Olahraga

Hobi Lobi-lobi Selamatkan LADI dari Sanksi WADA

Roy Suryo beberkan sejarah Indonesia hampir kena sanksi tapi gagal karena lobi


Hobi Lobi-lobi Selamatkan LADI dari Sanksi WADA
Thomas Cup (Instagram)

AKURAT.CO, Lembaga Anti Doping Indonesia (LADI) disorot habis-habisan usai bendera Indonesia tak bisa berkibar saat seremonial juara Thomas Cup 2020 (2O21) di Ceres Arena, Aarhus, Denmark, Minggu (17/10/2021).

Indonesia tanpa bendera Merah Putih di Thomas Cup imbas sanksi dari Badan Anti Doping Dunia (WADA) yang menyatakan Indonesia tidak patuh dalam menerapkan program uji coba doping.

Pelarangan pengibaran bendera negara di berbagai ajang olahraga jadi salah satu sanksi yang dijatuhkan karena LADI mengabaikan program uji doping pada 2020 dan 2021 dari WADA. Kelalaian ini pun mengundang berbagai reaksi dan sorotan, termasuk salah satunya dari Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) periode 2013-2014 Roy Suryo.

"Kejadian ini adalah yang kedua kalinya. Yang pertama di bulan November 2016, LADI di-banned WADA," kata Roy saat dihubungi, Senin (18/10/2021).

Pada saat itu, kata Roy, Indonesia masuk ke dalam daftar negara yang tidak patuh dan dinilai telah melakukan tes doping di laboratorium yang tidak terakreditasi WADA. Beruntung, Indonesia masih bisa terhindar dari sanksi lewat berbagai upaya sebelum tenggat waktu.

Keputusan WADA bagi Indonesia itu tercantum lewat surat yang ditujukan kepada Menpora Imam Nahrawi dan ditandatangani Direktur Jenderal WADA Olivier Niggli per 17 Februari 2017. Surat itu juga ditembuskan ke Ketua LADI terdahulu, yakni Zaini Saragih.

"Alhamdulillah hanya hitungan dua bulan selesai dilobi oleh Pemerintah waktu itu, apalagi 1,5 tahun menjelang Asian Games di Indonesia, bisa-bisa ambyar kalau kena sanksi saat itu," imbuh Pakar Telematika tersebut.

WADA, menurut Roy, memang sangat ketat mengontrol para anggotanya, termasuk tiap agenda evaluasi yang berlangsung Maret sampai Mei setiap tahunnya.

"Pernah ada kejadian yang dianggap berpotensi masalah, itu terjadi di malam Lebaran 2021. Dan lagi-lagi dalam hitungan hari bisa dilobi karena deadline tanggal 31 Mei 2021," beber Roy.

Termutakhir, Indonesia terimbas sanksi WADA kepada LADI yang tak mengirimkan sampel doping dengan dalih ketiadaan event olahraga akibat pandemi Covid-19. Bagi Roy, alasan tersebut tak bisa diterima karena negara lain yang juga sempat menerima peringatan, pada akhirnya mampu menuntaskan program ini.

"Menurut saya tidak harus menyalahkan atau jangan menyalahkan pandemi sebagai alasan ini, karena itu nanti justru bisa menjadi alasan pemberat bagi Indonesia karena dianggap negara lain toh juga mengalami pandemi dan mereka bisa," ucapnya.

Namun, sanksi terlanjur dijatuhkan kepada LADI pada 7 Oktober 2021 lalu. Imbasnya kepada negara, selain pelarangan pengibaran bendera di berbagai ajang olahraga selain Olimpiade, Indonesia juga disebut tidak memenuhi syarat menjadi tuan rumah dalam kejuaraan tingkat regional, kontinental, atau dunia.

Dalam catatan Roy, WADA meski tegas tetapi bisa diajak komunikasi. Dia mengklaim Laboratorium Anti Doping yang ia bangun bersama British Anti Doping di lingkungan ITB 2013 silam berhasil mengambil hati WADA untuk membuktikan keseriusan Indonesia dalam memerangi penggunaan doping.

Hanya saja, Roy berharap Indonesia tak lagi mengandalkan lobi-lobi seperti yang sudah-sudah. Dirinya lebih mendukung Menpora sekarang, Zainudin Amali guna melakukan evaluasi menyeluruh terhadal LADI dan Komite Olimpiade Indonesia (KOI).

"Penyelesaian dengan lobi-lobi ini sebenarnya jangan jadi kebiasaan, karena seharusnya Indonesia patuh aturan. Makanya saya support Menpora untuk tegas dan lakukan evaluasi menyeluruh terhadap LADI yang sudah 3 kali ganti kepengurusan dalam setahun kemarin dan juga KOI," imbuhnya.

"Kasihan atlet-atlet kita, jangan biarkan kebanggaan kita semua itu jadi terkurangi seperti semalam gara-gara ada yang salah urus dan menganggap persoalan-persoalan 'bisa diatur' dengan lobi-lobi seperti biasa," pungkasnya. []