News

Hong Kong Peringati 25 Tahun Lepas dari Inggris, Xi Jinping Puji Model '1 Negara 2 Sistem'

Hong Kong Peringati 25 Tahun Lepas dari Inggris, Xi Jinping Puji Model '1 Negara 2 Sistem'
Presiden China Xi Jinping berkunjung ke Hong Kong untuk pertama kalinya sejak 2017 demi menghadiri peringatan 25 tahun penyerahan Hong Kong dari Inggris kepada China. (Channel News Asia)

AKURAT.CO Hong Kong memperingati 25 tahun penyerahan kota tersebut dari Inggris kepada China pada Jumat (1/7). Dalam kesempatan itu, Presiden China Xi Jinping memuji keberhasilan model '1 negara 2 sistem' untuk melindungi kota tersebut dan berharap sistem itu berlanjut dalam jangka panjang.

Dilansir dari BBC, prinsip '1 negara 2 sistem' disepakati antara Inggris dan China dan diabadikan dalam hukum di Hong Kong. Berdasarkan prinsip tersebut Hong Kong seharusnya diatur dengan cara memperoleh otonomi tingkat tinggi dan melindungi kebebasan berbicara, berkumpul, dan hak lainnya yang tak ditemukan di China daratan.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir, China menuai kritik lantaran memperketat kontrolnya atas Hong Kong serta memberlakukan undang-undang dan reformasi yang menghambat kebebasan berbicara dan perbedaan pendapat.

baca juga:

Sistem '1 negara 2 sistem' pun berakhir pada 2047, tenggat waktu yang telah lama dikhawatirkan banyak orang di Hong Kong.

Untuk pertama kalinya sejak 2017, Xi mengunjungi Hong Kong pada Jumat (1/7). Dalam peringatan itu, ia menegaskan sistem tersebut harus dipatuhi dalam jangka panjang, tanda paling jelas bahwa China bermaksud mempertahankannya, meski para kritikus menilai model itu telah disesuaikan dengan kemauan Beijing.

Berdiri di antara bendera China dan Hong Kong di atas panggung, Xi membela sistem tersebut yang telah melindungi kemakmuran dan stabilitas Hong Kong serta 'kepentingan mendasar' China dalam 25 tahun terakhir.

"Satu negara dua sistem telah teruji dan terbukti berulang kali. Tak ada alasan untuk mengubah sistem yang begitu baik," pujinya.

Ia menambahkan sistem tersebut mendapat 'dukungan penuh' dari penduduk sekaligus 'banyak persetujuan' oleh komunitas internasional. Menurutnya, 'demokrasi sejati' dimulai Hong Kong ketika kembali ke pangkuan China.

Di sisi lain, Hong Kong diwarnai banyak aksi protes besar selama beberapa tahun terakhir. Negara-negara Barat pun mengkritik campur tangan Beijing yang semakin meningkat di kota itu.