Lifestyle

Hoax Bikin Banyak Ibu Tak Beri ASI kepada Si Kecil Selama Pandemi

Pemberian ASI kepada Si  Kecil justru berkurang selama pandemi Covid-19. Ternyata hoax membuat banyak ibu khawatir memberikan ASI untuk Si Kecil


Hoax Bikin Banyak Ibu Tak Beri ASI kepada Si Kecil Selama Pandemi
Ilustrasi ibu menyusui bayi (Freepik.com)

AKURAT.CO, Air susu ibu atau ASI adalah asupan dan nutrisi utama untuk bayi yang baru lahir. Selama enam bulan pertama, Mom wajib memberikan Si Kecil ASI secara eksklusif. Sayangnya, pemberian ASI kepada Si Kecil justru berkurang selama pandemi Covid-19.

Hal ini terungkap dalam  studi terkini yang digagas oleh Health Collaborative Center (HCC).

Menurut studi HCC, sebanyak 62 persen tenaga kesehatan sulit mempertahankan ibu menyusui dan pemberian ASI eksklusif. Pendiri HCC, dr. Ray Wagiu Basrowi, menyebutkan jika salah satu faktor terbesar dari kondisi ini adalah hoax. 

"Dari hasil penelitian kami, sebanyak 62 persen dokter, bidan, dan tenaga kesehatan layanan primer lainnya, sulit mempertahankan ibu menyusui dan memberikan ASI eksklusif selama masa pandemi," ujar dr. Ray Wagiu Basrowi saat konferensi pers virtual Hasil Penelitian Kesiapan Tenaga Kesehatan Menyukseskan ASI Selama Pandemi oleh Health Collaborative Center (HCC), Rabu, (4/8/2021).

“Ibu-ibu sekarang lebih percaya hoax di grup WhatsApp atau Instagram. Dokter atau bidan tidak lagi dipercaya,” jelasnya. 

"Sudah ada layanan konselor laktasi, tapi ternyata ibu- ibu ini lebih percaya informasi di handphonenya. ‘Ini saya dapat dari WA, atau forward-an kalau menyusui ASI bisa menularkan COVID-19’. Hal- hal ini yang perlu kita tangani. Pemerintah wajib punya kebijakan ketat dalam mengatur hoaks," kata Ray lagi. 

Para ibu menyusui kerap kali termakan hoax yang menyatakan bahwa menyusui bisa menularkan virus Corona kepada SI Kecil. Selain itu, banyak juga yang percaya bahwa ASI dari ibu yang telah divaksin Covid-19 menjadi berbahaya. Informasi-informasi ini  tentu sangat disayangkan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) serta beberapa penelitian lain padahal telah membbuktikan keamanan ibu positif Covid-19 untuk menyusui anaknya. Bahkan, penelitian tersebut menunjukkan bahwa ASI ibu yang terpapar Covid-19 justru memiliki antibodi spesifik yang dapat melindungi bayi.

"Menurut WHO, malah dari ASI ibu itu ada antibodi yang melindungi dari Covid. WHO menekankan secara langsung itu tidak apa-apa. Kalau ragu-ragu, kan cuman 10 hari isoman, itu dipompa. Jadi pompa dulu, kalau ada gejala berat, bayinya tetap bisa disusui tapi jangan ada kontak verbal," tutur Ray Wagiu.

Selain masalah hoax, HCC menemukan empat faktor lainnya yang menyebabkan turunnya pemberian ASI kepada bayi selama pandemi Covid-19: 

  • 57 persen fasilitas kesehatan layanan primer tidak memiliki pelayanan antenatal care daring atau telemedicine selama pandemi Covid-19.
  • Tenaga kesehatan di layanan primer tidak pernah mendapatkan pelatihan menyusui khusus manajemen laktasi untuk pandemi Covid-19.
  • Tidak tersedia informasi mengenai menyusui yang aman selama pandemi di fasilitas kesehatan.
  • Fasilitas kesehatan primer tidak memiliki fasilitas menyusui khusus pasien Covid-19.

 “Selama pandemi Posyandu ditutup, kelas ibu hamil dan menyusui di Puskesmas juga ditutup sementara karena harus fokus pada penanganan Covid-19 dan agar ibu hamil maupun ibu menyususi tidak terpapar Covid-19, sehingga layanan kesehatan untuk ibu hamil dan menyusui bukan prioritas ternyata,” tukas Ray. 

Bertepatan dengan Pekan ASI Sedunia 2021, Ray pun berharap pemerintah bisa ambil bagian dalam mengatasi masalah ini, sehingga ibu hamil dan menyusui bisa tetap memberikan ASI eksklusif pada Si Kecil meski pandemi Covid-19 masih berlangsung. 

“2045 itu nasibnya ada di tangan bayi dan anak- anak yang saat ini ada. Bonus demografi itu bisa maksimal jika pemberian ASI juga maksimal, karena banyak penelitian membukti pemberian ASI kepada anak membantu dalam hal pengembangan SDM secara optimal. Jadi untuk bisa mendapat manfaat itu, pemerintah perlu melindungi para ibu hamil dan menyusui untuk menekankan pentingnya ASI dan sistem kesehatan mereka sehingga bisa menyukseskan masa depan,” tutupnya.[]