News

Hindari Stigma, WHO Ubah Nama Varian Corona UK dan Negara Lain dengan Alfabet Yunani 

Hindari Stigma, WHO Ubah Nama Varian Corona UK dan Negara Lain dengan Alfabet Yunani 


Hindari Stigma, WHO Ubah Nama Varian Corona UK dan Negara Lain dengan Alfabet Yunani 
Oleh WHO, varian corona dari India, B.1.617.2 diganti dengan nama 'Delta'. (CNBCTV18)

AKURAT.CO, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengumumkan sistem penamaan baru untuk varian COVID-19.  Seperti diwartakan BBC, WHO akan menggunakan alfabet Yunani untuk merujuk varian yang pertama kali terdeteksi di negara-negara seperti Inggris, Afrika Selatan, dan India.

Varian Inggris, B.1.1.7 misalnya mulai sekarang akan diberi label sebagai 'Alfa'. Sementara varian Afrika Selatan, B.1.351 berubah menjadi 'Beta', dan jenis corona di Brasil, P.1 sebagai 'Gama'. Lalu varian corona dari India, B.1.617.2 diganti dengan nama 'Delta'.

WHO mengatakan bahwa langkah ini bertujuan untuk menyederhanakan diskusi publik tentang varian COVID-19. Selain itu, diharapakan juga bahwa langkah ini bisa membantu menghilangkan stigmatisasi negara-negara tempat varian pertama kali terdeteksi.

Dalam pernyataannya, WHO juga menyerukan agar outlet-outlet media dan otoritas nasional untuk mengadopsi label baru tersebut.

"Hari ini, WHO telah mengumumkan sistem penamaan baru untuk varian kunci COVID19. Label didasarkan pada alfabet Yunani (yaitu Alfa, Beta, Gamma, dll), membuatnya sederhana, mudah diucapkan dan diingat. Label-label (baru) itu tidak menggantikan nama ilmiah yang ada, yang menyampaikan informasi ilmiah penting dan akan terus digunakan dalam penelitian. Sistem penamaan bertujuan untuk mencegah pemanggilan varian COVID-19 oleh tempat di mana mereka terdeteksi, yang menstigmatisasi & diskriminatif," cuit WHO dalam Twitternya.

Pemimpin teknis COVID-19 WHO, Maria Van Kerkhove juga telah menuturkan hal yang sama. Melalui Twitternya, Van Kerkhove mengatakan bahwa negara yang melapor varian harusnya tidak distigmatisasi. 

"Hari ini, @WHO mengumumkan label baru yang mudah diucapkan untuk varian SARSCoV2 yang jadi perhatian utama (VOC) dan varian yang menarik perhatian (VOI). Mereka tidak akan menggantikan nama ilmiah yang ada, tetapi ditujukan untuk membantu diskusi publik tentang VOI/VOC. Tidak ada negara yang harus distigmatisasi karena mendeteksi dan melaporkan varian," kata Van Kerkhove sembari menyerukan diadakannya pengawasan ketat varian, dan pembagian data ilmiah untuk membantu menghentikan penyebaran.

Langkah WHO untuk memberi varian nama dengan huruf Yunani muncul tidak lama setelah pemerintahan India memprotes tentang penyebaran varian B.1.617.2 sebagai 'varian India'. Meski dalam hal ini, WHO sendiri tidak pernah secara resmi melabeli hal itu. 

Pada waktu bersamaan, Presiden AS Joe Biden juga memutuskan untuk menandatangani undang-undang kejahatan kebencian yang bertujuan melindungi orang Amerika keturunan Asia yang mengalami lonjakan serangan selama pandemi COVID-19. Kelompok anti-ekstremisme AS mengatakan jumlah serangan dan kejahatan kebencian terhadap orang Amerika keturunan Asia telah meledak sejak awal krisis. Menurut laporan, hal ini ikut dipicu karena mantan Presiden Donald Trump kerap menyebut COVID-19 sebagai 'virus China'.

Pilihan alfabet Yunani datang setelah berbulan-bulan pertimbangan ahli untuk mengganti nama varian virus corona. Sebelumnya, ada wacana untuk menggunakan nama-nama seperti Dewa Yunani atau mungkin nama pseudo-klasik, seperti diungkap oleh bakteriolog Mark Pallen. Namun, hal tersebut kemudian tidak tercapai lantaran banyak dari mereka yang sudah menjadi merek dagang, perusahaan, atau nama asing. Gagasan lain adalah penggunaan nama VOC1, VOC2, dan sebagainya. Namun, pilihan ini disingkirkan setelah cara bacanya menyerupai 'umpatan' bahasa Inggris.

Secara historis, virus sering dikaitkan dengan lokasi asal muasal virus tersebut seperti Ebola yang dinamai menurut nama sungai Kongo.

Namun, menurut Al-Jazeera, cara penamaan itu akhirnya dapat merusak nama baik tempat asal, dan kadang tidak akurat. Contohnya, dunia menyebut pandemi 'Flu Spanyol' 1918 meski pada kenyataannya, asal-usulnya virus hingga kini belum diketahui secara pasti. []