News

Hobi Mendaki Gunung? Jangan Abaikan Ibadah Salat Wajib

Hobi Mendaki Gunung? Jangan Abaikan Ibadah Salat Wajib
Ilustrasi salat saat berada di gunung (Pinterest.com)

AKURAT.CO, Mendaki gunung merupakan salah satu hobi bagi beberapa orang. Selain sebagai refresing, mendaki gunung mampu melatih mental dan cara bertahan hidup di alam liar. Terlebih Indonesia yang memiliki banyak gunung dan sudah dibuatkan jalur pendakian khusus untuk para mendaki.

Hobi tersebut hendaknya tidak mengurangi kualitas ibadah kita. Jangan sampai kita meninggalkan ibadah-ibadah wajib, salah satunya salat lima waktu. Dengan medan pendakian yang berbeda-beda, dalam mendirikan salat mungkin terdapat beberapa kendala, salah satunya adalah kendala air. Jika jalur pendakianmu masih jauh dari mata air dan tidak memiliki cadangan air yang cukup, kamu bisa bertayamum sebagai pengganti wudu.

Nah, lalu bagaimana cara melakukan tayamum? Pertama, kamu harus membaca niat tayamum,

baca juga:

Nawaitut tayammuma li istibaahatish-shaalati fardhal lillahi ta’aala.

"Aku niat melakukan tayamum agar dapat mengerjakan salat fardu karena Allah ta'ala."

Setelah itu letakkan kedua telapak tangan pada benda atau tempat berdebu yang suci, kemudian kedua terlapak tangan tersebut ditiup atau ditepukkan dan diusapkan pada punggung telapak tangan kanan kemudian punggung telapak tangan kiri. Setelah itu usap wajah dengan kedua tangan. Usapan-usapan tersebut dilakukan sebanyak satu kali.

Sebelum melakukan salat, kamu juga harus memastikan arah kiblat yang tepat. Kamu bisa menggunakan aplikasi penentu arah atau kompas. Jika tidak ada, kamu bisa melihat matahari sebagai patokan arah mata angin atau melihat bayang-bayangmu. Kamu juga bisa mengamati lumut yang tumbuh di pepohonan. Sisi batang pohon yang terdapat lumut kering dan terkena sinar matahari akan menunjukkan bagian barat.

Melakukan aktivitas ini terkadang membutuhkan waktu yang tidak sedikit, bahkan bisa berhari-hari. Apakah seseorang yang mendaki gunung dapat melakukan salat secara jama’ dan qashar?

Hukum qashar sendiri erat kaitannya dengan safar atau melakukan perjalanan. Beberapa ulama memiliki pendapat yang berbeda terkait hal ini. Ada yang mengatakan bahwa hukum qashar merupakan wajib, sunah muakkad, ada pula yang mengatakannya mubah. Namun, pada intinya orang yang boleh melakukan qashar adalah musafir.

“Saya sering menyertai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam perjalanan, dan beliau melaksanakan salat tidak lebih dari dua rakaat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Sedangkan jama’ boleh dilakukan selama ada sebab yang mengakibatkan seseorang tersebut kesulitan melaksanakan salat sesuai dengan waktunya. Beberapa di antaranya yang boleh melakukan jama’ adalah orang yang sedang melakukan perjalanan atau safar.

Namun jika memungkinkan melaksanakan salat tepat waktu dan tidak ditemui kesulitan seperti yang telah disebutkan, maka salatlah seperti salat pada keadaan biasa.

Nah, itulah beberapa poin yang bisa diperhatikan ketika mendirikan salat saat sedang mendaki gunung.

Wallahu’alam.[]