Rahmah

Hukum Islam tentang Suap Menyuap saat Pemilihan Kepala Daerah

Hukum Islam tentang Suap Menyuap saat Pemilihan Kepala Daerah
Ilustrasi (flickr.com)

AKURAT.CO Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA) maupun Pemilihan Presiden (PILPRES), menjadi salah satu kegiatan lima tahunan bagi bangsa Indonesia. Ini menjadi momentum rakyat menentukan nasib masa depannya.

Sayangnya, kadang, ada sebagian orang yang memanfaatkan kegiatan tersebut untuk melakukan manipulasi untuk kepentingan diri. Ada dari mereka yang menyogok demi memenangkan hasrat pribadi dan kelompoknya.

Hal di atas tidak bisa dimungkiri manakala dalam pemilihan umum ada oknum-oknum yang bermain uang, menyogok agar pilihan wakilnya terpilih. 

baca juga:

Lalu bagaimana Islam memandang suap dalam masalah pilkada? Apakah Islam jelas melarang perbuatan buruk tersebut atau seperti apa ia membacanya?

Dari Ibnu Umar RA, ia pernah berkata demikian:

لَعَنَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الرَّاشِىَ وَالْمُرْتَشِىَ.

Artinya: “Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaknat orang yang memberi suap dan yang menerima suap”. (HR. Abu Daud no. 3580, Tirmidzi no. 1337, Ibnu Majah no. 2313).

Melalui penjelasan ini jelas bahwa menyuap atas dasar apapun dan dilakukan oleh siapapun akan dilaknat, alias dilarang dalam agama. Bahkan tidak hanya yang memberi suap, orang yang menerimanya pun akan disiksa.

Larangan untuk melakukan suap dalam masalah pemilihan menjadi pemimpin di dunia karena menjadi pengusaha di dunia hanyalah sementara dan kelak akan dipertanggungjawabkan di akhirat.

Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda: