Rahmah

Hindari Egoisme Spiritual, Prof Nasaruddin Umar: Habluminallah dan Habluminannas Harus Seimbang

Egoisme spiritual ialah ketika seseorang tidak peduli terhadap lingkungannya, dan lebih mementingkan dirinya dekat dengan Allah SWT.


Hindari Egoisme Spiritual, Prof Nasaruddin Umar: Habluminallah dan Habluminannas Harus Seimbang
Prof Dr KH Nasaruddin Umar (LiputanIslam)

AKURAT.CO  Saat ini, hampir semua negara di seluruh dunia masih berusaha keluar dari terjangan pandemi Covid-19. Indonesia adalah salah satunya. Pemerintah Indonesia sudah melakukan segala cara agar memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Sebagai umat Islam, menjadi kewajiban bagi setiap orang untuk menaati peraturan yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah.

Namun yang terjadi saat ini masih banyak umat Islam yang mengabaikan himbauan tersebut. Banyak jargon-jargon yang keluar seperti , “Kami tidak takut pada Virus. Kami hanya takut pada Allah” dan "Jangan tinggalkan masjid" masih sering terdengar di kalangan umat Islam. 

Mereka melakukan aktivitas sehari-hari tanpa memperdulikan masalah sosial. Dengan kata lain dapat diartikan sebagai orang yang memiliki sifat egoisme terhadap ajaran agama.

Cendekiawan Muslim Prof KH Nasaruddin Umar mengatakan egoisme spritual dapat diartikan secara sederhana yaitu orang terlalu menekankan habluminallah tetapi tidak mau tahu tentang hubungannya habluminannas. 

Padahal di dalam Al-Qur'an sudah dijelaskan dalam Surah Al Maun yang artinya:

Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang.

1. Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?

2. Maka itulah orang yang menghardik anak yatim,

3. dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.

4. Maka celakalah golongan yang salat,

5. (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap shalatnya,

6. yang berbuat ria,

7.dan enggan (memberikan) bantuan.

Prof Nasar memaparkan sebagus apapun kualitas spiritual seseorang jika tidak mengindahkan habluminannas itu maka disebut egoisme spiritual. Atas nama kecintaannya terhadap Allah SWT, atas nama pahalanya ingin dilakukan dengan begitu baik.

"Orang tersebut tidak peduli apa suruhan pemerintah tentang protokol kesehatan, maka mereka itu tetap nekat pergi walaupun itu ke masjid. Padahal pemerintah sudah umumkan dalam posisi yang sangat krusial ini," ujar Guru Besar UIN Jakarta itu.

Lebih lanjut Prof Nasar menerangkan tentang falsafah atau kaidah usul fiqh Dar'ul mafasid muqaddamun ala jalbil mashalih. (Mencegah bahaya itu lebih utama daripada mengejar manfaat).

"Kita memang dapat pahala banyak. Tetapi begitu kita pulang, jangan-jangan bukan hanya pahala yang kita peroleh tapi juga kita mendapatkan penyakit yang kita peroleh dari tetangga-tetangga atau jamaah yang lain," kata Imam Besar Masjid Istiqlal tersebut.

Prof Nasar menambahkan bahwa beragama yang benar adalah mendahulukan yang wajib baru yang sunah. Jangan kemudian dibalik, yaitu mendahulukan yang sunah lalu sesuatu yang wajib diakhirkan.

"Jadi ego spiritual ini ialah seseorang manakala tidak peduli lingkungannya yang penting dirinya dekat dengan Allah SWT. Habluminallah sukses tapi habluminannas yang gagal," tambah Prof Nasar.

Prof Nasar kemudian menyarankan untuk menjadi hamba yang sejati, yang mampu menyeimbangkan antara habluminallah dan habluminannas.[]