News

HNW: Ramadan Buktikan Islam Ajarkan Moderasi Beragama, Bukan Radikalisme

Ajaran Islam di bulan Ramadhan ini yang paling utama adalah berpuasa yaitu internalisasi nilai dan ideologi.


HNW: Ramadan Buktikan Islam Ajarkan Moderasi Beragama, Bukan Radikalisme
Wakil Ketua MPR RI, Hidayat Nur Wahid (DOK. HUMAS MPR RI)

AKURAT.CO, Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) menuturkan, selama bulan Ramadhan umat diajarkan untuk praktekkan ibadah murni dan kegiatan ibadah sosial. Baik oleh umat Islam di Indonesia, maupun di seluruh dunia.

Hal itu menurutnya semakin menunjukan bahwa agama Islam mengajarkan moderasi dan toleransi, bukan radikalisme atau ekstremisme yang selama ini dituduhkan para penganut Islamophobia.

“Kegiatan sosial yang dilakukan sebagai bagian ibadah di bulan Ramadan mengkoreksi pandangan para Islamophobia bahwa Islam itu anti-sosial, tidak bisa membaur, kerap mengkafirkan dan membidahkan," ujar HNW sebagaimana yang dikutip AKURAT.CO dari keterangan tertulis, Selasa (4/5/2021).

HNW mengatakan, selama ini agama Islam kerap menjadi sasaran serangan Islamophobia yang menuduh bahwa Islam itu radikal, ekstrem, teroris, eksklusif, dan intoleran, dengan hanya melihat segelintir orang yang mengaku beragama Islam dan melakukan tindakan yang tercela.

“Seharusnya yang dilihat bukan perilaku segelintir orang yang tidak mencerminkan ajaran Islam itu, tetapi justru mayoritas umat Islam di dunia yang selalu berupaya berkontribusi kepada masyarakat,” tuturnya.

Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera (PKS) ini menuturkan bahwa ajaran Islam di bulan Ramadhan ini yang paling utama adalah berpuasa yaitu internalisasi nilai dan ideologi saling menjaga serta mengalahkan emosi, ego, dan hawa nafsu.

“Implementasi ini dalam konteks ibadah selama bulan Ramadan, sudah dilakukan bukan hanya dalam tataran personal, tetapi juga ditunjukan dalam berbagai kegiatan sosial yang berskala nasional bahkan internasional,” terangnya.

HNW mencontohkan selain berpuasa, selama Ramadhan juga ada kegiatan zakat yang mengajarkan saling peduli dan saling membantu kepada rakyat miskin (dhuafa), takjil (hidangan buka puasa) di jalan yang mengajarkan tentang guyub dan rukunnya sesama warga, hingga tarawih di masjid yang tidak lagi memiliki sekat-sekat di kalangan umat.

“Dengan pelaksanaan prokes Covid-19 yang ketat, masjid-masjid menyelenggarakan ibadah tarawih secara terbuka dan toleran, di mana yang datang sebagai jamaah adalah umat dari berlatar belakang Ormas atau Madzhab apapun. Ada yang salat tarawih dan witir 23 rakaat dan ada yang 11 rakaat. Mereka tetap menjaga ukhuwah Islamiyah dan ukhuwah Watoniyah,” jelasnya.

Dia mengatakan, praktek beragama seperti ini merupakan tradisi yang telah dicontohkan oleh para founding parents bangsa Indonesia sejak dulu. Dalam konteks sejarah, setidaknya ada banyak ajaran Islam dan peristiwa penting di dalam Islam yang melekat dalam sejarah bangsa Indonesia.

"Karena proklamasi Kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia itu ternyata juga dikumandangkan pada tgl 9 Ramadan 1364 Hijriah,” pungkasnya.[]

Melly Kartika Adelia

https://akurat.co

0 Komentar

Tinggalkan komentar

Untuk komentar, silahkan terlebih dahulu