News

Hina Islam dan Promosikan LGBT di Malaysia Siap Kena Hukum

Amandemen hukum pidana syariah diusulkan sebagai tanggapan di unggahan media sosial


Hina Islam dan Promosikan LGBT di Malaysia Siap Kena Hukum
Ilustrasi Bendera LGBT (pixabay.com)

AKURAT.CO, Satuan tugas pemerintah Malaysia pada hari Kamis (24/6) mengusulkan amandemen hukum syariah yang akan memungkinkan tindakan diambil terhadap pengguna media sosial karena menghina Islam dan 'mempromosikan gaya hidup LGBT', dikutip dari Reuters.

Sodomi dan tindakan sesama jenis adalah ilegal menurut hukum Islam di Malaysia yang mayoritas Muslim, meskipun hukuman jarang terjadi.

Amandemen hukum pidana syariah diusulkan sebagai tanggapan atas unggahan media sosial yang merayakan komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender sebagai bagian dari Bulan Kebanggaan pada bulan Juni, jelas Wakil Menteri yang bertanggung jawab atas urusan agama Ahmad Marzuk Shaary dalam sebuah pernyataan.

“Kami menemukan pihak-pihak tertentu mengunggah status dan gambar yang menghina Islam di media sosial dalam upaya mereka mempromosikan gaya hidup LGBT,” katanya.

Dari total penduduk 32 juta orang, lebih dari 60 persen populasi adalah Muslim etnis Melayu.

Ahmad Marzuk mengatakan, undang-undang yang diusulkan akan memungkinkan badan penegak untuk mengambil tindakan terhadap setiap Muslim 'yang menghina agama Islam' dan melakukan tindak pidana syariah lainnya 'dengan menggunakan fasilitas jaringan, layanan jaringan atau layanan aplikasi'.

Satgas pemerintah yang ditujukan untuk menangani masalah LGBT juga akan mengidentifikasi kendala yang dihadapi pejabat dalam mengambil tindakan dan menghasilkan pedoman penanganan pengaduan, tambahnya.

Gugus tugas tersebut termasuk perwakilan dari Departemen Pengembangan Islam, Kementerian Komunikasi dan Multimedia, Kejaksaan Agung dan polisi.

Usulan itu muncul di tengah kekhawatiran atas meningkatnya intoleransi terhadap komunitas LGBT di Malaysia dalam beberapa tahun terakhir.

Pada 2019, seorang menteri dan kelompok Muslim lainnya memprotes setelah aktivis LGBT menghadiri pawai untuk Hari Perempuan Internasional. []