rahmah

Hukum Mengaku sebagai Pasangan Suami Istri saat Kepergok Berzina

Jangan langsung dihukum, lakukan langkah ini.

Hukum Mengaku sebagai Pasangan Suami Istri saat Kepergok Berzina
Ilustrasi (ASKMEN)

AKURAT.CO Tidak menutup kemungkinan ada pasangan sejoli yang melakukan hubungan intim saat tertangkap basah mengakui sebagai pasangan suami dan istri (pasutri). Ini memiliki ketentuan hukum sendiri dalam Islam.

Dikutip dari Bincangsyariah.com, hukum mengaku pasutri ketika kepergok zina, Muwaffaq al-din, Ibnu Qudamah al-Maqdisi, juz 9, halaman 62, menjelaskan sebagai berikut;

 وَإِنْ شُهِدَ عَلَيْهِمَا بِالزِّنَى، فَقَالَا: نَحْنُ زَوْجَانِ. فَعَلَيْهِمَا الْحَدُّ إنْ لَمْ تَكُنْ بَيِّنَةٌ بِالنِّكَاحِ. وَبِهِ قَالَ أَبُو ثَوْرٍ، وَابْنُ الْمُنْذِرِ؛ لِأَنَّ الشَّهَادَةَ بِالزِّنَى تَنْفِي كَوْنَهُمَا زَوْجَيْنِ، فَلَا تَبْطُلُ بِمُجَرَّدِ قَوْلِهِمَا.

baca juga:

Artinya: “Jika ditemui dua orang yang sedang berzina, lalu mereka mendaku bahwa keduanya merupakan pasangan suami istri, maka keduanya dihad jika tidak bisa mendatangkan bukti (saksi), namun jika bisa, (baik dengan menunjukkan buku nikah atau yang lainnya), maka tidak dihad.

Ini adalah pendapatnya Abu Tsaur dan Ibnu Al-Mundzir. Karena persaksian atas zina, bisa menafikan status pasutrinya. Sehingga tidak batal, hanya disebabkan pendakuan keduanya."

Lalu bagaimana sikap kita ketika melihat adanya dua orang saling berciuman? Dijelaskan sebagai berikut:

 وَلَوْ وُجِدَ رَجُلٌ مَعَ امْرَأَة، يُقَبِّلُ كُلُّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا صَاحِبَهُ، وَلَمْ يُعْلَمْ هَلْ وَطِئَهَا أَوْ لَا، فَلَا حَدَّ عَلَيْهِمَا، فَإِنْ قَالَا: نَحْنُ زَوْجَانِ، وَاتَّفَقَا عَلَى ذَلِكَ، فَالْقَوْلُ قَوْلُهُمَا. وَبِهِ قَالَ الْحَكَمُ، وَحَمَّادٌ، وَالشَّافِعِيُّ، وَأَصْحَابُ الرَّأْيِ. 

Artinya: “Jika ditemui 2 orang pasangan (laki-laki dan perempuan) yang sedang berciuman, dan tidak diketahui apakah mereka sudah berhubungan badan atau tidak, maka keduanya tidak dihad.

Hanya saja, ketika mereka mendaku bahwa keduanya adalah pasangan suami istri, dan keduanya menyatakan hal yang sama, maka pernyataannya dibenarkan. Demikianlah pendapat yang diusung oleh Al-Hakam, Hammad, Al-Syafi’i dan Ashab al-Ra’yi (Kalangan Hanafiyyah)."

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa saat melihat dua orang yang mengaku sebagai suami istri setelah kepergok melakukan hubungan intim, maka tidak dikenakan hukum, sampai ia bisa menunjukkan bukti buku nikah. Bila tidak bisa membuktikan, maka keduanya terkena hukum.

Wallahu A'lam.[]