Tech

Huawei Serukan Kolaborasi Antar Sektor Publik-Swasta, Pulihkan Kepercayaan pada Teknologi

Di perhelatan tahun ini, sebanyak 1.000 peserta dari seluruh dunia turut ambil bagian dalam dialog lintas generasi yang digelar selama tiga hari


Huawei Serukan Kolaborasi Antar Sektor Publik-Swasta, Pulihkan Kepercayaan pada Teknologi
Huawei dituduh Australia bahwa jaringan telekomunikasinya berbahaya (CNBC)

AKURAT.CO Perhelatan tahunan yang menjadi ajang berkumpulnya pemimpin-pemimpin dunia, St. Gallen Symposium merayakan hari jadinya yang ke-50. Di perhelatan tahun ini, sebanyak 1.000 peserta dari seluruh dunia turut ambil bagian dalam dialog lintas generasi yang digelar selama tiga hari.

Turut bergabung dalam gelaran ini adalah sejumlah kalangan akademia University of St. Gallen, sebuah lembaga hubungan internasional yang bertempat di Singapura, sepuluh Kedutaan Besar Swiss di berbagai negara di dunia, serta banyak peserta lain yang berpartisipasi secara daring.

Catherine Chen, Corporate Senior Vice President, merangkap anggota BOD di Huawei menyampaikan prakarsa yang dimotori oleh siswa pada 7 Mei lalu. Sejumlah pembicara top dunia dari sektor swasta yang turut bergabung, di antaranya adalah Christophe Franz, BOD Chairman Roche, Ola Källenius, Chairman of the Board of Management Daimler, Satya Nadella, Chief Executive Officer Microsoft, serta Roshni Nadar Malhotra, Chief Executive Officer HCL Corporation.

Hadir pula pemimpin-pemimpin dunia dari kalangan politik, seperti Kanselir Austria Sebastian Kurz, juga wakil lembaga-lembaga transnasional, seperti Chairwoman Swiss Digital Initiative Doris Leuthard, turut bergabung menyampaikan pandangan mereka selaras dengan tema yang diambil dalam perhelatan tahun ini, yakni "Trust Matters", yang juga dijunjung tinggi dan menjadi komitmen Huawei selama ini.

Chen yakin bahwa untuk mewujudkan hal tersebut membutuhkan peran dan upaya bersama dari semua kalangan, termasuk pembuat kebijakan, regulator, hingga swasta. 

“Dengan kian membanjirnya perangkat yang menampilkan fitur konektivitas, makin banyaknya layanan yang mulai beralih ke daring, serta tumbuhnya infrastruktur-infrastruktur krusial yang bergantung pada pertukaran data secara real-time, membutuhkan peran pemerintah yang lebih serius dalam menjamin perlindungan bagi seluruh kalangan dengan standar keamanan yang tinggi pula. Jaminan keamanan yang tinggi hanya terwujud melalui penerapan aturan yang disepakati bersama dan pada akhirnya hal ini akan turut menumbuhkan kepercayaan terhadap teknologi,” imbuhnya.

Perhelatan St. Gallen Symposium tahun ini sendiri dibuka pada tanggal 5 Mei lalu. Partisipan sepakat bahwa kepercayaan akan tumbuh selaras dengan makin menguatnya keterbukaan dan transparansi. Ini saat yang tepat untuk mengambil langkah konkret dalam mengatasi tantangan-tantangan dan risiko yang menyertai kejadian pandemi global COVID-19 yang melanda dunia saat ini.

Dibutuhkan upaya bersama untuk menguatkan kembali kepercayaan publik terhadap lembaga-lembaga politik dan ekonomi, serta kemunculan teknologi-teknologi baru, khususnya di kalangan generasi muda. Ini tentu bukan perkara mudah, terlebih dengan kondisi pandemi yang terjadi saat ini.

“Sebagai generasi muda, kami memang terhubung dengan banyak kalangan melalui media sosial, namun tidak serta-merta kami bisa menaruh kepercayaan begitu saja kepada orang-orang dalam lingkaran di media sosial kami,” ucap Simon Zulliger, salah satu dari 35 siswa dari University of St. Gallen yang menjadi panitia symposium kali ini.

Erizky Bagus

https://akurat.co