Ekonomi

Hingga 30 Juni 2021, OJK Bilang Ada Peningkatan Dana SCF Capai 52,1%

OJK sebut jumlah dana berhasil dihimpun hingga akhir Juni 2021 naik 52,1% (ytd) menjadi Rp290,82 miliar dari posisi akhir Desember 2020 Rp191,2 miliar


Hingga 30 Juni 2021, OJK Bilang Ada Peningkatan Dana SCF Capai 52,1%
Ilustrasi - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) (AKURAT.CO/Ryan)

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyatakan pasca diterbitkannya POJK Nomor 57/POJK.04/2020 tentang Penawaran Umum Efek Melalui Layanan Urun Dana Berbasis Teknologi Informasi atau Securities Crowfunding (SCF), jumlah dana yang berhasil dihimpun hingga akhir Juni 2021 naik 52,1% (ytd) menjadi Rp290,82 miliar dari posisi akhir Desember 2020 Rp191,2 miliar.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK Hoesen mengungkapkan hingga 30 Juni 2021, total penyelenggara yang mendapatkan izin dari OJK bertambah menjadi lima pihak.

Di samping itu, jumlah penerbit atau pelaku UMKM yang memanfaatkan SCF juga mengalami pertumbuhan sebanyak 24,8% (ytd) menjadi 161 penerbit.

Sedangkan dari sisi pemodal, lanjutnya, juga mengalami pertumbuhan 54,53% (ytd), dari sebelumnya hanya berjumlah 22.341, menjadi sebanyak 34.525 investor.

"Untuk itu, kami sangat mengapresiasi rekan-rekan Asosiasi Layanan Urun Dana Indonesia atau ALUDI yang terus berkomitmen mendukung pengembangan industri ini, dan kami mengimbau agar semua pihak termasuk para sarjana ekonomi untuk turut berpartisipasi aktif dalam menumbuhkembangkan SCF ini demi kemajuan UMKM dan perekonomian Indonesia," ucapnya pada saat webinar Webinar Securities Crowdfunding "Alternatif Pendanaan bagi UMKM" di Jakarta, Selasa (3/8/2021). 

Pada awalnya, tambahnya, kegiatan fintech crowdfunding diatur dalam POJK Nomor 37 tahun 2018 tentang Layanan Urun Dana Melalui Penawaran Saham Berbasis Teknologi Informasi atau sering disebut Equity Crowdfunding/ECF. Setelah OJK melakukan evaluasi, kegiatan ECF tersebut ternyata masih memiliki banyak keterbatasan, diantaranya jenis pelaku usaha harus berbadan hukum Perseroan Terbatas (PT) dan jenis efek yang dapat ditawarkan hanya berupa saham.

Sebagai gambaran, sampai dengan akhir Desember 2020, jumlah penerbit/pelaku UMKM yang memanfaatkan ECF dari empat penyelenggara, baru mencapai 129 penerbit (perusahaan) dengan jumlah dana yang dihimpun mencapai Rp191,2 miliar.

Jika dibandingkan dengan total jumlah UMKM yang ada di Indonesia, yang menurut data Kemenkop UKM tahun 2018 telah mencapai 64 juta pelaku usaha, jumlah penerbit tersebut masih terbilang sangat sedikit.

Berkaca dari evaluasi yang telah dilakukan, khususnya terkait dukungan OJK terhadap UMKM, OJK memutuskan untuk mencabut POJK Nomor 37 tahun 2018 dan menggantinya dengan POJK Nomor 57 tahun 2020.